Kesalahan yang kerap terjadi saat memilih susu formula bukan hanya soal tidak teliti membaca angka pada tabel nilai gizi. Komposisi bahan di kemasan justru sering luput diperhatikan, padahal di bagian itu zat tambahan termasuk gula tersembunyi atau hidden sugar dapat tersimpan.
Peringatan ini kembali mengemuka seiring peluncuran susu formula AceKid di Indonesia. Merek asal Selandia Baru itu membawa pesan edukasi agar orang tua lebih cermat membaca bahan dan memahami cara memilih susu formula yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Menurut perwakilan AceKid, sekitar 52 persen ibu di Indonesia masih menjadikan nilai gizi sebagai pertimbangan utama saat membeli susu formula. Pilihan itu dinilai wajar karena tabel nutrisi memberi rasa aman, tetapi belum cukup untuk menilai kualitas produk secara menyeluruh.
Masalahnya, tidak semua kandungan tercermin di tabel nilai gizi. Zat aditif dapat hadir dalam komposisi bahan tanpa terlihat jelas pada bagian nutrisi, sehingga orang tua perlu memperhatikan daftar bahan yang tercantum di kemasan.
Salah satu bahan yang disebut perlu dicermati adalah maltodekstrin. Bahan ini kerap digunakan dalam berbagai produk pangan olahan, sehingga pembeli disarankan tidak berhenti pada informasi vitamin dan mineral saja, melainkan juga membaca urutan bahan secara utuh.
“Sebanyak 52 persen ibu di Indonesia melihat nilai gizi saat membeli susu formula. Ini wajar karena memberikan ketenangan. Namun sebenarnya tidak semuanya tercermin di sana,” ujar perwakilan AceKid. Ia juga menegaskan bahwa komposisi perlu dibaca karena zat aditif tidak selalu muncul pada nilai gizi.
Dari daftar bahan itulah, menurut dia, orang tua dapat melihat apakah ada hidden sugar yang terserap dalam produk. Karena itu, pemilihan susu formula tidak cukup hanya mengandalkan label nutrisi yang tampak meyakinkan di kemasan.
AceKid sendiri menilai susu formula yang baik seharusnya berbasis susu segar, memiliki komposisi bahan yang jelas, dan minim zat tambahan. Perusahaan itu juga mengaitkan pemilihan komposisi yang tepat dengan keluhan pencernaan yang masih dialami sebagian anak pengguna susu formula.
Masalah seperti sembelit dan diare disebut dapat muncul bila komposisi nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Karena itu, orang tua diminta lebih teliti sejak awal agar pilihan produk tidak menimbulkan persoalan yang tidak diinginkan.
Di sisi lain, dokter spesialis anak Rini Sekartini menilai persoalan gizi anak bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan isu global. Meski sama-sama menjadi perhatian, tiap negara menghadapi pola masalah yang berbeda sesuai kondisi masing-masing.
Rini menjelaskan, negara maju saat ini lebih banyak berhadapan dengan gizi lebih atau obesitas pada anak. Kondisi itu banyak dipicu konsumsi makanan ultra-proses dan tingginya asupan gula tambahan.
Sebaliknya, negara berkembang masih bergulat dengan kurang gizi, stunting, dan gizi buruk. “Kalau kita lihat di Indonesia, masalah stunting masih menjadi persoalan yang seperti lingkaran setan dan belum selesai sampai sekarang,” ujar Rini.
Ia menilai perhatian terhadap tumbuh kembang anak harus dimulai sejak masa kehamilan hingga remaja. Nutrisi dan stimulasi pada masa awal kehidupan disebut memiliki pengaruh besar terhadap kualitas kesehatan anak di masa depan.
Rini juga menyebut Indonesia kini menghadapi tiga masalah besar sekaligus, yakni stunting, kurang gizi, dan obesitas. Situasi itu membuat edukasi soal pola makan sehat dan pemilihan produk nutrisi yang tepat menjadi semakin penting bagi orang tua.
Dalam kondisi seperti itu, memahami komposisi susu formula menjadi bagian dari literasi gizi keluarga. Orang tua tidak hanya perlu mengecek tabel nilai gizi, tetapi juga menilai bahan tambahan yang ikut masuk ke dalam produk agar pilihan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan anak.
Source: www.beritasatu.com






