Duel Takeru Segawa melawan Rodtang Jitmuangnon di ONE Samurai 1 menyimpan dua kepentingan sekaligus: perebutan sabuk juara dunia interim kelas terbang kickboxing ONE Championship dan misi menutup karier dengan kemenangan besar. Takeru tidak menyembunyikan targetnya, karena ia ingin mengakhiri pertarungan terakhirnya dengan hasil paling tegas, yakni KO atas lawan yang pernah memberinya luka cepat.
Laga utama di Ariake Arena, Tokyo, pada Rabu (29/4/2026) itu menjadi panggung penting bagi mantan juara K-1 di tiga divisi tersebut. Bagi Takeru, ini bukan sekadar pertandingan perebutan gelar, melainkan momen penentuan bagaimana perjalanan panjangnya di kickboxing akan dikenang publik.
Dendam yang belum selesai
Pertemuan pertama Takeru dan Rodtang terjadi di ONE 172 pada Maret 2025, dan hasilnya meninggalkan jejak yang berat bagi petarung asal Jepang itu. Rodtang menang cepat setelah pukulan kerasnya membuat Takeru tumbang hanya dalam 80 detik, yang menjadi kekalahan tercepat dalam karier Takeru.
Kekalahan tersebut membuat duel ulang ini terasa berbeda dari sekadar rematch biasa. Takeru mengakui bahwa hasil pertemuan sebelumnya masih tertanam kuat dalam ingatannya, terutama karena ia belum pernah kalah secepat itu sepanjang kariernya.
“Ketika bertarung melawannya terakhir kali, saya kalah di ronde pertama. Sepanjang karier, saya tidak pernah kalah secepat itu,” ujarnya.
Ada target lebih besar dari sekadar menang angka
Dorongan Takeru menuju laga ini datang dari keinginan membalas kekalahan sekaligus menutup lembaran karier dengan cara yang ia nilai paling pantas. Ia menyebut api balas dendam itu masih ada, dan pernyataan itu menunjukkan bahwa duel ini membawa muatan emosional yang kuat.
Karena itu, kemenangan angka tampaknya belum cukup bagi Takeru. Ia justru mengincar penyelesaian yang lebih meyakinkan, yaitu KO, sebelum benar-benar menggantung sarung tangan.
Target tersebut memperlihatkan betapa besar bobot pertarungan ini bagi dirinya. Selain memperebutkan gelar interim kelas terbang, laga ini juga menjadi penentu akhir cerita seorang petarung besar asal Jepang di atas ring.
Rodtang tetap membawa ancaman besar
Di sisi lain, Rodtang bukan lawan yang mudah ditebak atau dikendalikan. Ia dikenal sebagai petarung agresif dan eksplosif, sehingga duel ulang ini diperkirakan menghadirkan tempo tinggi dan intensitas yang besar sejak awal.
Kondisi itu membuat partai utama ONE Samurai 1 punya daya tarik tersendiri. Ada unsur rivalitas, ada tekanan emosional, dan ada pula pertaruhan sabuk juara yang membuat setiap momen di ring terasa penting.
Pertemuan dua gaya bertarung yang berbeda juga menambah warna pada laga ini. Takeru datang dengan misi pembuktian, sementara Rodtang membawa reputasi sebagai petarung yang pernah membuat lawannya jatuh begitu cepat.
Tekanan tuan rumah bisa jadi bahan bakar
Bertarung di Tokyo memberi tantangan tambahan bagi Takeru. Namun, tampil di hadapan publik sendiri juga bisa menjadi dorongan besar untuk tampil habis-habisan dan menghapus memori pahit dari pertemuan sebelumnya.
Ariake Arena pun diperkirakan menghadirkan atmosfer yang kuat karena laga ini sudah menarik perhatian sejak diumumkan. Status sebagai pertarungan terakhir dalam karier Takeru membuat duel tersebut terasa lebih emosional dibanding perebutan sabuk pada umumnya.
ONE Championship mendapatkan sajian yang memadukan nilai sportivitas, rivalitas, dan drama dalam satu panggung. Semua sorotan kini tertuju pada apakah Takeru bisa mewujudkan target utamanya dan menutup kariernya dengan kemenangan KO atas Rodtang.
Source: www.bolasport.com






