Banyak orang masih mengira postur tubuh hanya rusak karena duduk terlalu lama atau posisi kerja yang kurang pas. Padahal, kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang setiap hari justru sering memberi tekanan diam-diam pada leher, punggung, pinggul, hingga saraf.
Masalahnya, posisi yang terlihat santai saat rebahan, berjalan, atau beraktivitas ringan belum tentu aman untuk tubuh. Jika pola itu terus dibiarkan, tubuh bisa menyesuaikan diri ke arah yang salah dan memunculkan nyeri yang awalnya terasa sepele.
Salah satu kebiasaan yang paling sering terjadi adalah menatap ponsel sambil menunduk. Saat kepala terus berada dalam posisi turun, beban pada leher dan tulang belakang meningkat, bahkan menurut studi yang dipublikasikan di Surgical Technology International tekanannya bisa bertambah hingga sekitar 22 kg.
Kebiasaan ini mudah muncul ketika seseorang bekerja, membaca pesan, atau sekadar menggulir media sosial. Karena dilakukan berulang sepanjang hari, risiko nyeri leher dan punggung kronis ikut naik tanpa terasa.
Posisi duduk juga berperan besar, terutama saat seseorang duduk sambil menyilangkan kaki. Banyak orang merasa lebih rileks dengan cara itu, tetapi panggul bisa menjadi tidak sejajar karena berat badan tidak terbagi rata.
Dari situ, tekanan dapat merambat ke pinggul dan tulang belakang. Efek lanjutannya sering muncul sebagai nyeri di punggung bagian bawah yang terasa setelah duduk terlalu lama.
Kebiasaan lain yang sering dianggap sepele adalah membawa tas berat hanya di satu bahu. Tubuh memang akan berusaha menyeimbangkan beban, tetapi penyesuaian itu justru membuat bahu bisa tampak turun sebelah dan tulang belakang kehilangan posisi lurusnya.
American Chiropractic Association menyebut berat tas sebaiknya tidak melebihi 10 persen dari berat badan sendiri. Jika beban terlalu berat dan dibawa dalam waktu lama, risiko nyeri otot serta gangguan postur akan semakin besar.
Di rumah, postur juga bisa terganggu saat laptop digunakan tanpa meja ketika rebahan. Layar yang berada lebih rendah dari pandangan mata membuat punggung melengkung dan leher menekuk ke bawah dalam waktu lama.
Posisi ini memberi tekanan tidak wajar pada bantalan tulang belakang. Jika menjadi kebiasaan, tubuh bisa terbiasa berada dalam postur bungkuk, bahkan saat kembali berdiri tegak.
Ada pula kebiasaan memakai sepatu hak tinggi terlalu sering. Saat titik tumpu berat badan bergeser ke depan, tubuh akan mendorong pinggul ke depan dan melengkungkan punggung bawah agar tetap seimbang.
Akibatnya, otot pinggang dan betis harus bekerja lebih keras. Beban itu tidak berhenti di kaki, karena struktur tubuh saling terhubung dan efeknya dapat merambat ke punggung atas hingga leher.
Satu kebiasaan lain yang jarang disadari adalah menjepit ponsel di antara bahu dan telinga. Cara ini sering dilakukan ketika tangan sedang sibuk, misalnya saat mengetik atau memasak.
Leher yang miring terlalu lama akan menekan otot dan saraf. Jika dibiarkan terus-menerus, sendi leher bisa ikut bermasalah dan nyeri dapat menjalar sampai ke tangan.
Rangkaian kebiasaan itu menunjukkan bahwa postur tubuh tidak hanya ditentukan oleh cara duduk atau berdiri. Rutinitas kecil yang berulang justru sering menjadi pemicu utama gangguan pada leher, punggung, pinggul, dan bagian tubuh lain yang menjaga keseimbangan.
Source: www.beautynesia.id






