Jejak Sampah Manusia Terdeteksi Di 7.500 Meter, Ekspedisi Laut Dalam Gabe Newell Temukan Spesies Baru

Author: Redaksi Android62

Jejak aktivitas manusia ternyata sudah mencapai salah satu titik paling terpencil di planet ini. Dalam ekspedisi laut dalam yang didukung Gabe Newell melalui Inkfish, tim menemukan puing berbahan logam dan kayu pada kedalaman 7.500 meter, dan material itu bahkan sudah dihuni mikroorganisme.

Temuan itu muncul bersamaan dengan hasil lain yang tak kalah mencolok: identifikasi 108 kelompok organisme di zona hadal, termasuk spesies yang belum cocok dengan klasifikasi ilmiah yang ada. Laut terdalam Bumi kembali menunjukkan diri sebagai wilayah yang bukan hanya ekstrem, tetapi juga penuh kehidupan yang belum sepenuhnya dipahami.

Misteri di zona hadal

Riset Inkfish berfokus pada zona hadal, bagian laut yang berada lebih dari 10 kilometer di bawah permukaan. Di kedalaman seperti ini, tekanan air bisa melampaui 1.000 kali tekanan di permukaan, sementara cahaya hampir tak ada dan suhu mendekati titik beku.

Untuk menjangkau wilayah itu, tim mengandalkan DSSV Pressure Drop dan kapal selam Bakunawa. Armada ini membuka akses ke sistem palung yang sebelumnya sangat sulit disentuh manusia, sehingga pengamatan bisa dilakukan lebih dekat dan lebih rinci.

Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa zona hadal bukan ruang kosong. Wilayah itu menjadi rumah bagi ekosistem yang sangat khusus, dengan organisme yang mampu bertahan lewat adaptasi biologis terhadap tekanan ekstrem dan minim cahaya.

Banyak bentuk hidup, sebagian belum terklasifikasi

Dalam rangkaian ekspedisi, tim mendokumentasikan 108 kelompok organisme yang berbeda. Angka ini memperkuat gambaran bahwa laut dalam menyimpan keanekaragaman hayati yang jauh lebih besar dari perkiraan lama.

Di antara temuan yang dicatat ada padang crinoid purba, spons pemakan daging, dan snailfish transparan. Salah satu ikan yang ditemukan juga tercatat hidup pada kedalaman terdalam yang pernah diketahui.

Sebagian organisme itu belum bisa dimasukkan ke kerangka klasifikasi ilmiah saat ini. Situasi ini menandakan bahwa pemahaman tentang evolusi kehidupan di lingkungan ekstrem masih terbuka lebar.

Geologi dan kehidupan saling terkait

Ekspedisi ini tidak hanya menyoroti makhluk hidup, tetapi juga hubungan erat antara geologi dan ekosistem laut dalam. Tim meneliti wilayah yang terdampak gempa Tohoku 2011 dan menemukan populasi spoon worm yang padat di celah patahan.

Temuan itu menunjukkan bahwa gangguan bawah laut tidak selalu hanya membawa kerusakan. Dalam kondisi tertentu, peristiwa seismik justru dapat menciptakan habitat baru bagi organisme tertentu.

Di Boso Triple Junction, wilayah aktif tempat lempeng tektonik bertemu, peneliti juga menemukan padang crinoid dengan lebih dari 1.500 sea lilies. Data ini memberi gambaran bahwa pergeseran kerak Bumi ikut membentuk pola sebaran kehidupan di dasar samudra.

Teknologi yang membuka akses ke kedalaman

Selain Pressure Drop dan Bakunawa, armada riset yang terkait dengan operasi ini juga mencakup Leviathan dan Dra. Kehadiran kapal-kapal tersebut menandai kemajuan dalam rekayasa tahan tekanan dan navigasi bawah laut.

Kemajuan teknologi ini membuat pengamatan laut dalam menjadi lebih detail daripada sebelumnya. Desain kapal selam, pengumpulan data, dan penginderaan jarak jauh ikut memperluas kemampuan riset di lingkungan yang sangat ekstrem.

Bagi ilmuwan, data dari wilayah ini penting bukan hanya untuk mencatat spesies baru. Informasi tersebut juga membantu memahami batas ketahanan kehidupan di Bumi dan memberi petunjuk tentang proses geologi yang membentuk kerak planet.

Ekspedisi yang didorong Newell lewat Inkfish pada akhirnya memperlihatkan dua kenyataan sekaligus. Laut terdalam masih menyimpan banyak kehidupan yang belum dikenal, tetapi bahkan wilayah yang paling jauh dari permukaan pun tidak lepas dari jejak manusia.

Source: www.geeky-gadgets.com
Berita Terbaru