Keamanan Siber Tak Boleh Jadi Tambahan Belakangan, Sangfor Dorong Desain Sejak Awal

Author: Redaksi Android62

Sangfor Indonesia menilai banyak organisasi masih salah langkah saat beralih ke sistem digital. Di banyak kasus, perhatian utama justru habis untuk membangun infrastruktur, sementara keamanan siber belum disiapkan sejak awal.

Pandangan itu menjadi penting karena transformasi digital tidak hanya membuka peluang baru, tetapi juga memperluas risiko operasional. Jika perlindungan baru dipikirkan setelah sistem berjalan, celah keamanan bisa muncul di berbagai titik.

Keamanan tidak cukup ditempel belakangan

Cyber Security Consultant Sangfor Technologies Indonesia, Akhmad Rezha, menegaskan bahwa keamanan siber tidak seharusnya diposisikan sebagai lapisan tambahan di belakang sistem. Menurut dia, perlindungan harus dibangun sejak awal agar tidak ada celah yang tertinggal ketika infrastruktur sudah aktif digunakan.

Rezha menilai pendekatan seperti itu membuat keamanan lebih menyatu dengan kebutuhan operasional perusahaan. Ia juga menekankan bahwa bisnis yang aman dan berkelanjutan membutuhkan dukungan IT dan OT yang terintegrasi, bukan hanya sistem digital yang berjalan.

Masih banyak organisasi berhenti di pembangunan infrastruktur

Rezha melihat kecenderungan banyak organisasi masih terlalu fokus pada infrastruktur saat masuk ke ranah digital. Akibatnya, perhatian terhadap keamanan sering tertinggal meski risiko dan ancaman ikut berkembang.

Ia menyebut kondisi itu membuat organisasi rentan ketika hanya mengamankan infrastruktur tanpa memperhatikan IT dan OT secara bersamaan. Karena itu, ia mendorong pendekatan terintegrasi agar perlindungan tidak terputus di tengah jalan.

Menurut Rezha, baru pemerintahan dan sektor perbankan yang dinilai memiliki keamanan siber lebih komprehensif. Di luar itu, masih banyak organisasi yang belum menempatkan keamanan sebagai bagian inti dari pembangunan sistem.

Sangfor dorong keamanan yang dibangun sejak desain awal

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Sangfor Indonesia menyiapkan solusi terintegrasi dengan pendekatan by design. Rezha menjelaskan bahwa cara ini ditujukan agar setiap celah keamanan dapat terisi dan terkoneksi end to end bersama IT dan OT.

Sangfor sendiri sejak awal bergerak di bidang keamanan teknologi, lalu berkembang ke infrastruktur dan virtualisasi. Arah perkembangan itu membuat perusahaan menempatkan keamanan dan infrastruktur dalam satu kerangka yang saling mendukung.

Portofolio yang mencakup kebutuhan keamanan dan infrastruktur

Sangfor Technologies dikenal sebagai vendor global untuk solusi infrastruktur TI dengan spesialisasi di Cloud Computing dan keamanan jaringan. Portofolionya mencakup Hyper-Converged Infrastructure, Virtual Desktop Infrastructure, Next-Generation Firewall, Internet Access Management, Endpoint Protection, Ransomware Protection, Managed Detection and Response, serta WAN Optimization dan SD-WAN.

Perusahaan itu juga menekankan bahwa fokus mereka tidak hanya pada perlindungan sistem. Pengalaman pengguna dan kebutuhan bisnis pelanggan ikut menjadi pusat strategi yang dikembangkan.

Relevan di tengah percepatan digital

Isu keamanan siber menjadi semakin penting karena transformasi digital membawa lapisan risiko baru ke dalam operasi bisnis. Ketika keamanan ditempatkan belakangan, organisasi berisiko menyisakan titik lemah pada sistem yang sudah saling terhubung.

Rezha menilai keamanan siber harus menyatu dengan desain sistem sejak awal, bukan dipasang setelah risiko muncul. Dengan begitu, perlindungan bisa mengikuti kebutuhan bisnis sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan.

Sangfor menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan menciptakan nilai bagi pelanggan. Tujuan akhirnya adalah membantu pelanggan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah kebutuhan keamanan yang makin kompleks.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru