Harga minyak goreng di pasar domestik mulai menunjukkan kenaikan tipis di tengah tekanan biaya produksi yang datang dari beberapa arah. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut salah satu pemicunya adalah lonjakan biaya kemasan plastik yang digunakan hampir di seluruh produk minyak goreng kemasan.
Tekanan lain datang dari penguatan harga minyak sawit mentah atau CPO di pasar global. Di sisi lain, pemerintah menegaskan pasokan minyak goreng masih tersedia di pasar tradisional maupun ritel modern, sehingga persoalan utama saat ini bukan kekurangan barang, melainkan biaya yang membebani produksi.
Kemasan plastik ikut mendorong ongkos produksi
Budi Santoso menuturkan bahwa kenaikan harga di sektor minyak goreng tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar. Ia menilai ada beban dari sisi produksi yang ikut membuat harga bergerak naik.
“Ya ada sedikit juga yang naik karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua,” kata Budi Santoso saat ditemui di JIExpo, Kemayoran. Pernyataan itu menunjukkan bahwa bahan penolong seperti kemasan memiliki pengaruh langsung terhadap biaya akhir produk.
Dalam industri minyak goreng, kemasan bukan sekadar pelindung produk, tetapi juga bagian dari ongkos distribusi dan pemasaran. Ketika harga plastik naik, produsen biasanya menghadapi ruang yang semakin sempit untuk menahan harga jual tanpa menekan margin usaha.
Pasokan masih aman di pasar
Kementerian Perdagangan menyebut stok minyak goreng tetap tersedia di pasar tradisional dan ritel modern. Meski begitu, pemerintah tetap memantau kondisi pasar karena masyarakat cenderung menjadikan MinyaKita sebagai produk acuan utama.
Untuk menjaga keterjangkauan, Harga Eceran Tertinggi MinyaKita tetap dipertahankan di level Rp 15.700 per liter. Kebijakan ini menjadi salah satu jangkar agar harga di pasar tidak bergerak terlalu jauh dari batas yang sudah ditetapkan.
Adapun perhatian pemerintah saat ini terbagi pada beberapa hal berikut:
- HET MinyaKita tetap berada di Rp 15.700 per liter.
- Pasokan minyak goreng dinyatakan cukup di pasar tradisional dan ritel modern.
- Konsumen diminta tidak hanya bergantung pada MinyaKita.
- Produsen didorong memperbanyak merek lapis kedua agar pilihan pasar lebih beragam.
Pemerintah menilai keberagaman merek penting agar pasar tidak terlalu sensitif ketika harga salah satu produk berubah. Dengan pilihan yang lebih banyak, konsumen diharapkan tetap memiliki alternatif sesuai kebutuhan dan daya beli.
CPO masih memberi tekanan tambahan
Selain kemasan plastik, harga minyak goreng juga terpengaruh oleh pergerakan harga crude palm oil atau CPO di pasar dunia. Laporan Indonesia Palm Oil Strategic Studies atau IPOSS memperkirakan harga CPO naik dari 1.165 dollar AS menjadi 1.440 dollar AS per ton pada April ini.
IPOSS juga memproyeksikan penguatan harga CPO dapat berlanjut hingga 1.783 dollar AS per ton pada Juni. Jika proyeksi tersebut terjadi, biaya bahan baku produsen minyak goreng berpotensi semakin tertekan dalam beberapa waktu ke depan.
Kenaikan CPO biasanya merembet ke biaya produksi di berbagai lini industri berbasis sawit, termasuk minyak goreng kemasan. Saat bahan baku utama dan bahan penolong sama-sama mahal, produsen menghadapi pilihan yang sulit untuk menjaga harga tetap stabil.
Gejolak global ikut menambah beban
Tekanan biaya juga dipengaruhi situasi geopolitik di Asia Barat yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga energi global dan kemudian menambah beban logistik serta distribusi pada berbagai komoditas pangan.
Dalam situasi seperti ini, stabilitas harga minyak goreng sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku, biaya transportasi, dan daya beli masyarakat. Selama tiga faktor itu masih bergerak naik turun, pasar domestik berpotensi mengalami penyesuaian harga secara bertahap.
Kemendag menilai penjelasan soal pasokan penting agar masyarakat tidak salah membaca kondisi pasar, karena stok yang tersedia tidak selalu berarti harga akan langsung datar. Selama distribusi tetap berjalan, tantangan utama minyak goreng kini masih berada pada biaya kemasan plastik, harga CPO, dan tekanan energi global yang saling berkaitan.







