Jadah tempe yang dulu identik dengan jajanan lama kini tampil dengan wajah baru sebagai oleh-oleh Jogja yang lebih modern. Perubahan itu membuat kuliner khas Kaliurang ini tidak lagi hanya dikenal sebagai suguhan lokal, tetapi juga sebagai produk yang lebih mudah diterima pembeli dari luar daerah.
Pembaruan yang dilakukan pada jadah tempe tidak menghapus karakter aslinya. Resep lama tetap dijaga, sementara kemasan, nama produk, dan pilihan varian dibuat lebih sesuai dengan selera konsumen masa kini.
Dari suguhan lereng Merapi ke produk oleh-oleh
Asal-usul jadah tempe berada di Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Makanan ini sejak lama hadir dalam berbagai acara warga lereng Merapi seperti labuhan, kendurian, hingga pesta rakyat.
Pada masa awal, jadah dan lauk pendampingnya belum disajikan seperti bentuk yang sekarang dikenal. Keduanya masih terpisah dan belum menyatu dengan tempe maupun tahu bacem yang kini menjadi ciri paling mudah dikenali.
Popularitasnya mulai menanjak ketika Sultan Hamengkubuwono IX berkunjung ke Kaliurang bersama rombongan keraton sekitar medio 1940-an. Sajian itu disiapkan oleh Sastrodinomo, yang kemudian dikenal sebagai Mbah Carik, dan sejak saat itu nama jadah tempe makin melekat sebagai kuliner khas daerah tersebut.
Nama Jadah Tempe Mbah Carik juga disebut diberikan langsung oleh Sultan Hamengkubuwono. Penamaan itu dipercaya menjadi pesan agar hidangan ini bisa menjadi sumber rezeki bagi anak cucu keluarga penerusnya.
Tetap mempertahankan rasa, tetapi tampilan dibuat baru
Angga Kusuma, generasi keempat pengelola Jadah Tempe Mbah Carik, memilih menjaga cara membuat dan cara memasaknya. Ia menekankan bahwa cita rasa lama tetap dipertahankan agar identitas kuliner ini tidak hilang meski bentuk penyajiannya berubah.
Versi aslinya tetap terdiri dari jadah dan tempe bacem. Jadah dibuat dari ketan yang dikukus lalu ditumbuk halus, sedangkan tempe bacem menjadi pasangan yang sejak lama lekat dengan kuliner Yogyakarta.
Di saat yang sama, pengembangan dilakukan agar produk terasa lebih dekat dengan konsumen muda. Angga mengubah arah tampilan lewat nama “Suguhan by Mbah Carik” tanpa memutus hubungan dengan sejarahnya sebagai hidangan yang dahulu disiapkan untuk Sultan saat datang ke Kaliurang.
Varian baru untuk menarik pembeli muda
Produk utamanya tetap jadah tempe, tetapi pengelola menambahkan beberapa varian lain. Ada wajik dengan rasa manis legit dari gula Jawa, gembus yang bercita rasa manis gurih dan lembut, serta kinako berupa jadah dengan taburan bubuk kedelai.
Varian kinako menjadi salah satu bentuk eksperimen yang paling menonjol. Lewat varian itu, Angga ingin memadukan unsur kelokalan Kaliurang dengan sentuhan yang lebih modern agar anak muda kembali melirik kuliner tradisional.
Kemasan pun ikut dirombak. Jadah tempe kini hadir dalam boks yang lebih elegan sehingga tampil lebih pantas sebagai oleh-oleh dan tidak lagi dipandang sekadar jajanan pasar biasa.
Frozen dan pembayaran digital membuka pasar lebih luas
Salah satu langkah penting dalam pengembangan produk adalah hadirnya varian frozen. Inovasi ini dibuat agar jadah tempe lebih tahan lama dan lebih aman dibawa ke luar kota.
Untuk mendukung pengembangan usaha, Angga bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia melalui program Kredit Usaha Rakyat. Ia menyebut pengajuan KUR di BRI dilakukan sebesar Rp100 juta untuk termin empat tahun, dan dana itu dipakai untuk modernisasi pabrik serta pengembangan produk frozen yang disebut sesuai standar BPOM.
Layanan pembayaran digital lewat QRIS juga ikut dipakai untuk memudahkan transaksi. Dengan cara itu, jadah tempe tidak hanya berubah di sisi tampilan, tetapi juga menyesuaikan diri dengan kebiasaan belanja konsumen yang lebih praktis.
Pembeli dari luar daerah mulai melirik
Perubahan pada produk ini mulai terlihat dari siapa yang membelinya. Nisa, konsumen asal Papua, menyukai rasa jadah tempe karena gurih dan tempenya tidak terlalu manis, sehingga terasa menyatu saat disantap.
Ia juga menilai varian frozen memberi peluang menjadikan jadah tempe sebagai oleh-oleh saat pulang ke Papua. Bagi pembeli dari luar daerah, daya tahan produk menjadi pertimbangan penting sebelum membawa buah tangan.
Cerita serupa datang dari Veronica Ester, konsumen muda asal Sumatra Utara. Ia menilai perpaduan rasa jadah tempe unik, dengan tekstur lembut, tempe manis gurih, dan sedikit pedas saat disantap bersama cabai.
Ester juga tertarik karena kemasannya terasa kekinian dan praktis dibawa. Ia pernah membawa jadah tempe frozen sebagai oleh-oleh untuk keluarganya di Toba Samosir, dan keluarganya disebut menyukai rasanya.







