Kabel Masih Lebih Cerdas, Wireless Charging Ternyata Lebih Boros Dari Dugaan

Author: Redaksi Android62

Pengisian nirkabel memang terasa praktis, tetapi efisiensinya masih kalah jauh dibanding kabel. Dalam banyak situasi, jalur USB-C justru lebih cepat, lebih hemat listrik, dan lebih masuk akal untuk dipakai harian.

Selisih itu muncul karena energi harus melewati lebih banyak tahap saat diisi secara nirkabel. Arus bolak-balik di kumparan charger menciptakan medan magnet, lalu energi ditangkap kembali oleh kumparan di perangkat sebelum diubah menjadi arus searah untuk mengisi baterai.

Rugi energi terjadi di banyak titik

Rangkaian konversi tersebut membuat daya tidak pernah tersalurkan sepenuhnya ke baterai. Saat bekerja pada frekuensi tinggi sekitar 140KHz, Skin Effect juga mengurangi area konduksi efektif pada kabel tembaga kumparan dan membuang sebagian energi menjadi panas.

Itulah alasan ponsel sering terasa hangat setelah dicas secara nirkabel. Panas yang muncul bukan sekadar efek samping kecil, melainkan tanda bahwa sebagian energi berubah menjadi panas, bukan masuk ke baterai.

Posisi perangkat juga sangat menentukan. Jika ponsel tidak diletakkan tepat di atas pad, kecepatan pengisian turun dan kehilangan energi naik.

Format seperti MagSafe dan Qi2 membantu menyelaraskan posisi lewat magnet. Namun, efisiensinya tetap bisa terganggu oleh penghalang, termasuk casing tipis yang menambah hambatan.

Angka kehilangan energi masih besar

Dalam skenario ideal, Qi2 dan pad setara MagSafe masih kehilangan sekitar 12 hingga 20 persen energi. Pada pengisian Qi biasa, kehilangan itu meningkat menjadi 25 hingga 40 persen.

Bandingkan dengan pengisian berkabel USB-C yang umumnya hanya kehilangan sekitar 5 hingga 10 persen energi. Untuk tugas yang sama, kabel jelas lebih hemat dan lebih efisien.

iFixit juga mencatat bahwa charger nirkabel tetap menarik daya saat tidak dipakai. Konsumsi siaga rata-rata sekitar 0,2W, sementara banyak charger berkabel bisa mati total ketika tidak digunakan.

Dalam skala rumah tangga, selisih kecil seperti ini dapat menumpuk. Jika banyak perangkat memakai pengisian nirkabel secara rutin, pemborosan energi ikut bertambah meski tidak selalu terasa pada satu kali pengisian.

Metode Kehilangan Energi Daya Siaga
Qi2 / setara MagSafe 12 hingga 20 persen sekitar 0,2W
Qi biasa 25 hingga 40 persen sekitar 0,2W
USB-C berkabel 5 hingga 10 persen bisa mati total saat tidak dipakai

Kabel masih unggul soal kecepatan

Selain hemat listrik, pengisian berkabel juga lebih cepat. Qi2 dan MagSafe terbaru berada di puncak 25W, sementara kecepatan lebih tinggi hingga 100W biasanya membutuhkan charger khusus pabrikan dengan pendinginan agresif yang cenderung berisik.

Di sisi lain, pengisian berkabel jauh lebih mudah ditemukan dalam kecepatan tinggi. Google Pixel 10 Pro mendukung hingga 30W dengan adaptor yang kompatibel, Samsung Galaxy S26 Ultra mendukung 60W, dan perangkat seperti OnePlus 15 bisa mencapai 80W hingga 100W dengan charger yang sangat proprietary.

Perbedaan itu paling terasa saat baterai hampir habis dan waktu pengisian terbatas. Samsung Galaxy S26 Ultra bisa mencapai 50 persen dalam 15 menit pada 60W, sedangkan pad Qi2 memerlukan sekitar 33 menit.

Jika semalam lupa mengisi daya, selisih itu bisa menentukan apakah ponsel cukup bertahan sampai pulang kerja. Dalam keadaan seperti ini, kabel lebih aman dipilih daripada berharap pada pad nirkabel yang lebih lambat.

Wireless charging tetap punya tempat

Meski boros, pengisian nirkabel tidak otomatis salah untuk semua orang. Di mobil, charger nirkabel bisa membantu saat sedang terburu-buru dan sekaligus membebaskan satu port USB untuk penumpang.

Untuk perangkat yang dipakai bersamaan, charger nirkabel multi-perangkat juga berguna saat ruang kabel terbatas. Selain itu, tidak semua orang nyaman dengan kabel yang mudah tersangkut dan membuat ponsel tertarik jatuh.

Namun, untuk penggunaan harian yang mengejar efisiensi, kabel tetap lebih unggul. Jika yang diprioritaskan adalah waktu singkat, konsumsi listrik lebih rendah, dan pengisian lebih cepat, mencolokkan kabel beberapa detik masih lebih masuk akal daripada bergantung pada charger nirkabel.

Berita Terbaru