Tecno Camon 40 Pro dan Motorola Edge 60 Fusion menjadi dua nama yang paling menonjol ketika kelas HP 3 jutaan mulai berani bermain di level kamera yang biasanya lebih lekat dengan ponsel mahal. Keduanya sama-sama mengandalkan Sony LYT700C, sensor yang membuat persaingan di kelas menengah terasa semakin ketat.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pasar tidak lagi hanya mengejar angka megapiksel besar. Kini, kualitas sensor, OIS, dan kemampuan merekam video 4K ikut menentukan apakah sebuah ponsel layak dipilih untuk foto harian, video singkat, hingga kebutuhan konten yang lebih serius.
Sensor dan OIS jadi penentu baru
Di segmen harga 3 jutaan, Sony LYT-700C muncul sebagai salah satu senjata yang paling sering dibicarakan. Sensor ini dikenal mampu menangkap detail dengan baik, lalu hasilnya terasa lebih stabil ketika dipadukan dengan OIS.
OIS sendiri kini bukan sekadar fitur tambahan. Dalam pemakaian harian, fitur ini membantu mengurangi guncangan saat merekam sambil bergerak atau saat memotret di kondisi cahaya yang kurang ideal.
Kemampuan video 4K juga ikut mengangkat standar di kelas ini. Karena itu, HP 3 jutaan semakin relevan untuk konten kreator pemula, vlogging, dan dokumentasi harian yang butuh hasil lebih rapi.
Lima model yang paling mencuri perhatian
Motorola Edge 60 Fusion menjadi salah satu opsi yang kuat karena membawa sensor Sony LYT700C. Ponsel ini juga menawarkan stabilitas rekaman video yang mumpuni, lalu diperkuat pengisian daya cepat 68 watt untuk pemakaian intensif.
Posisinya ikut menguat setelah mengalami penurunan harga yang signifikan. Kondisi itu membuatnya makin kompetitif di kelas 3 jutaan tanpa mengubah daya tarik utamanya di sektor kamera.
Tecno Camon 40 Pro juga mengandalkan Sony LYT700C. Nilai tambahnya bukan hanya di kamera utama, tetapi juga layar 144 Hz yang mulus serta kamera depan 50 MP dengan autofokus.
Kombinasi tersebut membuat Tecno Camon 40 Pro terlihat menonjol untuk selfie dan vlogging. Dua kebutuhan itu memang semakin banyak dicari di kelas menengah.
Moto G86 Power hadir dengan paket yang cukup seimbang. Perangkat ini membawa sensor Sony LYT600 dengan OIS dan mendukung video 4K yang stabil.
Di bagian layar, ponsel ini memakai pOLED 6,67 inci. Perpaduan layar dan kamera membuatnya menarik untuk pengguna yang ingin pengalaman visual nyaman tanpa mengorbankan sisi fotografi.
Redmi Note 14 Pro 5G mengambil jalur berbeda lewat kamera 200 MP. Model ini lebih cocok untuk pengguna yang mengejar detail ekstrem, terutama saat kondisi cahaya mendukung.
Meski begitu, resolusi tinggi bukan satu-satunya penentu hasil akhir. Di kelas ini, kualitas sensor, pemrosesan gambar, dan kestabilan perangkat tetap sangat berpengaruh pada hasil foto maupun video.
Poco X7 hadir sebagai pilihan yang lebih menyeluruh. Perangkat ini memakai layar AMOLED 1,5K dan dilindungi Gorilla Glass Victus 2, sehingga terasa menarik di sisi tampilan dan ketahanan.
Di dapur pacu, Poco X7 ditenagai Dimensity 7300 Ultra dengan RAM hingga 12 GB. Kombinasi itu membuatnya tetap kompetitif untuk multitasking dan gaming ringan di luar urusan kamera.
Apa yang perlu dipilih pembeli
Kelima model tersebut punya karakter yang berbeda. Ada yang lebih unggul di detail foto, ada yang lebih kuat di video, dan ada pula yang mencoba menyeimbangkan kamera, layar, serta performa.
Karena itu, pembeli perlu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan utama. Jika fokusnya video, OIS dan kestabilan rekaman layak jadi prioritas, sedangkan pengguna yang sering selfie bisa lebih memperhatikan kamera depan.
Bagi yang aktif bermain gim atau multitasking, kamera saja tidak cukup. Chipset, kapasitas RAM, kualitas layar, dan proteksi kaca tetap ikut menentukan pengalaman harian.
Pembaruan sistem operasi juga penting diperhatikan. Dukungan software yang terus berjalan membantu menjaga performa kamera tetap optimal seiring perkembangan pemrosesan gambar pada perangkat.
