Perlombaan menuju AGI antara OpenAI yang dipimpin Sam Altman dan Elon Musk kini tidak lagi dipandang sekadar adu cepat inovasi. Stuart Russell, pakar kecerdasan buatan dari University of California, Berkeley, menilai dorongan untuk menjadi yang pertama justru membuat keamanan tertinggal di belakang ambisi.
AGI atau kecerdasan buatan umum dipahami sebagai sistem yang mampu memahami, belajar, dan menyelesaikan beragam tugas secara luas seperti manusia. Dalam persidangan yang dikutip TechCrunch, Russell menyoroti bahwa ketegangan antara kecepatan pengembangan dan keamanan telah menjadi masalah utama dalam persaingan ini.
Keamanan dan risiko yang ikut membesar
Russell menegaskan bahwa pengembangan AI tidak bisa dipisahkan dari risiko serius. Ia menyebut ancaman keamanan siber dan persoalan ketidakselarasan sistem sebagai bagian dari bahaya yang perlu diperhitungkan sejak awal.
Menurutnya, industri AGI juga punya sifat “winner-take-all”. Artinya, pihak yang lebih dulu unggul berpotensi menguasai pasar secara dominan, sehingga kompetisi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kendali atas ekosistem yang terbentuk di sekitarnya.
Dalam keterangannya di pengadilan federal, Russell menyampaikan bahwa berbagai risiko itu menyertai perlombaan menuju AGI. Ia dikenal sebagai salah satu akademisi yang kritis terhadap pola kompetisi antarlaboratorium AI yang berlomba mencapai AGI lebih dulu.
Perdebatan bergeser ke model bisnis
Dari sisi OpenAI, pengacara perusahaan berusaha menunjukkan bahwa Russell tidak menilai langsung struktur perusahaan maupun kebijakan keamanan spesifik milik OpenAI. Namun, perdebatan tidak berhenti di soal tujuan teknologi.
OpenAI berpendapat bahwa perubahan menuju model profit diperlukan untuk mendukung kebutuhan daya komputasi yang sangat besar dalam pengembangan AI. Dengan begitu, fokus diskusi ikut bergeser ke soal bagaimana model bisnis menopang biaya besar yang dibutuhkan untuk membangun sistem AI tingkat lanjut.
Di tengah kebutuhan infrastruktur yang mahal, persaingan AGI makin terkait dengan kekuatan modal dan kemampuan mengamankan sumber daya komputasi. Hal ini membuat perlombaan teknologi tersebut semakin dekat dengan persoalan dominasi pasar dan akses terhadap fasilitas komputasi.
Sikap Musk ikut menjadi sorotan
Persidangan ini juga menyoroti sikap Elon Musk yang dinilai kontradiktif. Musk pernah ikut menandatangani surat penundaan riset AI selama enam bulan pada Maret 2023 dengan alasan keamanan, tetapi di saat hampir bersamaan ia juga meluncurkan xAI sebagai laboratorium AI komersial miliknya sendiri.
Dalam pemeriksaan silang, Musk turut memberi pernyataan yang menarik perhatian pasar otomotif dan pemegang saham. Ia menyebut Tesla tidak memiliki rencana untuk mengejar pengembangan AGI secara spesifik, meski perusahaan itu sebelumnya mengumumkan rencana pengeluaran modal sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp433 triliun pada 2026 yang sebagian besar dialokasikan untuk proyek berbasis AI.
“Tesla tidak memiliki rencana untuk mengejar AGI,” ujar Musk saat menjawab pertanyaan dalam pemeriksaan silang. Pernyataan itu menambah sorotan terhadap arah strategi perusahaan-perusahaan yang berada di lingkaran pengaruhnya.
Praktik industri dan dorongan regulasi
Musk juga mengakui bahwa xAI melakukan praktik “distilasi” terhadap teknologi dari OpenAI. Distilasi adalah teknik menggunakan model AI yang lebih kuat untuk melatih model yang lebih kecil dan lebih murah, dan menurut Musk praktik tersebut lazim di industri AI.
Pengakuan itu terasa ironis karena Musk sebelumnya kerap mengkritik kompetitor lain, termasuk Anthropic, dengan tudingan mengambil data tanpa izin. Perbedaan antara kritik di ruang publik dan pengakuan di pengadilan menunjukkan betapa sengitnya persaingan di sektor AI saat ini.
Di level kebijakan, perdebatan tentang AGI mulai merembet ke ranah publik. Para pembuat kebijakan disebut mulai mempertimbangkan regulasi yang lebih ketat terhadap pusat data, seiring meningkatnya kekhawatiran atas dampak ekspansi infrastruktur AI.
Senator Bernie Sanders, misalnya, telah mengusulkan moratorium konstruksi pusat data karena kekhawatiran yang sejalan dengan pandangan para tokoh teknologi. Di tengah itu, persidangan yang sedang berlangsung masih menimbang sejauh mana dorongan bisnis dapat menggeser perhatian dari protokol keamanan AI.
Source: teknologi.bisnis.com






