Khalil Al Hayya terpilih memimpin biro politik Hamas pada saat konflik dengan Israel terus berlangsung dan tekanan terhadap jajaran pimpinan kelompok itu meningkat. Ia menggantikan Yahya Al Sinwar yang tewas dalam serangan Israel pada Oktober 2024.
Mandat Al Hayya dijadwalkan berlangsung hingga 2027, ketika Hamas akan menggelar pemilihan pemimpin baru. Pengangkatannya menempatkan tokoh yang lama menangani perundingan gencatan senjata itu pada posisi paling sentral dalam arah politik Hamas.
Negosiator di Tengah Konflik Berkepanjangan
Sebelum menjadi kepala biro politik, Al Hayya dikenal sebagai negosiator utama Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel. Peran tersebut menempatkannya pada salah satu jalur politik terpenting bagi kelompok itu selama perang berkepanjangan.
Ia juga disebut mengelola hubungan Hamas dengan Iran, sekutu regional kelompok tersebut. Tanggung jawab ini menunjukkan keterlibatannya mencakup urusan Gaza sekaligus relasi politik Hamas di kawasan.
Hamas mengumumkan penunjukan Al Hayya dalam pernyataan pada Senin (20/7). Dalam pernyataan yang dikutip AFP dan dilaporkan CNN Indonesia, Hamas menyebutnya sebagai “saudara mujahid” yang dipilih memimpin biro politik gerakan itu.
Serangkaian Kehilangan Keluarga
Kepemimpinan Al Hayya berlangsung setelah ia mengalami sejumlah kehilangan besar akibat serangan Israel terhadap keluarganya. Serangan udara yang menghantam rumahnya pada Mei 2007 menewaskan tujuh kerabat, termasuk dua saudara laki-lakinya.
Setahun setelah serangan tersebut, putranya yang bernama Hamza dan tergabung dalam Brigade Qassam tewas. Dalam serangan-serangan berikutnya, Al Hayya juga kehilangan putra sulung, istri, serta tiga anak mereka.
Al Hayya sendiri dilaporkan selamat dari serangan di Doha, Qatar, pada September 2025. Riwayat serangan itu membuat posisinya sebagai pimpinan Hamas berada dalam bayang-bayang risiko keamanan yang berkelanjutan.
Perjalanan dari Gaza ke Politik Hamas
Al Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960 dan tumbuh setelah Perang Arab-Israel 1967 serta pendudukan Israel. Sejak kecil, ia disebut menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya dan penangkapan sejumlah kerabat.
Ketertarikannya pada politik berkembang menjadi aktivisme terorganisir setelah pertemuannya dengan pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, pada Maret 1980. Ia kemudian tercatat sebagai salah satu anggota pendiri Hamas pada 1987.
Pada masa Intifada pertama, Al Hayya berulang kali dipenjara Israel dan disebut mengalami penyiksaan berat selama penahanan. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dalam gerakan Hamas.
Karier politik formalnya dimulai pada 2006 setelah ia memperoleh kursi di Dewan Legislatif Palestina. Setelah itu, ia memimpin blok parlemen Hamas.
Riwayat Pendidikan
Sebelum aktif penuh dalam arena politik Palestina, Al Hayya menempuh pendidikan Islam di sejumlah negara. Ia juga tergabung dalam Asosiasi Cendekiawan Palestina.
| Tahun | Pendidikan | Institusi/Lokasi |
|---|---|---|
| 1983 | Gelar sarjana studi Islam | Universitas Islam Gaza |
| 1986 | Gelar master | Universitas Yordania |
| 1997 | Doktor ilmu hadits | Sudan |
Latar belakang sebagai negosiator, anggota parlemen, dan penghubung regional menjadi modal utama Al Hayya dalam menjalankan jabatan barunya. Namun, ia juga harus memimpin Hamas di tengah konflik Israel-Palestina serta kebutuhan menjaga jalur politik kelompok tersebut.
