Serangan drone Ukraina kini bukan lagi sekadar ancaman di garis depan. Sasaran yang dipilih semakin dalam ke belakang, dan konvoi logistik Rusia di selatan Ukraina mulai merasakan tekanannya.
Dalam sepekan terakhir, BBC Verify mengonfirmasi sedikitnya 14 insiden yang memperlihatkan kendaraan pengangkut makanan, bahan bakar, dan amunisi menjadi target. Rekaman yang dianalisis juga menunjukkan bangkai truk kontainer serta kendaraan militer lain terbakar di sejumlah titik di sepanjang rute penting itu.
Jalur yang diserang menjadi nadi pasokan bagi pasukan Rusia di wilayah pendudukan dan di Crimea. Sedikitnya 10 insiden tercatat di antara perbatasan Rusia dan kota Mariupol yang diduduki, sementara satu serangan lain terjadi di barat daya Melitopol.
Tekanan terhadap rute ini membuat cara Rusia mengatur pergerakan logistik ikut berubah. Cristian Vlas dari kelompok pemantau konflik Acled menyebut serangan itu memaksa Rusia memperpendek konvoi di jalur suplai sebagai langkah cepat untuk mengurangi kerusakan.
Vlas menilai sasaran Ukraina tidak terbatas pada kendaraan logistik biasa. Menurut dia, Kyiv juga berupaya mengacaukan konvoi logistik, pos komando, dan menara komunikasi, termasuk aset yang penting bagi citra kekuatan Rusia.
Di titik lain, Clément Molin dari think tank Atum Mundi mengatakan ia telah mengonfirmasi kehancuran 150 kendaraan yang berada lebih dari 20 kilometer dari garis depan. Ia menilai angka itu kemungkinan hanya mencakup sekitar separuh dari seluruh insiden yang terjadi.
Drone AI memperluas jangkauan serangan
Para ahli menilai perkembangan teknologi drone memberi Ukraina kemampuan untuk menyerang lebih jauh dan lebih presisi. Salah satu contoh yang disebut adalah sistem Hornet yang didukung AI, yang memungkinkan serangan ke arah garis depan dilakukan lebih efektif.
Nick Brown, pakar senjata dari perusahaan intelijen pertahanan Janes, menjelaskan bahwa drone Hornet memakai sistem penargetan AI yang dilatih dari ribuan jam video target militer Rusia yang dikumpulkan selama empat tahun terakhir. Ia menambahkan bahwa sistem itu juga dapat terhubung ke jaringan satelit Starlink agar komunikasi dengan operator tetap berjalan pada jarak yang lebih jauh dan lebih tahan terhadap gangguan elektronik Rusia.
Brown mengatakan Ukraina bisa mengirim ratusan loitering munitions ke area target kasar yang berjarak lebih dari 100 mil. Setelah itu, AI dipakai untuk mengarahkan drone ke target militer Rusia saat target ditemukan.
Dampaknya terasa sampai ke kebutuhan harian pasukan
Robert Tollast, pakar perang darat di Royal United Service Institute, menyebut beberapa brigade dapat membutuhkan hingga 1.000 ton bahan bakar, makanan, amunisi, dan suplai penting lain setiap hari. Karena itu, serangan terhadap truk amunisi yang berada 100 kilometer atau lebih dari garis depan menjadi persoalan serius bagi Rusia.
Tollast juga menyoroti serangan yang memanfaatkan drone jarak lebih jauh untuk menyasar lokasi logistik besar. Kombinasi itu membuat jalur suplai Rusia di selatan semakin rentan dan menyulitkan distribusi kebutuhan tempur.
George Barros dari Institute for the Study of War mengatakan inovasi teknologi Ukraina menunjukkan perang ini bukan kebuntuan. Ia menilai Kyiv kini memakai perlengkapan mekanis dalam manuver taktis yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan 12 bulan lalu.
Barros menambahkan bahwa kemampuan Rusia melakukan infiltrasi akan terus melemah jika kampanye serangan jarak menengah Ukraina mendorong pusat logistik dan basis operasi maju Rusia semakin jauh dari garis depan. Menurut dia, kondisi itu akan mengurangi pasokan bagi infanteri yang menjalankan misi infiltrasi.
Rusia ikut menyesuaikan pergerakan
Unit drone spesialis Ukraina, Brigade 412 Nemesis, mengatakan pada pekan ini bahwa para komandan Rusia telah membatasi pergerakan alat berat di selatan Ukraina. Mereka juga disebut berusaha menghindari drone dengan memanfaatkan ladang dan jalan tanah.
Pemimpin wilayah pendudukan di Kherson yang ditunjuk Rusia, Vladimir Saldo, juga memerintahkan pembatasan lalu lintas sipil di sepanjang rute tersebut. Langkah itu menunjukkan bahwa tekanan serangan drone tidak hanya mengganggu logistik militer, tetapi juga mobilitas di wilayah pendudukan.
Barros menilai keunggulan drone Ukraina bahkan telah menetralkan upaya Rusia untuk meraih keuntungan lewat pemindahan pasukan dalam jumlah besar ke garis depan. Namun ia mengingatkan bahwa keunggulan seperti itu bisa bersifat sementara karena Rusia pada akhirnya kemungkinan akan mengembangkan langkah balasan.
Analisis Institute for the Study of War juga menunjukkan Ukraina untuk pertama kalinya sejak 2023 mulai merebut lebih banyak wilayah daripada yang hilang. Dalam beberapa bulan terakhir, tidak ada pihak yang memperoleh kemajuan berarti, meski perang sudah berlangsung lebih dari empat tahun dan pendudukan Rusia di timur serta selatan Ukraina terus meluas.







