Korban Berjatuhan Lagi Di Pasifik Timur, Serangan Kapal Narkoba AS Picu Pertanyaan Hukum

Author: Redaksi Android62

Dua pria tewas setelah sebuah kapal yang diduga membawa narkoba dihantam ledakan di Pasifik timur. Serangan itu menambah panjang daftar operasi militer Amerika Serikat di jalur laut yang disebut sebagai rute narco-trafficking.

U.S. Southern Command merilis rekaman yang memperlihatkan kapal tersebut mengapung sesaat sebelum ledakan terjadi. Dalam detik-detik berikutnya, asap dan api terlihat membubung dari badan kapal di laut terbuka.

Menurut Southern Command, serangan dilakukan pada hari Rabu oleh Joint Task Force Southern Spear atas arahan komandan SOUTHCOM, Jenderal Francis L. Donovan. Militer menyebut kapal itu dioperasikan oleh organisasi yang telah ditetapkan sebagai teroris.

Operasi di jalur yang sama

Serangan terbaru ini bukan kejadian tunggal. Sehari sebelumnya, pasukan AS juga menyerang kapal lain yang diduga terkait narkoba di wilayah yang sama dan menewaskan satu pria.

Dari serangan sebelumnya itu, dua orang dilaporkan selamat. Southern Command kemudian memberi tahu U.S. Coast Guard agar mengaktifkan sistem pencarian dan penyelamatan untuk para penyintas.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa operasi di Pasifik timur terus berlangsung dengan intensitas tinggi. Dalam jalur laut yang sama, serangan militer berulang kali berujung pada korban jiwa dan respons lanjutan di perairan tersebut.

Kampanye yang makin meluas

Operasi di Pasifik timur menjadi bagian dari kampanye pemerintahan Trump untuk menghancurkan kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di perairan Amerika Latin. Kampanye itu telah berjalan sejak awal September dan tidak hanya mencakup Pasifik timur, tetapi juga Laut Karibia.

Sejauh ini, kampanye tersebut telah menewaskan sedikitnya 196 orang. Pemerintah Trump menyatakan Amerika Serikat sedang berperang melawan kartel narkoba Amerika Latin, yang menurut Gedung Putih bertanggung jawab atas gelombang overdosis mematikan di banyak komunitas AS.

Tekanan soal dasar hukum

Di tengah operasi yang terus berjalan, sorotan atas dasar hukum dan bukti serangan juga semakin menguat. Sejumlah anggota DPR dari Partai Demokrat dan pakar hukum militer mempertanyakan karena tidak ada bukti yang dipublikasikan bahwa kapal-kapal itu benar-benar membawa narkoba.

Kritik itu memunculkan pertanyaan apakah sebagian serangan justru mengenai warga sipil yang tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat. Sementara itu, pengawas Pentagon pekan lalu menyatakan akan mengevaluasi apakah militer mengikuti kerangka penargetan yang sudah ditetapkan saat menyerang kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba.

Kerangka tersebut mencakup enam tahap, mulai dari niat komandan militer, pengembangan target, analisis, keputusan, pelaksanaan, hingga penilaian. Kantor inspektur jenderal Pentagon menegaskan peninjauan dilakukan atas inisiatif sendiri, tetapi tidak akan mengusut legalitas serangan tersebut.

Di tengah perdebatan soal bukti dan dasar hukum, operasi militer di laut masih berlanjut. Serangan terbaru di Pasifik timur menandakan kampanye ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Berita Terbaru