Kebocoran Data WFP di Gaza Ungkap Identitas 600.000 Rumah Tangga Penerima Bantuan

World Food Programme (WFP) menegaskan bahwa layanan bantuan di Gaza tetap berjalan meski platform pendaftaran mandiri mereka sempat menjadi sasaran akses ilegal. Insiden ini menyentuh sekitar 600.000 rumah tangga dan memicu perhatian besar karena data penerima bantuan adalah informasi yang sangat sensitif.

Data yang terpapar mencakup nama lengkap pemohon, nomor identitas resmi, nomor telepon aktif, dan lokasi tempat tinggal. WFP menempatkan perlindungan data serta privasi penerima bantuan sebagai prioritas utama setelah pelanggaran itu diketahui.

Untuk merespons temuan tersebut, WFP langsung menonaktifkan sementara platform Self-Registration Application atau SRA. Langkah itu diambil agar pemeriksaan dan perbaikan keamanan bisa dilakukan lebih cepat, sementara sistem tetap disterilisasi untuk mencegah risiko lanjutan.

Pada pembaruan yang disampaikan 2 Juni, WFP menyebut platform SRA masih dinonaktifkan untuk proses sterilisasi sistem. Meski begitu, lembaga itu menegaskan penerima manfaat tidak perlu melakukan tindakan apa pun karena pendaftaran yang sudah ada tetap valid.

WFP juga meminta warga yang telah terdaftar melalui SRA untuk tidak menghapus, memperbarui, atau mendaftarkan ulang data mereka. Organisasi itu memastikan proses penyaluran bantuan tetap berlangsung seperti biasa tanpa gangguan.

Peringatan soal celah keamanan ini sebenarnya muncul sebelum pembobolan dipastikan. Laporan awal The New Humanitarian menyebut tanda-tanda serangan siber sudah terlihat sejak 14 Mei, dan seorang pakar independen anonim sempat menghubungi tim WFP di Palestina dua hari sebelum peretasan itu diverifikasi.

Setelah pengecekan selesai, WFP memastikan skala insiden memang mencapai sekitar 600.000 rumah tangga. Temuan ini menunjukkan betapa rentannya sistem digital yang menyimpan data penerima bantuan ketika menjadi sasaran serangan.

Insiden tersebut terjadi di tengah situasi kemanusiaan Gaza yang masih sangat rapuh. WFP tercatat mendukung kehidupan 1,6 juta warga Palestina setiap bulan yang menghadapi krisis malnutrisi akut akibat konflik bersenjata dengan Israel.

Jumlah itu setara sekitar 77 persen dari total populasi wilayah tersebut. Kondisi ekonomi juga memperburuk keadaan karena sekitar 80 persen penduduk Gaza berstatus pengangguran dan kehilangan kemampuan finansial untuk membeli makanan bergizi secara mandiri.

Selama ini WFP menyalurkan tepung gandum, biskuit berenergi tinggi, dan makanan ringan berfortifikasi kepada keluarga, dapur umum komunitas, serta toko roti. Organisasi itu juga memfasilitasi transfer uang tunai untuk membantu menekan risiko kelaparan massal di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan resminya, WFP menyampaikan permohonan maaf dan berupaya meredakan kekhawatiran para penerima bantuan. Lembaga itu menegaskan kembali bahwa perlindungan data dan privasi penerima bantuan tetap berada di posisi paling tinggi.

Source: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait