Bagi Periklindo, kendaraan listrik bukan lagi semata urusan mengganti mobil berbahan bakar minyak. Elektrifikasi transportasi dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, terutama ketika gejolak global berpotensi mengganggu pasokan dan harga BBM.
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Periklindo, Achmad Rofiqi, menilai ketergantungan pada BBM membuat negara lebih rentan terhadap faktor eksternal. Saat distribusi energi tersendat, dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar otomotif, tetapi juga pada biaya mobilitas dan kestabilan kebutuhan energi di dalam negeri.
Rofiqi menekankan bahwa kendaraan listrik perlu didorong karena dapat menjadi salah satu jawaban ketika muncul kondisi tak terduga di tingkat global. Ia mencontohkan konflik Iran dan Israel yang berpotensi mengganggu jalur distribusi, menghambat pasokan BBM, dan mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Dari sudut pandang Periklindo, pembahasan kendaraan listrik kini bergerak melampaui kemampuan teknologi. Tantangan utama justru ada pada kemauan pemerintah, industri, dan masyarakat untuk bergerak searah dalam mendukung transisi.
Rofiqi menyebut adopsi kendaraan listrik tidak lagi bisa dilihat sebagai soal bisa atau tidak bisa. Menurut dia, yang menentukan adalah keselarasan kebijakan dan kehendak seluruh pemangku kepentingan.
Krisis energi membuat arah transisi semakin relevan
Pandangan itu membuat kendaraan listrik diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang, bukan sekadar tren industri otomotif. Fokusnya bergeser ke upaya mengurangi risiko dari ketergantungan pada sumber energi berbasis fosil.
Dalam kerangka tersebut, ukuran keberhasilan transisi tidak berhenti pada jumlah kendaraan yang terjual. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan negara membangun sistem transportasi yang lebih tahan terhadap guncangan pasokan.
Periklindo juga menilai transisi akan lebih cepat jika kebijakan dijalankan dengan tegas dan konsisten. Rofiqi menegaskan bahwa keberhasilan perubahan sangat bergantung pada keberanian pemerintah menetapkan arah yang berkelanjutan.
Ia menilai konsistensi menjadi faktor kunci, bukan sekadar dorongan sesaat. Ketika arah kebijakan jelas dan dijalankan serius, transformasi diyakini tetap bisa berlangsung meski membutuhkan waktu.
Contoh dari negara lain dianggap menunjukkan jalan
Rofiqi menyinggung Ethiopia sebagai negara yang menerapkan kebijakan pelarangan impor kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine. Menurut dia, langkah itu menunjukkan bahwa perubahan besar bisa diwujudkan jika pemerintah benar-benar memiliki kemauan politik.
Ia memandang contoh Ethiopia memperlihatkan bahwa transisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Inti perubahan terletak pada kemauan mengambil langkah tegas dan menjalankannya secara nyata.
Norwegia juga disebut sebagai pembanding karena memiliki tingkat adopsi kendaraan listrik yang sangat tinggi. Menurut Rofiqi, populasi kendaraan ICE di negara itu kini tinggal sekitar 10 hingga 15 persen.
Capaian Norwegia tidak hadir dalam waktu singkat. Proses tersebut membutuhkan waktu dan dukungan pemerintah yang konsisten serta tegas dalam menerapkan kebijakan.
Perbandingan dua negara itu dipakai untuk menunjukkan bahwa transisi kendaraan listrik bukan hal yang mustahil. Namun, arah itu hanya bisa dicapai bila seluruh pihak memiliki visi yang sama dan mau menjalaninya dalam jangka panjang.
Tantangan ada pada kesepahaman bersama
Rofiqi menilai transformasi menuju kendaraan listrik sebenarnya bisa dilakukan. Hambatan yang masih muncul sekarang lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan masing-masing pihak.
Karena itu, percepatan elektrifikasi transportasi membutuhkan keselarasan antara regulator, industri, dan masyarakat. Tanpa kesamaan arah, target besar seperti ketahanan energi akan sulit dicapai.
Dalam konteks itu, kendaraan listrik tidak lagi dibicarakan hanya sebagai pilihan moda transportasi baru. Peralihan ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya mengurangi kerentanan negara terhadap gangguan pasokan energi dan lonjakan harga BBM akibat situasi global.
Dorongan terhadap kendaraan listrik akhirnya menyentuh persoalan yang lebih mendasar daripada pergantian jenis kendaraan. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan Indonesia membangun sistem energi yang lebih mandiri dan lebih tahan menghadapi tekanan dari luar.
Source: otomotif.kompas.com






