Australia justru muncul sebagai wakil Asia dengan jalan yang lebih terbuka di fase gugur Piala Dunia kali ini. Runner-up Grup D itu akan berjumpa Mesir di Arlington, Texas, pada Jumat (3/7/2026), dengan peluang yang dinilai lebih seimbang dibanding jalur Jepang.
Secara peringkat FIFA, Australia berada di posisi ke-28, sedangkan Mesir di urutan ke-26. Selisih itu menunjukkan duel yang ketat, tetapi masih memberi ruang bagi Socceroos untuk mengandalkan organisasi permainan yang rapi dan kekuatan kolektif.
Jepang menghadapi ujian paling berat
Di sisi lain, Jepang harus melewati tantangan yang jauh lebih sulit. Samurai Biru dijadwalkan langsung bertemu Brasil, juara Grup C, pada Senin (29/6/2026) di Houston, Texas.
Bagi Jepang, laga ini menjadi pengujian sesungguhnya setelah mereka menunjukkan kapasitas menahan Belanda 2-2 pada laga pembuka. Kedisiplinan taktis dan kerja sama tim menjadi modal utama yang membuat Jepang tetap diperhitungkan.
Namun, Brasil datang dengan status favorit juara dan kekuatan individu yang lebih mencolok. Vinicius Junior telah mencetak empat gol dan satu asis, sementara Matheus Cunha juga menambah daya gedor tim Amerika Selatan itu.
Statistik memperlihatkan jarak yang tidak kecil
Brasil dan Jepang sama-sama sudah mencetak tujuh gol di Piala Dunia kali ini. Tetapi, Brasil terlihat lebih agresif lewat 40 tembakan, sedangkan Jepang baru mencatat 27 tembakan.
Perbedaan itu juga tercermin pada expected goals atau xG. Brasil mencatat 6,19, jauh di atas Jepang yang baru 2,92, sehingga efektivitas serangan Jepang akan sangat menentukan bila ingin memperpanjang langkah Asia.
Penguasaan bola Brasil pun sedikit lebih tinggi, yakni 49 persen dibanding 46 persen milik Jepang. Angka-angka tersebut menegaskan bahwa Jepang tidak hanya butuh organisasi yang rapat, tetapi juga penyelesaian akhir yang nyaris tanpa cela.
Awal turnamen sempat memberi harapan
Meski situasi menjelang fase gugur terlihat berat, tim-tim Asia sempat membuka turnamen dengan hasil yang cukup menjanjikan. Enam wakil AFC tidak terkalahkan pada laga pertama, termasuk Jepang yang menahan Belanda 2-2, Korea Selatan yang menang 2-1 atas Ceko, dan Australia yang menundukkan Turki 2-0.
Qatar dan Arab Saudi juga sempat memetik hasil imbang 1-1 melawan Swiss dan Uruguay. Namun, Irak, Uzbekistan, dan Jordania langsung tumbang sehingga tren positif itu tidak merata di seluruh wakil Asia.
Memasuki laga kedua penyisihan grup, persaingan menjadi lebih keras dan banyak tim Asia kesulitan mempertahankan momentum. Kualitas lawan yang meningkat membuat peluang lolos ke babak berikutnya semakin menyempit.
Iran dan Korea Selatan masih menunggu nasib
Iran dan Korea Selatan masih harus menanti hasil laga terakhir penyisihan grup. Iran berada di peringkat keenam klasemen sementara peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dan selisih gol nol setelah bermain imbang 1-1 melawan Mesir.
Korea Selatan berada dalam posisi yang paling rawan karena menempati peringkat kedelapan atau posisi terakhir peringkat ketiga terbaik. Mereka mengoleksi tiga poin dengan selisih gol minus 1, dan masih bisa tergeser oleh tim lain.
Aljazair masih berpeluang menyalip Korea Selatan jika bermain imbang melawan Austria. DR Congo juga punya kesempatan lewat kemenangan atas Uzbekistan yang sudah tersingkir, sehingga posisi Korsel belum aman.
Dengan skenario itu, peluang wakil Asia di fase gugur masih sangat bergantung pada detail kecil. Jepang harus tampil hampir sempurna untuk menantang Brasil, sedangkan Australia tetap menjadi jalur yang paling realistis agar harapan Asia belum padam.
Source: www.kompas.id






