Ketergantungan Pada AI Membuat Pengguna Lebih Cepat Menyerah Saat Ditinggal Tanpa Bantuan

Author: Redaksi Android62

Ketergantungan pada AI di dunia kerja dan ruang belajar ternyata tidak hanya memengaruhi kecepatan menyelesaikan tugas. Riset terbaru menunjukkan, sebagian pengguna justru lebih mudah menyerah ketika harus mengerjakan hal yang sama tanpa bantuan mesin.

Temuan ini muncul dari studi terhadap 350 warga Amerika Serikat yang diminta menyelesaikan persamaan pecahan singkat. Dalam percobaan tersebut, lebih dari separuh peserta diberi akses ke chatbot AI, sedangkan kelompok lain mengerjakan tugas tanpa bantuan apa pun.

Ketika bantuan dihentikan, performa ikut turun

Setelah fase awal selesai, peneliti mencabut akses AI dari peserta yang sebelumnya terbantu chatbot. Hasilnya, kelompok ini tampil lebih buruk dan lebih sering menyerah dibanding peserta yang sejak awal tidak memakai AI.

Pola yang sama juga muncul dalam dua percobaan lanjutan. Bagi peneliti, hal ini menunjukkan bahwa dampaknya tidak terbatas pada satu jenis soal saja, melainkan berkaitan dengan cara orang berlatih dan menyelesaikan tugas ketika bantuan eksternal hadir terus-menerus.

Cara memakai AI menentukan hasil

Riset tersebut juga menemukan bahwa tidak semua pengguna AI terdampak dengan cara yang sama. Ada peserta yang menggunakan chatbot untuk mendapatkan jawaban langsung, sementara yang lain memakainya sebagai petunjuk sebelum melanjutkan pekerjaan sendiri.

Perbedaan itu penting karena kelompok yang menjadikan AI sekadar panduan terlihat lebih siap saat diminta bekerja mandiri. Sebaliknya, pengguna yang menyerahkan hasil akhir kepada AI cenderung lebih kesulitan ketika bantuan tidak lagi tersedia.

Berikut gambaran sederhananya:

  1. AI dipakai sebagai alat bantu berpikir: pengguna masih melatih proses analisis sendiri.
  2. AI dipakai sebagai pengganti proses berpikir: ketahanan saat menghadapi tugas tanpa bantuan cenderung menurun.
  3. Akses AI dihentikan: kelompok yang terbiasa bergantung tampak lebih cepat menyerah.
  4. Latihan mandiri tetap ada: kemampuan untuk bertahan saat kesulitan lebih terjaga.

Risiko yang berkembang perlahan

Para peneliti menggambarkan fenomena ini dengan istilah seperti katak direbus, yaitu perubahan yang berlangsung pelan-pelan hingga sulit disadari. Dalam konteks penggunaan AI, kebiasaan menyerahkan terlalu banyak tugas kognitif ke mesin bisa mengikis ketekunan secara bertahap.

Dampak yang disorot dalam studi tersebut mencakup turunnya ketekunan belajar, melemahnya kemampuan memecahkan masalah, menurunnya daya tahan menghadapi soal sulit, serta meningkatnya rasa tidak sabar saat AI tidak bisa diakses. Efek semacam ini dinilai berbahaya karena tidak selalu terasa dalam jangka pendek.

Rachit Dubey dari University of California menekankan pentingnya latihan bagi kemampuan manusia. “Latihan membuat Anda lebih baik di banyak bidang, dan itu yang diambil AI dari Anda,” ujarnya, sekaligus mengingatkan bahwa kreativitas dan inovasi juga bisa ikut terdampak.

AI tetap berguna jika ditempatkan dengan benar

Studi ini tidak menganjurkan agar AI dijauhi. Yang ditekankan adalah fungsi terbaik teknologi tersebut muncul saat dipakai untuk mendukung proses berpikir, bukan menggantikannya secara penuh.

Dalam praktiknya, AI masih berguna untuk mencari ide awal, memeriksa draf, atau memberi penjelasan singkat. Namun, kemampuan menyusun argumen, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan tetap perlu dilatih agar pengguna tidak kehilangan daya tahan saat menghadapi tugas yang lebih berat.

Relevansi temuan ini juga besar bagi pendidikan dan dunia kerja, terutama di lingkungan yang menuntut konsistensi serta kemampuan menyelesaikan masalah secara bertahap. Jika kebiasaan menyerahkan seluruh proses ke chatbot terus meluas, risiko jangka panjangnya bisa berupa menurunnya kualitas belajar, melemahnya kreativitas, dan berkurangnya kemauan untuk bertahan ketika tantangan datang tanpa bantuan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru