Hideo Kojima menegaskan bahwa kecerdasan buatan generatif belum pantas diposisikan sebagai pencipta seni sejati. Dalam pandangannya, AI tetap berguna, tetapi perannya baru sebatas membantu pekerjaan rutin dalam proses produksi.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena Kojima kini memberi batas yang lebih tegas terhadap AI. Ia mengatakan bahwa selama dirinya masih hidup, ia tidak melihat generative AI akan mampu menciptakan “true art”.
AI ditempatkan sebagai alat bantu
Kojima menilai AI lebih cocok dipakai untuk mempercepat alur kerja pengembangan ketimbang mengambil alih inti kreativitas. Ia melihat teknologi ini sebagai pendukung yang dapat mengurus tugas-tugas yang sifatnya berulang.
Washington Post menggambarkan pandangan Kojima sebagai AI yang berperan seperti “janitor for creative chores”, sementara manusia tetap harus berada di ruang tempat seni benar-benar dibuat. Dalam kerangka itu, keputusan, rasa, dan intuisi manusia tetap menjadi pusat proses kreatif.
Kritik terhadap kampanye promosi berbasis AI
Sikap tegas tersebut muncul setelah Kojima tampil dalam sesi di acara seni Prada di Chelsea Hotel, New York. Momen itu datang beberapa minggu setelah ia muncul dalam film promosi singkat yang memicu kritik karena memakai pemasaran berbasis AI.
Video promosi itu menampilkan versi digital Kojima bersama sutradara Nicolas Winding Refn dalam petualangan ke luar angkasa. Banyak gamer dan penggemar Kojima menyebut materi tersebut sebagai “AI slop”.
Kritik atas kampanye itu tampaknya membuat Kojima lebih lugas soal batas penggunaan AI. Ia tidak menolak teknologinya sepenuhnya, tetapi ia menolak gagasan bahwa AI sudah siap mengambil alih wilayah seni.
Masih terbuka untuk fungsi teknis
Meski menolak AI sebagai penghasil seni, Kojima masih melihat ruang untuk pemanfaatan praktis. Dalam wawancara sebelumnya, ia mengatakan lebih tertarik menggunakan AI untuk sistem kontrol ketimbang membiarkannya membuat visual.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Kojima menempatkan AI sebagai alat utilitarian. Teknologi itu boleh membantu pekerjaan tertentu, tetapi tidak menjadi inti dari visi artistik yang ia pertahankan.
Jarak yang jelas untuk proyek berikutnya
Dengan sikap yang semakin terukur itu, kecil kemungkinan Kojima memakai karya visual generatif AI dalam proyek terbarunya. Dua judul yang berada dalam jalur berikutnya adalah game horor eksklusif Xbox, OD, dan Physint untuk PlayStation.
Physint sendiri belum diperkirakan rilis sampai 2030. Karena itu, unsur seni dan desain dalam proyek-proyek tersebut tampaknya masih akan bertumpu pada manusia, bukan mesin.
Perubahan nada Kojima, dari yang semula lebih ambigu menjadi jauh lebih tegas, memperlihatkan posisinya terhadap AI di industri kreatif. Ia membuka ruang bagi efisiensi, tetapi tetap menarik garis keras saat pembicaraan masuk ke wilayah seni yang menurutnya harus dijaga manusia.
