Jejak Asal Foto Kini Bisa Dilacak, Content Credentials Bantu Lawan Deepfake

Bagi fotografer yang ingin membuktikan bahwa sebuah gambar benar-benar berasal dari proses pemotretan asli, Content Credentials menawarkan pendekatan yang berbeda dari sekadar mendeteksi foto palsu. Sistem ini menempelkan riwayat digital pada file gambar sejak awal, sehingga asal-usul dan perubahan yang terjadi setelahnya tetap tercatat.

Di tengah derasnya foto hasil AI dan deepfake, pendekatan seperti ini dianggap semakin penting. Saat tampilan visual saja tidak lagi cukup untuk meyakinkan publik, jejak asal-usul yang jelas bisa membantu menjaga kepercayaan terhadap sebuah foto.

Berbeda dari alat yang mencoba menebak mana gambar buatan dan mana yang asli, Content Credentials berfokus pada bukti. Teknologi ini dibangun oleh Coalition for Content Provenance and Authenticity atau C2PA, organisasi lintas industri yang ikut didirikan Adobe.

Inti sistemnya adalah manifest yang melekat pada gambar. Manifest itu dapat menunjukkan bahwa foto memang berasal dari kamera, lalu mencatat perubahan editorial yang terjadi sesudahnya.

Informasi yang tersimpan tidak berhenti pada status asli atau tidak asli. Riwayat itu bisa memuat model kamera, pengaturan pemotretan, dan waktu pengambilan gambar, lalu ikut berkembang ketika file masuk ke tahap pengeditan.

Saat foto diedit, sistem dapat mencatat perubahan tonalitas, pemotongan gambar, dan langkah lain dari file awal sampai hasil ekspor. Jejak itu tetap melekat meski file dipindahkan dari satu perangkat lunak ke perangkat lunak lain.

Di dalam sistem ini ada konsep Cryptographic Provenance. Artinya, riwayat dibuat terenkripsi dan bersifat read-only, sehingga catatan yang sudah tersimpan tidak bisa diubah begitu saja.

Pendekatannya sering digambarkan seperti koper EXIF digital yang mengikuti foto ke mana pun file itu pergi. Karena jejaknya ikut terbawa saat gambar diedit dan diekspor kembali, editor maupun audiens dapat memeriksa autentikasi tanpa merusak catatan asal-usulnya.

Verifikasi juga bisa dilakukan lewat logo Adobe CR pada gambar atau melalui pemeriksaan manual di situs Content Credentials. Dengan cara ini, foto tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari sejarah pembuatannya.

Dukungan kamera masih terbatas

Untuk saat ini, Leica M11-P menjadi kamera pertama yang hadir secara komersial dengan dukungan Content Credentials. Di kamera itu, fitur tersebut disebut Leica Content Credentials dan bisa diakses dari menu.

Leica juga menyematkan chip enkripsi untuk membuat manifest pada tiap gambar. Pengguna dapat mengisi dan memperbarui detail hak cipta dengan mudah, lalu informasi itu ikut terbawa ke setiap foto yang diambil.

Dukungan di kamera memang belum luas. Saat ini, penerapan komersial masih terbatas pada Leica M11-P, sementara Nikon tercantum di situs Content Credentials dan telah menyebut rencana penerapan teknologi ini pada Nikon Z9 di masa mendatang.

Bisa dipakai tanpa menunggu kamera baru

Meski dukungan di kamera masih terbatas, fotografer lain tidak harus menunggu perangkat baru untuk mulai memakainya. Content Credentials bersifat open source dan bisa diaktifkan secara manual di Photoshop dan Lightroom melalui Preferences > Technology > Previews, lalu menyalakan Content Credentials (Beta) Export Options.

Setelah aktif, fotografer dapat memasukkan detail mereka sendiri ke dalam gambar. Langkah ini memberi lapisan bukti tambahan saat foto dibagikan secara digital sekaligus membantu membangun otoritas atas karya.

Bagi fotografer olahraga dan berita, fungsi ini terasa sangat relevan karena gambar sering harus diberi penandaan cepat sebelum dikirim ke agensi atau dipublikasikan. Redaktur foto juga dapat lebih mudah memilih gambar yang akan disalurkan lewat wire, terutama saat meliput peristiwa besar.

Relevan untuk film, reportage, dan lapangan

Content Credentials juga berguna untuk fotografi film yang sudah dipindai. Walau data tetap harus dimasukkan secara manual, sistem ini dapat membantu membuktikan bahwa file memang berasal dari foto film, bukan gambar digital yang dibuat menyerupai film.

Dalam konteks kerja lapangan, terutama pada wilayah perang, reportage, dan situasi konservasi, verifikasi menjadi sangat penting. Di area seperti itu, bukti bahwa foto benar-benar diambil di lokasi dapat menentukan tingkat kepercayaan terhadap sebuah gambar.

Karena itu, Content Credentials tidak hanya dipandang sebagai fitur teknis pada kamera atau perangkat lunak. Teknologi ini juga menjadi alat untuk menjaga kredibilitas visual ketika manipulasi gambar bisa dilakukan dengan sangat cepat.

Berita Terkait