Ancaman kenaikan permukaan laut kini makin dekat dengan kota-kota pesisir Indonesia. Jakarta, Semarang, dan Surabaya berada di jalur yang paling rentan ketika air laut terus naik dan tanah di sejumlah wilayah ikut turun.
NASA kembali menegaskan bahwa laju kenaikan permukaan laut global tidak lagi bergerak stabil. Berdasarkan data satelit lebih dari 30 tahun, permukaan laut dunia telah naik sekitar 9,4 sentimeter sejak 1993.
Yang membuat situasi ini lebih mengkhawatirkan adalah percepatannya. Dalam periode yang sama, laju kenaikan naik dari sekitar 0,18 sentimeter per tahun menjadi 0,42 sentimeter per tahun.
Direktur Tim Perubahan Permukaan Laut NASA, Nadya Vinogradova Shiffer, menyebut percepatan itu membawa bumi ke jalur tambahan kenaikan sekitar 20 sentimeter lagi pada 2050. Bagi wilayah pesisir, tambahan ini berarti tekanan yang lebih besar terhadap banjir, abrasi, dan infrastruktur yang sudah berada di area rawan.
NASA juga menilai lonjakan dalam satu tahun terakhir turut dipengaruhi El Nino yang kuat. Saat fenomena itu berlangsung, curah hujan yang biasanya jatuh di daratan berpindah ke laut dan ikut menambah volume air laut secara langsung.
Namun, pemanasan global tetap menjadi pendorong utama yang bekerja dari waktu ke waktu. Emisi gas rumah kaca memanaskan bumi, mencairkan es di kutub, dan memicu ekspansi termal ketika air laut memuai saat suhunya meningkat.
Indonesia masuk kelompok paling rentan
Bagi Indonesia, ancaman ini terasa lebih berat karena karakter geografisnya sebagai negara kepulauan. Kota-kota besar di dataran rendah menjadi titik yang paling mudah terdampak ketika permukaan laut naik.
Jakarta, Semarang, dan Surabaya disebut sebagai wilayah yang berpotensi menerima tekanan paling parah. Kondisi itu diperburuk oleh penurunan muka tanah, sehingga kenaikan air laut bekerja lebih cepat terhadap daratan.
Ketika laut terus naik dan tanah terus ambles, wilayah pesisir bisa hilang lebih cepat. Infrastruktur vital ikut berisiko rusak, sementara aktivitas ekonomi warga pesisir dapat terganggu secara luas.
Sejumlah kawasan di Jabodetabek dan Jawa bahkan sudah merasakan dampaknya lewat banjir yang makin sering muncul dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut bukan lagi persoalan jauh di masa depan.
Risiko meluas jika emisi tak ditekan
Para ahli mengingatkan kondisi dapat memburuk bila emisi tidak ditekan dan tata kelola air tanah tidak diperbaiki. Dalam skenario seperti itu, sejumlah pulau kecil dan wilayah pesisir Indonesia bisa terancam lebih cepat dari perkiraan.
NASA juga menilai risiko tenggelam bukan hanya persoalan Indonesia. Dalam penelitian lain, lembaga itu menyebut ada sedikitnya 10 kota besar di dunia yang berisiko tenggelam, termasuk Jakarta, dengan proyeksi kenaikan air laut 3–6 kaki atau sekitar 91,4–182,88 sentimeter pada 2100.
Sejumlah kota lain ikut berada di bawah tekanan besar. Alexandria di Mesir, misalnya, diperkirakan panel iklim PBB bisa kehilangan sekitar 30% wilayahnya pada 2050, sementara sekitar 1,5 juta orang berpotensi mengungsi.
Miami di Florida juga menghadapi ancaman serius karena lebih dari separuh area Miami-Dade County hanya berada pada ketinggian 6 kaki di atas permukaan laut. Sekitar 60% wilayahnya berisiko tenggelam pada 2060, sedangkan pembangunan gedung-gedung mewah di pesisir dapat memperbesar kerugian ekonomi jika bencana terjadi.
Tekanan yang dialami banyak kota pesisir
Lagos, Dhaka, Yangon, Bangkok, Kolkata, Manila, dan kawasan megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau juga masuk daftar wilayah yang dinilai rentan. Tekanan di kota-kota itu datang dari kombinasi banjir musiman, ekstraksi air tanah berlebihan, kerusakan hutan mangrove, ancaman sesar aktif, dan penurunan tanah.
Manila disebut terus tenggelam sekitar 4 inci per tahun dan telah kehilangan 130 ribu hektar hutan mangrove sejak awal abad ke-20. Bangkok kehilangan wilayah lebih dari 1 km per tahun di garis pantainya, sedangkan Kolkata menghadapi ancaman pengungsian lebih dari 10 juta orang bila banjir terus berulang.
Rangkaian data itu menempatkan Indonesia dalam kelompok wilayah yang perlu mewaspadai gabungan antara kenaikan laut, penurunan tanah, dan tekanan pengelolaan air. Di kota-kota pesisir, pertemuan tiga faktor itu dapat mempercepat kerusakan lingkungan dan mempersempit ruang hidup warga dalam waktu yang lebih singkat dari yang selama ini dibayangkan.
Source: www.cnbcindonesia.com






