43.439 Gempa Sepanjang 2025, Kesiapsiagaan Warga Masih Jadi Ujian Terberat

Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 43.439 kejadian gempa menurut BMKG. Angka itu menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama ketika ancaman gempa dan tsunami terus berulang.

Masalahnya, gempa tidak bisa diprediksi. Karena itu, kekuatan sistem peringatan dini saja tidak cukup jika warga belum memahami apa yang harus dilakukan saat getaran besar datang atau saat peringatan tsunami dikeluarkan.

Risiko besar di wilayah pesisir

Peneliti Senior Bidang Tsunami BRIN, Widjo Kongko, mengingatkan bahwa 60% tsunami terjadi karena dipicu gempa tektonik dan 22% akibat gempa vulkanik. Ia juga menyoroti bahwa dalam rentang 1700 hingga 2022, ada 13 tsunami besar di Samudera Pasifik yang turut berdampak ke Indonesia.

Situasi ini menjadi semakin serius karena 60% kota di Indonesia berada di pesisir pantai yang rawan tsunami. Di wilayah yang sama, banyak pula berdiri PLTU, kawasan industri, dan pusat pariwisata yang bergantung pada keamanan pesisir.

Salah satu alat yang telah dimanfaatkan Indonesia adalah Ina TEWS sejak 11 November 2008. Sistem ini dapat memberi peringatan tsunami kurang dari 3 menit agar masyarakat segera menjauh dari ancaman.

Data kegempaan dan sumber ancaman

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa sumber gempa di Indonesia berasal dari subduksi lempeng atau megatrust serta sesar aktif. Dampaknya tidak berhenti pada guncangan, tetapi bisa berlanjut menjadi longsor, likuifaksi, tsunami, runtuhan batu, dan efek ikutan lain yang memicu korban jiwa.

Wijayanto menyebut antisipasi perlu dilakukan secara konsisten melalui peta rawan bencana, penguatan sistem informasi bencana, dan mitigasi yang mudah dipahami masyarakat. Menurut dia, warga harus tahu bukan hanya ancamannya, tetapi juga langkah yang mesti diambil saat bencana terjadi.

Fakta UtamaDataKeterangan
Kejadian gempa di Indonesia43.439Tercatat sepanjang 2025 menurut BMKG
Segmen megatrust14Berpotensi menyebabkan gempa di atas magnitudo 8,5
Tsunami besar di Samudera Pasifik13Terjadi selama 1700-2022 dan berdampak ke Indonesia
Waktu peringatan Ina TEWSKurang dari 3 menitSudah dimanfaatkan Indonesia sejak 11 November 2008

Widjo menambahkan, keberadaan 14 segmen megatrust di Indonesia berpotensi memicu gempa di atas magnitudo 8,5. Fakta itu memperlihatkan bahwa ancaman besar bukan sekadar teori, melainkan risiko yang masih mungkin muncul kapan saja.

Kesiapan sosial masih lemah

Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, Maryanto, mengatakan sepanjang 2026 telah tercatat 1.189 bencana yang didominasi bencana hidrometeorologi. Namun, ia menilai bencana geologis seperti gempa justru memberi dampak yang lebih besar.

Maryanto menekankan bahwa logistik menjadi elemen penting dalam penanggulangan bencana. Saat gempa merusak infrastruktur, penyaluran bantuan kerap terhambat dan koordinasi lapangan menjadi sangat krusial.

Ia juga menyebut hambatan birokrasi dan ego sektoral masih sering muncul di lapangan. Karena itu, kesiapsiagaan daerah dan masyarakat perlu diwujudkan secara nyata agar dampak bencana dapat ditekan sejak awal.

Direktur Yayasan Skala Indonesia, Tri Nirmala Ningrum, menilai Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan dan sistem pemantauan bencana. Namun, modal itu kerap tidak tampak saat bencana datang karena kesiapan sosial masih lemah.

Tri menegaskan, “Input teknologi dan pengetahuan tidak diimbangi dengan kesiapan secara sosial dalam menghadapi bencana.” Pandangan itu memperlihatkan bahwa edukasi masyarakat masih harus dikejar agar pengetahuan berubah menjadi tindakan nyata.

Antara berdamai atau relokasi

Wartawan senior Saur Hutabarat melihat masyarakat di wilayah rawan bencana pada akhirnya dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama adalah berdamai dengan kenyataan keras itu, sedangkan pilihan kedua adalah mengaku kalah terhadap kekuatan alam.

Jika memilih berdamai, maka bangunan harus tahan gempa dan masyarakat wajib memahami risiko yang mengelilingi tempat tinggalnya. Jika memilih mengaku kalah, relokasi warga dari kawasan yang terancam gempa dan tsunami perlu dilakukan.

Saur menilai pilihan membangun rumah tahan gempa tidak akan mudah dijalankan tanpa banyak kendala. Ia juga menyoroti bahwa masyarakat kerap sadar tinggal di wilayah rawan, tetapi tetap tidak menghiraukan bahayanya.

Dalam situasi ancaman yang terus berulang, kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penentu. Tanpa kesiapan sosial, teknologi, dan koordinasi yang kuat, risiko bencana akan terus menempatkan kelompok yang sama dalam ancaman yang sama.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait