Kanal Pinglu kini memasuki tahap pengisian air penuh dan diproyeksikan segera menjadi jalur baru yang mempersingkat arus barang dari China barat daya ke Asia Tenggara. Infrastruktur ini menonjol karena menjanjikan koneksi yang lebih langsung ke laut sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini membebani pengiriman melalui rute lama.
Dengan panjang 134,2 kilometer, kanal di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi itu dirancang untuk menampung kapal hingga 5.000 ton. Kapasitas tersebut menempatkannya sebagai salah satu jalur air pedalaman dengan level tertinggi di China dan membuka peluang besar bagi pengalihan arus kargo regional.
Rute yang dirancang untuk memangkas jarak
Selama ini, kargo dari Yunnan, Guizhou, dan Chongqing banyak bergerak ke arah timur melalui Sungai Xijiang sebelum akhirnya mencapai pelabuhan di Delta Sungai Mutiara. Pola tersebut membuat perjalanan ke pelabuhan ekspor menjadi lebih panjang dan bergantung pada simpul logistik di kawasan Guangzhou.
Kanal Pinglu menawarkan pola baru dengan menghubungkan sistem Sungai Xijiang langsung ke Teluk Beibu. Jalur itu disebut dapat memangkas pelayaran sekitar 560 kilometer dibandingkan rute yang selama ini lebih bergantung pada pelabuhan di kawasan Guangzhou.
Penghematan jarak itu diharapkan mendorong efisiensi transportasi dan menurunkan biaya pengiriman. Selain angkutan sungai, barang dari kereta api, jalan raya, dan jalur air pedalaman juga dapat bertemu di kanal ini sebelum diteruskan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir Teluk Beibu.
Penguatan hubungan dagang China dan ASEAN
Keberadaan kanal ini dipandang penting bagi Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru. Koridor tersebut menjadi jaringan logistik utama yang menghubungkan wilayah barat China dengan pasar global, termasuk Asia Tenggara yang selama beberapa tahun berturut-turut menjadi mitra dagang terbesar China.
Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, menilai kanal itu akan meningkatkan kapasitas angkutan dan efisiensi operasional koridor. Ia mengatakan kondisi tersebut akan memberi kemudahan yang lebih besar bagi pertukaran ekonomi dan perdagangan antara China barat dan perekonomian ASEAN.
Pelabuhan Teluk Beibu pun berada pada posisi yang semakin strategis. Sejak implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP, pelabuhan ini terus memperluas perannya sebagai gerbang ke Asia Tenggara dengan layanan kontainer yang menghubungkan China ke Vietnam, Thailand, Jepang, dan sejumlah negara serta kawasan lain.
Proyek besar dengan arti historis
Pembangunan Kanal Pinglu dimulai pada Agustus 2022 dan sejak awal menarik perhatian karena dinilai mampu mengubah distribusi kargo antara pedalaman China barat daya dan pasar luar negeri. Pada Rabu (3/6), air mulai mengalir di seluruh kanal seiring dimulainya operasi pengisian air di pusat pelayaran Madao dan Qishi menjelang pembukaan yang dijadwalkan pada September.
Proyek ini juga disebut sebagai kanal pertama sejak berdirinya Republik Rakyat China yang direncanakan dan dikoordinasikan di tingkat nasional untuk menghubungkan jalur air pedalaman langsung ke laut. Sejumlah akademisi menilai arti proyek ini melampaui fungsi transportasi karena menunjukkan upaya memperkuat konektivitas melalui infrastruktur yang disesuaikan dengan kondisi geografis setempat.
Ni Yuping, wakil dekan Fakultas Humaniora dan profesor sejarah di Universitas Tsinghua, mengatakan Kanal Pinglu melayani pelayaran domestik sekaligus perdagangan internasional. Menurut dia, kanal tersebut akan membawa Yunnan, Guizhou, dan Chongqing lebih dekat ke pasar ASEAN, sementara biaya transportasi air yang lebih rendah membuat perputaran kargo China-ASEAN menjadi jauh lebih efisien.
Analisis harian Singapura Lianhe Zaobao juga memandang kanal ini bukan sekadar proyek infrastruktur besar. Setelah rampung dan dibuka, kanal tersebut dinilai dapat membentuk ulang lanskap pembangunan Guangxi dan memperkuat keterbukaan wilayah barat China, terutama ketika uji coba berbasis air terus berjalan di sepanjang rute penuh kanal.
