Komitmen transaksi dari Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur ke Kalimantan Tengah mencapai Rp2.082.554.327.000. Nilai itu muncul dari forum business matching di Palangka Raya yang mempertemukan pelaku usaha dari dua provinsi sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan antardaerah saling bertemu dalam skema perdagangan yang nyata.
Dari total tersebut, porsi penjualan mencapai Rp1,79 triliun, pembelian Rp193,55 miliar, dan komitmen investasi Rp90 miliar. Pola ini menandakan bahwa misi dagang tidak hanya memindahkan barang dari satu wilayah ke wilayah lain, tetapi juga membangun alur pasok yang lebih saling menguatkan.
Transaksi besar datang dari sektor strategis
Sepuluh transaksi terbesar dalam forum itu didominasi sektor yang punya nilai ekonomi tinggi. Komoditas peternakan menjadi yang paling besar dengan nilai Rp1,21 triliun per tahun, disusul pupuk organik cair Rp227,25 miliar untuk lima tahun, industri hasil tembakau Rp163,74 miliar per tahun, dan sektor kehutanan Rp145,65 miliar per tahun.
Selain itu, ada kontribusi dari perikanan senilai Rp100,74 miliar per tahun. Di daftar yang sama, investasi pabrik gula merah tercatat Rp46 miliar per tahun, perdagangan udang vaname Rp42,5 miliar per tahun, investasi pertambangan emas rakyat Rp24 miliar per tahun, budidaya ikan patin Rp20 miliar per tahun, serta bawang merah Rp16,8 miliar untuk dua tahun.
Arus barang bergerak dua arah
Jawa Timur tidak hanya membawa produk unggulan ke Kalimantan Tengah, tetapi juga menerima komoditas penting dari wilayah tujuan. Udang vaname, kayu bulat, dan rotan termasuk barang yang mengalir ke Jawa Timur dalam pertukaran tersebut.
Pola timbal balik ini menjadi penting karena memperkuat rantai pasok nasional. Ketika arus perdagangan berjalan dua arah, distribusi logistik antarwilayah dapat lebih efisien dan peluang kerja sama lanjutan ikut terbuka.
Forum bisnis yang diarahkan ke transaksi nyata
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa misi dagang tidak boleh berhenti pada promosi daerah. Ia menyebut forum itu harus melahirkan transaksi konkret dan kerja sama yang tetap berjalan setelah pertemuan selesai.
Khofifah juga menilai hasil business matching memperlihatkan bahwa kebutuhan dua daerah memang saling mengisi. “Ini sinergi yang sangat baik,” ujarnya, sambil menekankan pentingnya kolaborasi yang dijaga secara konsisten agar kedua wilayah bisa tumbuh bersama.
Kegiatan tersebut melibatkan penjual dan pembeli dari Kadin, IWAPI, HIPMI, serta Gekrafs. Kehadiran Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran turut memperkuat suasana pertemuan yang memang diarahkan untuk mempertemukan kepentingan perdagangan, investasi, dan hilirisasi.
Peluang investasi ikut dibuka
Di luar perdagangan barang, forum ini juga menampilkan sejumlah peluang investasi. Bidang yang ditawarkan mencakup pembangunan pabrik gula merah tebu, sektor pertambangan, dan budidaya ikan patin sungai.
Arah kerja sama ini menunjukkan bahwa misi dagang tidak hanya membahas jual beli komoditas, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan basis produksi. Bagi Kalimantan Tengah, hal ini memberi kesempatan memperluas pasar bagi komoditas daerah, sementara Jawa Timur memperoleh pasokan bahan baku dan barang pendukung untuk aktivitas industrinya.
Modal ekonomi Jawa Timur ikut diperlihatkan
Dalam forum itu, Khofifah juga memaparkan kinerja ekonomi Jawa Timur yang tumbuh 5,85 persen secara year-on-year pada 2025. Angka tersebut berada di atas pertumbuhan nasional yang mencapai 5,39 persen, dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto sebesar Rp3.403,17 triliun.
Kontribusi Jawa Timur terhadap PDB nasional tercatat 14,40 persen dan 25,29 persen terhadap PDRB Pulau Jawa. Struktur ekonominya ditopang industri pengolahan sebesar 31,32 persen, perdagangan 18,55 persen, dan pertanian 10,74 persen.
Di bidang perdagangan luar daerah, Jawa Timur mencatat surplus neraca perdagangan Rp167,53 triliun pada 2025. Perdagangan antarwilayahnya juga mencapai Rp333,83 triliun, dengan penjualan Rp104,53 triliun dan pembelian Rp229,30 triliun.
Hubungan dagang Jawa Timur dan Kalimantan Tengah sendiri bukan relasi baru. Berdasarkan data 2024, total perdagangan kedua wilayah tercatat Rp14,16 triliun, dengan pembelian dari Kalimantan Tengah mendominasi, sehingga misi dagang ini juga berfungsi menyeimbangkan arus perdagangan yang selama ini sudah berjalan.
Sejak 2019 hingga 2026, Pemprov Jawa Timur telah menggelar 51 misi dagang di 29 provinsi dengan total komitmen transaksi Rp38,32 triliun. Ekspansi pasar luar negeri juga terus dilakukan dengan potensi transaksi mencapai Rp5,896 triliun, memperlihatkan bahwa produk unggulan Jawa Timur tetap bergerak kompetitif di pasar domestik maupun global.
Source: telusur.co.id