Di tengah wilayah yang kini terpisah laut, Paparan Sunda pernah menjadi daratan luas yang menyimpan jaringan sungai purba. Jalur air inilah yang kini diduga ikut mengantar pergerakan manusia modern awal di Asia Tenggara, bukan hanya lewat pesisir seperti yang selama ini lebih sering dibahas.
Pandangan itu membuat cara membaca mobilitas manusia prasejarah jadi lebih luas. Perpindahan mereka tampaknya tidak bergantung pada satu rute saja, melainkan memanfaatkan beberapa koridor yang saling terhubung, termasuk sungai-sungai besar yang dulu mengalir di daratan yang sekarang sudah tenggelam.
Sungai purba sebagai koridor perpindahan
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, menjelaskan bahwa sistem sungai besar itu terbentuk pada masa Pleistosen. Saat permukaan laut naik, jaringan tersebut terendam dan sebagian besar jejaknya menghilang.
Meski begitu, sungai-sungai purba itu diduga pernah menghubungkan wilayah pedalaman hingga kawasan Wallacea. Di jalur inilah manusia, flora, dan fauna diperkirakan bergerak melintasi lanskap yang kini sudah berubah total.
Migrasi manusia tidak hanya satu jalur
Vida menegaskan bahwa perpindahan manusia modern dari Afrika ke Asia Tenggara tidak berlangsung dalam satu gelombang tunggal. Migrasi itu terjadi bertahap dan memakai rute yang beragam, termasuk jalur pesisir yang selama ini banyak dibahas dalam studi prasejarah.
Teori migrasi pesisir menjelaskan perpindahan manusia melalui kawasan pantai yang kaya sumber pangan dan lebih mudah dilalui. Namun, keberadaan sungai purba di Paparan Sunda menunjukkan bahwa daratan luas itu juga bisa menjadi jalur penting bagi perpindahan manusia awal.
Paparan Sunda saat laut turun
Pada masa glasial, permukaan laut turun drastis dan membentuk daratan penghubung yang sangat luas di Asia Tenggara. Kondisi itu membuat mobilitas manusia purba menjadi lebih leluasa dan membuka rute antarkawasan yang kini dipisahkan laut.
Bagian timur Paparan Sunda menempati posisi yang sangat strategis. Dari wilayah itu, arah pergerakan menghubungkan jalur menuju Wallacea dan Sahul, atau Australia-Papua.
Kalimantan menjadi petunjuk penting
Dalam pembacaan arkeologis, Kalimantan memegang peran kunci untuk memahami arah migrasi manusia awal di kawasan ini. Sejumlah situs di pulau tersebut menunjukkan keberadaan manusia modern sejak sekitar 45.000–30.000 tahun lalu.
Bukti yang ditemukan berupa alat batu, sisa fauna, dan hunian gua. Temuan itu memperkuat gambaran bahwa Kalimantan sudah dihuni pada masa prasejarah awal dan dapat menjadi petunjuk penting tentang lintasan perpindahan manusia di Paparan Sunda.
Jejak yang sulit bertahan
Kajian tentang migrasi manusia awal di Asia Tenggara masih menghadapi banyak kendala. Iklim tropis mempercepat kerusakan bukti biologis, sementara tanah yang asam membuat tulang dan kolagen cepat rusak.
Akibatnya, penanggalan absolut menjadi sulit dilakukan dan banyak jejak migrasi tidak lagi tersisa dalam bentuk fosil yang utuh. Kondisi ini membuat rekonstruksi rute pergerakan manusia purba harus mengandalkan bukti yang masih bertahan dan pendekatan ilmiah yang lebih rinci.
Riset lanjutan untuk membaca ulang sejarah
BRIN mendorong penelitian lanjutan lewat survei geofisika, analisis sedimen, dan metode penanggalan modern. Langkah ini diharapkan membantu membuka kembali gambaran tentang bagaimana manusia awal bergerak di Asia Tenggara.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, menilai tema migrasi manusia prasejarah penting karena berkaitan langsung dengan dinamika awal peradaban di Nusantara. BRIN juga membentuk Center for Human Evolution, Adaptation, and Dispersal in Southeast Asia atau CHEADSEA yang sudah mendapat perhatian resmi dari UNESCO.
Di tengah banyaknya bukti fisik yang hilang karena tenggelamnya daratan dan rapuhnya sisa biologis di wilayah tropis, jaringan sungai purba tetap menjadi petunjuk berharga. Dari sana, sejarah awal manusia di Asia Tenggara masih bisa dibaca ulang melalui arkeologi dan kajian lingkungan purba.
Source: www.cnbcindonesia.com






