Kenaikan harga barang konsumsi mulai menjadi perhatian karena pelemahan rupiah berpotensi cepat terasa di rak belanja. Saat biaya impor naik, tekanan itu tidak hanya menyentuh produk dari luar negeri, tetapi juga barang lokal yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 49,5 poin ke level Rp 17.716,5 per dolar AS pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Kondisi ini membuat dunia usaha lebih waspada, sebab perubahan kurs yang lemah dapat segera memengaruhi biaya produksi, biaya distribusi, dan harga jual di pasar domestik.
Biaya impor jadi jalur utama kenaikan harga
Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin menilai biaya impor menjadi saluran utama yang mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri. Menurut dia, dampaknya tidak berhenti pada barang yang masuk langsung dari luar negeri.
Produk lokal juga dapat ikut tertekan ketika proses produksinya masih memerlukan bahan baku, kemasan, atau komponen impor. Dalam kondisi seperti itu, pelemahan rupiah membuat perhitungan biaya menjadi lebih sulit dijaga.
“Apabila pelemahan rupiah terus berlanjut, risiko kenaikan harga barang konsumsi impor akan semakin dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Saleh dalam keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Jumat (22/5/2026).
Kelas menengah berada di posisi paling rapuh
Kadin menyoroti kelas menengah sebagai kelompok yang paling rentan merasakan dampak kenaikan harga. Kelompok ini biasanya memiliki belanja yang sensitif, sehingga perubahan harga kecil saja dapat langsung mengganggu pengeluaran rumah tangga.
Ketika harga barang konsumsi naik, ruang belanja menjadi lebih sempit. Akibatnya, sebagian dana yang semula bisa dipakai untuk kebutuhan lain harus dialihkan ke pengeluaran harian yang semakin mahal.
Saleh menjelaskan, tekanan tersebut bisa menggerus daya beli saat konsumen harus mengalokasikan dana lebih besar untuk kebutuhan pokok dan konsumsi sehari-hari. Situasi ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Efek berantai ke konsumsi rumah tangga
Dampak pelemahan daya beli tidak hanya berhenti pada konsumen perorangan. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga perlambatannya bisa menimbulkan efek berantai.
Jika masyarakat menahan belanja, penjualan pelaku usaha ikut tertekan. Dari sana, pengaruhnya dapat merambat ke keputusan produksi, kebutuhan impor, hingga rencana bisnis di berbagai sektor.
Tekanan nilai tukar juga membuat dunia usaha harus menghitung biaya dengan lebih cermat. Saat rupiah melemah, kepastian harga bahan baku dan komponen impor menjadi lebih sulit diprediksi.
Dorongan menjaga stabilitas rupiah
Karena itu, Kadin meminta pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat kepercayaan pasar. Langkah ini dinilai perlu ditempuh lewat koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam merencanakan kebutuhan impor.
Menurut Saleh, stabilitas rupiah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis dan membantu dunia usaha menyusun biaya secara lebih terukur. Di sisi lain, kepastian kurs juga menjadi perhatian konsumen karena dampaknya paling cepat terasa pada harga barang yang mereka beli setiap hari.
