Keputusan Jean-Paul Van Gastel untuk melanjutkan tugas di PSIM Yogyakarta tidak lahir hanya dari hasil di lapangan. Pelatih asal Belanda itu justru menempatkan kenyamanan hidup di Yogyakarta, dukungan manajemen, dan atmosfer sepak bola Indonesia sebagai alasan penting di balik pilihannya bertahan.
Bagi Van Gastel, musim pertamanya di Liga Indonesia memberi pengalaman yang berbeda dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ia harus menyesuaikan diri dengan ritme kompetisi yang tidak biasa, termasuk perjalanan tandang yang bisa memakan waktu hingga empat hari.
Atmosfer stadion jadi pengalaman paling kuat
Daya tarik terbesar bagi Van Gastel datang dari suasana pertandingan di stadion. Fanatisme suporter membuat laga terasa lebih hidup dan memberi energi tambahan bagi tim maupun pemain.
Ia menyoroti pertandingan di Jakarta dan Bandung sebagai gambaran kuat tentang sepak bola yang sesungguhnya. Menurutnya, laga yang dipenuhi puluhan ribu penonton menghadirkan pengalaman yang jauh lebih bermakna.
Kemenangan kandang pada laga terakhir musim ini juga meninggalkan kesan positif. Hasil itu menutup musim dengan catatan baik untuk PSIM sekaligus memberi kebahagiaan bagi para pendukung Laskar Mataram.
Meski demikian, Van Gastel menyayangkan masih ada pertandingan di Indonesia yang digelar tanpa penonton. Ia menilai situasi seperti itu tidak ideal karena sepak bola pada dasarnya dimainkan untuk suporter.
Yogyakarta memberi kenyamanan di luar sepak bola
Selain urusan pertandingan, kehidupan sehari-hari di Yogyakarta juga menjadi bagian penting dari adaptasinya. Tinggal di Kota Gudeg membuatnya berhadapan dengan budaya baru dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya.
Van Gastel menilai pertemuan dengan orang-orang baru sebagai pengalaman yang berharga. Hal itu menunjukkan bahwa proses adaptasinya tidak hanya terjadi di dalam sepak bola, tetapi juga dalam kehidupan pribadi.
Faktor keluarga ikut memperkuat keputusannya untuk tetap bersama PSIM. Ia menyebut dirinya dan keluarga sangat menyukai Yogyakarta, sehingga rasa nyaman itu menjadi pertimbangan besar untuk bertahan.
Manajemen PSIM dinilai punya arah yang jelas
Di luar suasana kota dan stadion, Van Gastel juga melihat keseriusan manajemen PSIM dalam membangun klub. Ia menilai ada upaya untuk menata struktur organisasi agar tim bisa berkembang secara bertahap dan stabil.
Menurutnya, salah satu tugas yang ia emban adalah membantu perbaikan di berbagai aspek struktur klub. Sikap pemilik dan manajemen yang ingin membangun fondasi kuat menjadi bagian penting dalam keputusannya melanjutkan kerja.
Van Gastel melihat stabilitas klub sebagai modal untuk perkembangan jangka panjang. Karena itu, ia memandang masa depannya di PSIM bukan hanya soal satu musim, melainkan proses membangun sesuatu yang lebih besar.
Pengalaman musim perdana di Liga Indonesia akhirnya memberinya banyak pelajaran, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Perpaduan antara tantangan kompetisi, kenyamanan hidup di Yogyakarta, dan dukungan manajemen membuat Van Gastel mantap bertahan bersama PSIM Yogyakarta.
Source: www.suara.com






