Kebakaran Depot Minyak Iran Lepaskan Racun Bertahan Lama, Dampaknya Merembet ke Udara dan Air

Author: Redaksi Android62

Paparan asap dari serangan udara di Iran tidak berhenti pada kerusakan fasilitas minyak. Pembakaran sekitar 30 depot minyak di sejumlah wilayah, termasuk Teheran, meninggalkan jejak polusi yang bisa terus bergerak lewat udara, air, dan tanah jauh setelah api padam.

Kondisi itu memunculkan laporan hujan hitam di area terdampak, sementara warga juga mengeluhkan mata perih dan sakit tenggorokan akibat udara tercemar. WHO sempat memperingatkan dampak buruk dari situasi tersebut, karena ancaman kesehatannya tidak hanya datang dari ledakan, tetapi juga dari partikel dan senyawa yang ikut terbawa asap.

Asap kebakaran minyak membawa zat berbahaya

Saat depot atau kilang minyak terbakar, asap yang muncul tidak hanya berisi jelaga. Proses pembakaran juga melepaskan hidrokarbon aromatik polisiklik, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.

Zat-zat itu dapat naik ke atmosfer, lalu bercampur dengan uap air dan turun kembali bersama hujan. Jika itu terjadi, tingkat keasaman air hujan bisa berubah dan memicu hujan asam yang mengganggu tanah, tumbuhan, serta badan air di sekitarnya.

U.S. Environmental Protection Agency atau EPA menjelaskan bahwa hujan asam dapat berdampak buruk pada kehidupan tumbuhan dan hewan. Perubahan pH pada tanah dan air membuat ekosistem alami lebih sulit mendukung pertumbuhan tanaman dan biota air.

Ancaman tidak berhenti di udara

Bahaya lain muncul ketika tumpahan minyak masuk ke sistem drainase air hujan di Teheran. Dari sana, polutan berpotensi menyebar ke tanah dan badan air alami di sekitarnya.

Laporan pencemaran air di sekitar Teheran juga memunculkan kekhawatiran soal senyawa yang berpotensi karsinogenik. Dalam kondisi Iran yang sudah menghadapi tekanan air tinggi dan kekeringan, kerusakan ini memperburuk ketergantungan terhadap air bersih.

Para ahli menilai persoalan tersebut bukan gangguan singkat. Begitu kualitas air turun, beban lingkungan menjadi lebih berat dan pemulihannya akan jauh lebih sulit setelah kebakaran berhenti.

Partikel hitam bisa meluas jauh

Kebakaran minyak skala besar juga menghasilkan karbon hitam yang masuk ke atmosfer. Partikel ini menyerap panas dan ikut mendorong kenaikan suhu, sehingga dikenal dapat mempercepat perubahan iklim.

Dalam peristiwa seperti ini, jelaga tidak selalu tinggal di wilayah sumber kebakaran. Model pergerakan asap dari serangan di Iran bahkan menunjukkan sebagian jelaga dapat mencapai Siberia, wilayah yang memiliki banyak gletser.

Dampaknya mirip dengan kebakaran minyak pada Perang Teluk. Saat karbon hitam menempel di permukaan es, daya pantul sinar Matahari menurun dan es lebih cepat menyerap panas, sehingga suhu ikut meningkat.

Risiko kesehatan paling besar menimpa kelompok rentan

Asap kebakaran minyak juga berdampak langsung pada kesehatan manusia. Karbon hitam dan partikel halus dapat memicu gangguan pernapasan, masalah kardiovaskular, risiko kanker paru-paru, hingga kerusakan sistemik termasuk gangguan neurologis.

CCAC menyebut dampak tersebut bisa lebih berat bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan. Dalam situasi perang, akses masker dan perlindungan di dalam ruangan juga tidak selalu tersedia, sehingga paparan menjadi lebih tinggi.

Keterbatasan pemantauan membuat skala dampak lingkungan sulit dinilai secara utuh. Pembatasan internet, kendala satelit, dan banyaknya insiden membuat api, asap, serta polutan terus bergerak mengikuti aliran udara dan air di wilayah terdampak.

Source: www.idntimes.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru