Kementerian Kesehatan menegaskan hantavirus yang beredar di Indonesia bukan tipe yang sama dengan yang sempat disorot di Amerika. Varian yang ditemukan di Tanah Air adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, sehingga karakter penyakitnya berbeda dari Hantapulmonary Syndrome atau HPS.
Perbedaan ini penting karena kedua bentuk klinis utama orthohantavirus tidak memberi dampak yang sama. Di Indonesia, tingkat kematian HFRS berada di kisaran 5-15 persen, jauh lebih rendah dibanding CFR HPS yang disebut mencapai 60 persen pada kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Kasus yang sudah terdeteksi di Indonesia
Kemenkes mencatat sudah ada 23 kasus hantavirus tipe HFRS yang terkonfirmasi di Indonesia sejak 2024 hingga 2026 minggu ke-16. Seluruh kasus konfirmasi itu berasal dari strain Seoul Virus.
Data tersebut memperlihatkan bahwa hantavirus memang sudah ditemukan di dalam negeri, tetapi varian yang beredar berbeda dari tipe yang menimbulkan perhatian besar di Amerika. Karena itu, pengenalan terhadap jenis yang beredar di Indonesia menjadi penting agar masyarakat tidak keliru memahami risikonya.
Gejala yang perlu dikenali
HFRS umumnya menimbulkan demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, serta ikterik atau jaundice. Masa inkubasinya berkisar satu hingga dua minggu, sehingga gejalanya bisa muncul setelah paparan dalam rentang waktu tersebut.
Sementara itu, HPS memiliki gejala demam, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasi HPS tercatat 14-17 hari, sehingga pola keluhannya juga tidak sama dengan HFRS.
Sebaran dan sumber risiko di lingkungan sekitar
Kemenkes juga menemukan keberadaan hantavirus pada reservoir tikus dan celurut di 29 provinsi berdasarkan Studi Rikhus Vektora. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi paparan tidak lepas dari lingkungan tempat tinggal dan keberadaan hewan reservoir.
Faktor risiko utama penularan berasal dari kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi. Risiko lain juga muncul dari paparan ekskresi dan sekresi hewan tersebut, sehingga kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Langkah pencegahan yang ditekankan pemerintah
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan menghindari kontak dengan tikus atau celurut. Masyarakat juga diminta rutin mencuci tangan atau memakai hand sanitizer sebagai langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan.
Kewaspadaan dinilai penting karena hantavirus dapat beredar di wilayah yang luas tanpa selalu langsung terlihat. Dengan memahami jenis yang beredar, gejala yang mungkin muncul, dan sumber penularannya, masyarakat dapat lebih cepat mengambil langkah pencegahan di rumah maupun di lingkungan sekitar.
Source: www.cnbcindonesia.com






