Klaim Lebih Cepat Naik dari Premi, Asuransi Umum Hadapi Tekanan Baru

Industri asuransi umum mencatat tekanan yang kian nyata pada awal tahun ini. Pada kuartal I/2026, klaim mencapai Rp12,92 triliun, naik lebih cepat dibanding pertumbuhan premi yang hanya tumbuh 1,92% secara tahunan menjadi Rp31,11 triliun.

Rasio klaim industri pun ikut memburuk menjadi 41,5%, lebih tinggi dibanding kuartal I/2025 yang berada di level 36,0%. Data itu disampaikan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia dalam paparan kinerja terbaru, dengan catatan angka premi belum memasukkan data satu perusahaan asuransi.

Kenaikan klaim paling besar datang dari properti

AAUI mencatat lonjakan klaim paling besar berasal dari asuransi properti, yang bertambah Rp679 miliar atau 34% secara tahunan. Setelah itu, engineering naik Rp626 miliar dan asuransi kredit meningkat Rp610 miliar.

Pergerakan klaim ini menunjukkan beberapa lini usaha masih menghadapi beban risiko yang berat. Di sisi lain, kenaikan premi di sejumlah produk belum cukup menutup laju klaim yang lebih cepat.

Premi masih tumbuh, tetapi tidak merata

Dari sisi pendapatan premi, asuransi kesehatan menjadi penyumbang kenaikan terbesar secara nominal. Pada Maret 2026, premi lini ini bertambah Rp867 miliar menjadi Rp4,63 triliun atau naik 23,0% secara tahunan.

Asuransi properti juga memberi kontribusi besar dengan kenaikan Rp509 miliar atau 6,5% menjadi Rp8,31 triliun. Kendaraan bermotor menyusul dengan tambahan Rp152 miliar atau 2,9% menjadi Rp5,39 triliun.

Lini UsahaPremi Kuartal I/2026Perubahan YoY
Asuransi KesehatanRp4,63 triliun23,0%
Asuransi PropertiRp8,31 triliun6,5%
Kendaraan BermotorRp5,39 triliun2,9%
Marine HullRp1,08 triliun15,4%
Asuransi KreditRp4,10 triliun3,2%

Masih ada kontribusi dari marine hull yang naik Rp145 miliar atau 15,4% menjadi Rp1,08 triliun. Asuransi kredit juga menambah premi Rp128 miliar atau 3,2% menjadi Rp4,10 triliun.

Sejumlah lini justru tertekan

Di tengah pertumbuhan tersebut, AAUI juga mencatat beberapa lini usaha mengalami penurunan premi. Marine cargo turun 12,6% secara tahunan atau sekitar Rp216 miliar, sementara aviation melemah 15,2%.

Penurunan lain terlihat pada satelit yang terkoreksi 18,5% secara tahunan, energy off shore yang turun 51,5%, dan engineering yang melemah 44,4%. Liability ikut turun 2,1% atau Rp36 miliar, sedangkan personal accident merosot 31,3%.

Heri Supriyadi, Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis, menjelaskan bahwa secara persentase, energy on shore mencatat lonjakan tertinggi sebesar 185,6%. Namun nilai premi lini itu masih relatif kecil, yakni Rp178 miliar atau naik sekitar Rp115 miliar.

Tekanan rasio klaim masih terkonsentrasi di lini tertentu

Dalam paparan AAUI, rasio klaim tertinggi tercatat pada energy off shore sebesar 148%. Engineering menyusul dengan 113%, lalu credit insurance sebesar 102%.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan risiko masih menjadi pekerjaan utama di beberapa lini usaha. AAUI menilai industri perlu terus memperkuat permodalan, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko agar pertumbuhan premi tetap sejalan dengan ketahanan sektor.

Di tengah dinamika itu, industri asuransi umum masih dituntut menjaga kualitas portofolio sambil menghadapi klaim yang bergerak lebih cepat daripada premi pada awal tahun.

Source: finansial.bisnis.com

Berita Terkait