Kelangkaan memori dan NAND mulai memberi sinyal yang tidak nyaman bagi pasar elektronik konsumen. Samsung memperkirakan tekanan harga ini tidak hanya terasa sementara, tetapi dapat terus merambat ke berbagai perangkat hingga 2027.
Kondisi itu membuat pembeli gadget berpotensi menghadapi harga yang lebih tinggi untuk laptop, ponsel, RAM konsumen, dan perangkat lain yang bergantung pada chip serta penyimpanan bawaan. Saat pasokan tertinggal jauh dari permintaan, produsen biasanya harus menyesuaikan harga jual atau memangkas kapasitas memori yang disediakan.
Dampaknya tidak berhenti pada dua kategori utama tersebut. Samsung menyebut gaming PC, konsol, TV, perangkat pintar, dan produk lain yang memakai komponen semikonduktor canggih juga bisa ikut tertekan oleh situasi yang sama.
Dorongan besar datang dari AI
Tekanan ini makin kuat karena permintaan AI sedang melonjak. Samsung mengatakan pusat data membeli banyak memori canggih, lalu kondisi itu ikut mengganggu rantai pasok teknologi yang lebih luas.
Laporan keuangan terbaru Samsung menunjukkan bisnis chip perusahaan itu terdorong kuat oleh permintaan AI yang meledak. Samsung mencatat kuartal rekor, dan divisi semikonduktor menjadi penyumbang utama lonjakan laba.
Namun, sisi lain dari situasi ini justru tidak menguntungkan konsumen. Pasokan masih disebut jauh di bawah permintaan pelanggan, sehingga biaya komponen berpotensi terus naik dan ruang diskon bisa makin sempit.
Harga merambat ke banyak perangkat harian
Saat biaya memori meningkat, efeknya bisa muncul pada banyak perangkat yang digunakan sehari-hari. Smart TV, kamera, router, wearable, mobil, dan perangkat smart home termasuk di antara produk yang dapat ikut terkena imbas.
Dalam banyak kasus, produsen akan menyesuaikan harga atau mengurangi pilihan memori dan storage pada model baru. Karena itu, harga perangkat tidak lagi ditentukan oleh fitur seperti kamera lebih besar, layar lebih cepat, atau fitur AI baru saja.
Pasar smartphone sudah memperlihatkan tanda awal dari tekanan tersebut. Banyak merek mulai menaikkan harga perangkat baru sambil memangkas pilihan memori dan penyimpanan.
IDC bahkan menilai ponsel Android di bawah US$100 bisa menjadi tidak lagi layak secara permanen. Alasannya sederhana, margin produsen yang sangat tipis bisa habis terserap oleh lonjakan biaya memori dan penyimpanan.
Efeknya juga terasa di bisnis Samsung sendiri
Samsung berada di posisi yang unik karena tekanan ini datang dari dua arah. Bisnis semikonduktornya diuntungkan oleh harga chip yang lebih tinggi, tetapi unit mobile dan display justru menerima tekanan.
Laba mobile dan network Samsung turun 35% pada kuartal pertama. Pada saat yang sama, laba display juga ikut merosot, sehingga keuntungan dari pasar chip tidak otomatis menutup pelemahan di lini produk konsumen.
Situasi serupa juga mulai tampak di pasar PC. Harga RAM naik bagi pembeli komputer, sementara Micron sudah memperingatkan bahwa kelangkaan bisa berlangsung lebih lama.
Intel CEO Lip-Bu Tan bahkan menyebut bantuan mungkin baru datang pada 2028. Di sisi lain, Microsoft juga memberi sinyal bahwa tekanan memori dapat mendorong naik biaya hardware Xbox generasi berikutnya.
Dengan kondisi pasokan yang masih ketat, pembeli gadget perlu bersiap menghadapi pasar yang lebih mahal dan pilihan upgrade yang lebih terbatas. Tekanan harga ini tidak lagi hanya soal satu perangkat, melainkan sudah menjalar ke hampir semua kategori elektronik yang bergantung pada memori dan penyimpanan.







