Sebanyak 300 siswa dari tiga sekolah di Yogyakarta mendapat pelatihan tanggap bencana gempa bumi sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini menempatkan pelajar sebagai kelompok yang perlu memahami langkah dasar saat guncangan terjadi, terutama karena wilayah DIY berada di kawasan rawan gempa.
Pelatihan itu melibatkan siswa dari SMA 5 Yogyakarta, SMA 1 Sewon Bantul, dan SMA 1 Patuk Gunungkidul. Materi yang diberikan dirancang agar para peserta tidak hanya mengenal risiko gempa dari sisi teori, tetapi juga dapat mempraktikkan respons yang benar saat menghadapi keadaan darurat.
Simulasi jadi bagian utama pembekalan
Dalam kegiatan tersebut, peserta menerima materi tentang mitigasi awal, teknik penyelamatan, dan penanganan darurat gempa bumi. Siswa dan guru juga ikut dalam simulasi langsung sehingga langkah-langkah keselamatan bisa dipahami lebih mudah dan lebih dekat dengan kondisi nyata.
Pendekatan praktik ini dianggap penting karena situasi gempa menuntut respons yang cepat dan tenang. Dengan latihan seperti ini, kebiasaan aman dapat terbentuk sebelum bencana benar-benar terjadi.
Koordinator Pelaksana Harian Sekber SPAB DIY, Budi Santoso, menjelaskan bahwa sekolah-sekolah peserta berada di wilayah yang memiliki potensi gempa karena dilintasi Sesar Opak. Kondisi itu membuat materi pelatihan disesuaikan dengan ancaman yang memang ada di sekitar mereka.
Sekolah dorong budaya aman bencana
Kepala SMA 5 Yogyakarta, Siti Hajarwati, menilai pelatihan tersebut melengkapi sarana dan prasarana kebencanaan yang sudah tersedia di sekolah. Ia juga menegaskan bahwa pengetahuan kebencanaan perlu diulang secara berkala agar benar-benar membentuk perilaku tanggap saat kondisi darurat.
“Pengetahuan kebencanaan harus terus diulang agar membentuk pemahaman dan perilaku yang tanggap saat terjadi bencana,” ujarnya. Pandangan ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup bertumpu pada fasilitas, tetapi juga pada kebiasaan warganya dalam merespons ancaman.
Salah satu peserta, Rahmat Sholeh Setiawan dari SMA 1 Patuk, merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut. Ia menilai hal pertama yang perlu dilakukan saat gempa adalah tetap tenang, karena kepanikan justru dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Kolaborasi lintas lembaga untuk pendidikan kebencanaan
Edukasi kebencanaan di sekolah ini digelar oleh InJourney Destination Management atau IDM bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY melalui Sekber SPAB. Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa penguatan kesiapsiagaan tidak berjalan sendiri, melainkan melibatkan pemerintah, sekolah, dan pengelola destinasi.
Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati, menegaskan bahwa pelatihan ini dibuat agar pelajar memahami langkah dasar ketika bencana terjadi. Ia juga menilai literasi kebencanaan penting bukan hanya untuk keselamatan pribadi, tetapi juga agar pengetahuan itu bisa diteruskan ke lingkungan sekitar.
“Dengan literasi dan pemahaman yang dimiliki, para siswa dapat menyebarluaskan edukasi kebencanaan kepada lingkungan sekitarnya,” kata Indung. Dengan posisi tersebut, pelajar dipandang sebagai penghubung yang dapat membantu memperluas pemahaman mitigasi di keluarga dan masyarakat.
Target lebih luas menjelang peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta
Program InJourney Community Care ini menargetkan 1.000 peserta dari 10 sekolah di Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta. Target itu diharapkan tercapai sebelum puncak peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta pada Mei 2026.
Agenda pelatihan juga disiapkan untuk menyambut peringatan tersebut, dengan harapan kesiapsiagaan pelajar meningkat lewat edukasi yang lebih terarah. Dalam konteks wilayah DIY yang berada di area rawan gempa, penguatan pengetahuan dasar di sekolah menjadi salah satu langkah penting untuk membangun kesiapan masyarakat sejak dini.
Indung juga menyampaikan bahwa peningkatan kesiapsiagaan bencana ikut mendukung terciptanya ekosistem pariwisata yang aman dan berkelanjutan. Karena itu, pelatihan seperti ini diposisikan bukan hanya sebagai kegiatan sekolah, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun keselamatan kawasan secara lebih luas.
Source: mediaindonesia.com






