Di antara kelompok burung kerak hitam yang hidup di Indonesia, kerak jambul menjadi yang paling mencuri perhatian karena suaranya yang sangat beragam. Burung ini tidak hanya mengeluarkan siulan, kicauan, dan cekikian, tetapi juga mampu meniru suara manusia.
Kerak jambul atau Acridotheres cristatellus hidup di Asia, terutama di wilayah hangat yang dipenuhi rerumputan atau pepohonan. Burung pemakan segala ini juga pernah populer sebagai burung peliharaan, lalu menyebar ke luar wilayah sebaran alaminya.
Selain kerak jambul, Indonesia juga memiliki beberapa jenis kerak hitam lain yang tidak kalah menarik untuk dicermati. Kelompok ini mencakup kerak kerbau, kerak ungu, kerak sulawesi, dan kerak besar, yang masing-masing punya ciri fisik dan kebiasaan berbeda.
Kerak kerbau yang berani mendekati manusia
Kerak kerbau atau Acridotheres javanicus memiliki tubuh hitam dengan paruh dan kaki kuning yang mencolok. Spesies ini tersebar di Thailand, Jawa, Bali, Malaysia, Taiwan, Nepal, hingga Jepang.
Makanan burung ini sangat beragam karena tergolong omnivor. Kerak kerbau memakan nektar, biji-bijian, buah-buahan, serangga, sampai sampah buangan manusia.
Sifatnya yang berani membuat burung ini mudah dijumpai di banyak tempat. Kerak kerbau kerap muncul di hutan, kebun, hingga area pemukiman karena tidak takut pada manusia.
Kerak ungu yang hidup sosial dan rajin mengerami telur
Kerak ungu atau Acridotheres tristis memiliki sebaran yang sangat luas. Burung ini ditemukan hampir di seluruh wilayah tropis dunia, kecuali Amerika Selatan.
Habitatnya juga tidak sempit karena bisa berada di area hangat, hutan, kebun, lahan pertanian, sampai kota yang padat aktivitas manusia. Meski begitu, spesies ini cenderung menghindari area yang terlalu rapat dan lebih sering hidup sosial dalam kelompok kecil.
Animal Diversity Web mencatat kerak ungu mencapai kematangan seksual pada usia 1 tahun. Saat musim kawin, betina dapat menghasilkan hingga lima telur, lalu telur dierami bergantian oleh jantan dan betina selama 13-18 hari.
Kerak sulawesi yang sebarannya tidak sesederhana namanya
Nama kerak sulawesi mungkin membuat banyak orang mengira burung ini hanya hidup di Sulawesi. Namun, Acridotheres cinereus juga tercatat berada di luar wilayah tersebut.
BirdLife DataZone mencatat populasinya ada di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sabah, dan Tawau. Populasi di Nusa Tenggara Timur disebut memiliki asal-usul yang belum diketahui secara pasti.
Secara fisik, kerak sulawesi mudah dikenali lewat tubuh bagian atas yang hitam, perut abu-abu, paruh kuning, kaki kuning, dan mata jingga. Walau demikian, informasi soal makanan, reproduksi, dan hubungannya dengan hewan lain di habitatnya masih terbatas.
Kerak besar dengan jambul yang menonjol
Kerak besar atau Acridotheres grandis punya ciri yang langsung terlihat dari jambul di kepalanya. Jambul itu terbentuk dari bulu yang menjulang tinggi sehingga penampilannya mudah dibedakan.
Menurut Avibase, sebaran kerak besar mencakup Nepal, India, Bangladesh, Indonesia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Habitatnya meliputi hutan, semak-semak, kebun, pepohonan, hingga area pemukiman.
Spesies ini juga tercatat berada di kawasan konservasi. Avibase menyebut kerak besar dapat ditemukan di Taman Nasional Kaziranga dan Suaka Margasatwa Koshi Tappu.
Kelima kerak hitam ini memperlihatkan bagaimana satu kelompok burung bisa memiliki bentuk, sebaran, dan perilaku yang sangat beragam. Dari kerak kerbau yang mudah beradaptasi, kerak ungu yang sosial, sampai kerak jambul yang bisa meniru suara manusia, semuanya menambah kekayaan fauna Indonesia yang layak diperhatikan.
Source: www.idntimes.com