Jejak Cincin Einstein di Markarian 501, Dua Lubang Hitam Raksasa Diduga Sedang Menuju Tabrakan

Author: Redaksi Android62

Jika dugaan para astronom ini benar, dua lubang hitam supermasif di galaksi Markarian 501 sedang berada dalam fase saling mendekat dan pada akhirnya bisa bergabung. Sistem ini diperkirakan berjarak sekitar 500 juta tahun cahaya dari Bumi, dan prosesnya berpotensi menghasilkan gelombang gravitasi yang dapat terdeteksi dari Bumi.

Temuan tersebut muncul setelah para peneliti meninjau puluhan tahun data teleskop radio yang sebelumnya membuat objek itu tampak seperti blazar biasa. Hasil analisis justru menunjukkan bahwa pusat galaksi ini kemungkinan menyimpan dua lubang hitam raksasa yang tidak hanya ada berdampingan, tetapi juga saling mengorbit dalam jarak yang sangat dekat untuk ukuran kosmik.

Dari blazar biasa menjadi sistem yang lebih rumit

Blazar dikenal sangat terang karena jet partikel berenergi tinggi mengarah langsung ke Bumi. Dalam banyak kasus, tampilan seperti ini berkaitan dengan satu lubang hitam supermasif di pusat galaksi, sehingga Markarian 501 semula juga masuk dalam kategori tersebut.

Namun, pola pancaran dari objek ini ternyata tidak sepenuhnya cocok dengan penjelasan sederhana itu. Kejanggalan pada sinyal radio mendorong tim menelusuri lebih dari 83 kumpulan data dari jaringan teleskop radio internasional untuk mencari gambaran yang lebih tepat.

Dari pemeriksaan itu, para peneliti menemukan adanya dua jet energi dengan pola yang berbeda. Silke Britzen, salah satu peneliti, menyebut temuan jet kedua itu sangat mengejutkan dan membuat tim ingin segera membagikannya kepada komunitas ilmiah.

Dua massa raksasa yang diduga saling mengitari

Berdasarkan pengamatan yang terkumpul, kedua lubang hitam itu diperkirakan memiliki massa antara 100 juta hingga 1 miliar kali massa Matahari. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa keduanya termasuk objek yang sangat masif, jauh melampaui skala benda langit yang biasa diamati.

Para peneliti juga memperkirakan keduanya mengorbit satu sama lain setiap sekitar 121 hari. Periode ini sangat singkat untuk sistem sebesar itu, sementara jarak antarkeduanya disebut berada pada kisaran 250 hingga 540 kali jarak Bumi ke Matahari.

Dalam skala alam semesta, jarak tersebut tetap tergolong dekat. Tim menilai orbit itu terus menyempit, sehingga keduanya perlahan bergerak menuju penggabungan dan pada akhirnya hanya akan menyisakan satu lubang hitam di pusat sistem.

Britzen menggambarkan gerak itu sebagai “tarian” kosmik yang masih berlangsung. Istilah tersebut merujuk pada hubungan gravitasi yang terus menarik kedua objek raksasa itu semakin rapat dari waktu ke waktu.

Petunjuk lain datang dari cincin Einstein

Salah satu penguat dugaan muncul pada Juni 2022, ketika kedua lubang hitam itu disebut berada dalam posisi sejajar sempurna. Pada saat itu, gravitasi salah satunya membelokkan cahaya dari jet yang lain dan membentuk lingkaran cahaya hampir sempurna.

Fenomena ini dikenal sebagai cincin Einstein, yaitu efek lensa gravitasi saat gravitasi kuat membengkokkan cahaya seperti lensa alami. Bagi para peneliti, kemunculan cincin Einstein menjadi petunjuk tambahan bahwa memang ada dua lubang hitam di pusat objek tersebut.

Bukti semacam ini penting karena membantu membedakan antara pola cahaya yang terlihat aneh dan struktur fisik yang benar-benar ada. Dalam pengamatan objek jauh, beberapa petunjuk yang saling mendukung sering dibutuhkan agar kesimpulan menjadi lebih kuat.

Bila benar bertabrakan, gelombangnya mungkin sampai ke Bumi

Jika kedua lubang hitam itu benar-benar menyatu, peristiwa tersebut diperkirakan akan memunculkan gelombang gravitasi. Gelombang ini merupakan riak pada ruang-waktu yang lahir dari kejadian kosmik yang sangat ekstrem.

Para peneliti menilai gelombang yang dihasilkan bisa lebih kuat daripada yang pernah terdeteksi sebelumnya. Bila sinyal itu mencapai Bumi, detektor yang tersedia berpeluang menangkapnya dan memberi informasi baru tentang perilaku lubang hitam supermasif.

Meski begitu, para ilmuwan menegaskan peristiwa itu tidak akan membahayakan Bumi. Nilai ilmiahnya justru terletak pada kesempatan langka untuk melihat langsung proses penggabungan dua lubang hitam raksasa dari jarak sangat jauh.

Temuan pada Markarian 501 juga membuka jalan untuk memahami salah satu fase paling jarang dalam evolusi galaksi. Dengan pengamatan yang terus berkembang, para peneliti berharap bisa mengikuti perubahan sistem ini dengan lebih rinci, sambil menunggu apakah jejak gelombang gravitasi dari “tarian” kosmik itu benar-benar akan tiba di Bumi.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru