Kerumunan motor di kawasan Sudirman-Thamrin kembali jadi perhatian setelah video yang memperlihatkan arus kendaraan tersendat pada dini hari ramai dibicarakan di media sosial. Di ruas yang selama ini dikenal sebagai wajah utama Jakarta, pemandangan itu memunculkan dugaan adanya nongkrong tak tertib hingga balap liar.
Situasi tersebut disebut terjadi saat libur panjang, ketika jumlah kendaraan di jalur itu meningkat pada tengah malam. Kondisi yang muncul di salah satu kawasan paling strategis di Ibu Kota itu dinilai ironis karena justru mengganggu kelancaran lalu lintas di jalan protokol.
Video itu pertama kali diunggah oleh konten kreator Ijoel. Ia mengatakan kejadian tersebut ia temui sekitar pukul 01.00 WIB di sekitar Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, saat melintas dari arah Bundaran Senayan menuju Monumen Nasional.
Menurut penuturannya, kepadatan sudah terlihat sejak area MRT Bundaran HI hingga Kedutaan Jepang. Di titik itu, ia melihat kawasan Sudirman-Thamrin seperti berubah menjadi tempat berkumpul yang tidak tertata pada tengah malam.
Ijoel menyebut banyak pengendara motor berkumpul secara tidak teratur di badan jalan. Ia juga mengaku melihat sejumlah pelanggaran yang mencolok, mulai dari pengendara tanpa helm, motor tanpa pelat nomor, sampai knalpot bising yang terdengar keras.
Selain memenuhi jalan, sebagian pengendara juga disebut nongkrong di trotoar. Saat ia mencoba mendekat, arus kendaraan sudah tersendat dan kondisi jalan cenderung macet.
Dari dalam mobil, Ijoel mendengar suara knalpot keras dan melihat sejumlah motor seperti menutup jalan. Ia juga menangkap kesan adanya aksi ngebut di tengah kerumunan itu, sehingga suara bising yang terdengar kemudian dikaitkan dengan kemungkinan balap liar.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu pengguna jalan lain yang sedang melintas. Penumpukan kendaraan di kawasan pusat kota pada dini hari itu dianggap tidak sejalan dengan fungsi jalur protokol yang semestinya menunjukkan ketertiban lalu lintas.
Ijoel mengaku sempat mencoba mengingatkan para pengendara agar tidak menutup jalan. Namun, upaya itu justru mendapat respons tidak menyenangkan karena ia mengatakan sempat dimarahi balik.
Setelah berhasil melewati lokasi, ia memutuskan melapor ke petugas keamanan di pos polisi Bundaran HI. Ia menyebut saat itu ada anggota Polri dan TNI di pos tersebut, lalu laporannya direspons dan petugas mengajaknya kembali ke lokasi.
Setelah petugas datang, kerumunan tersebut disebut berhasil dibubarkan. Peristiwa ini pun makin menegaskan sorotan terhadap Sudirman-Thamrin sebagai kawasan vital yang kerap dipandang sebagai etalase Jakarta.
Ijoel menilai situasi seperti ini tidak bisa dianggap sebagai insiden biasa. Menurut dia, pengawasan di kawasan tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya setelah kerumunan telanjur besar.
Ia juga menyebut patroli sebenarnya sudah ada, tetapi dinilai belum cukup menjawab kondisi di lapangan. Karena itu, ia mendorong patroli rutin yang lebih kuat di jalur protokol tersebut agar penertiban tidak berjalan parsial.
Dalam pandangannya, penanganan yang lebih efektif bisa melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, TNI, dan Polri. Kolaborasi itu dianggap penting untuk menjaga ketertiban sekaligus mempertahankan wajah Ibu Kota di kawasan yang sangat strategis.
Hingga laporan mengenai kejadian ini mencuat, upaya meminta tanggapan polisi terkait video viral tersebut disebut sudah dilakukan. Namun, belum ada respons yang diperoleh.
Source: otomotif.kompas.com






