Korea Utara memilih mengirim pesan paling keras justru menjelang kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Pyongyang. Melalui Kim Yo-jong, adik Kim Jong-un, Pyongyang kembali menegaskan bahwa statusnya sebagai negara bersenjata nuklir tidak bisa ditawar.
Pernyataan itu menutup ruang bagi spekulasi bahwa Korea Utara akan melunak dalam waktu dekat. Pesan tersebut juga muncul di saat Beijing berupaya menjaga dan memperkuat hubungan dengan sekutunya di tengah perubahan dinamika kawasan.
Kim Yo-jong, dalam pernyataan yang dimuat kantor berita resmi KCNA, menyebut kebijakan penguatan kemampuan nuklir sebagai keputusan final. Ia menegaskan langkah itu wajib dijalankan tanpa syarat sebagai bagian dari pertahanan diri.
Ia juga menolak dorongan internasional yang mengarah pada denuklirisasi Semenanjung Korea. Menurut dia, Korea Utara tidak akan menoleransi ancaman apa pun yang menyasar status nuklir negaranya.
Sikap itu sekaligus menunjukkan bahwa garis kebijakan Pyongyang tetap sama. Di saat tekanan internasional terhadap program persenjataan mereka terus berlangsung, kepemimpinan Korea Utara belum memperlihatkan tanda bergeser dari posisi tersebut.
Kim Yo-jong bahkan membantah klaim Amerika Serikat bahwa Xi Jinping dan Presiden Donald Trump sempat menegaskan kembali tujuan denuklirisasi dalam pertemuan mereka pada Mei lalu. Ia menyebut pandangan itu tidak sesuai dengan fakta.
Lawatan Xi ke Korea Utara sendiri menjadi yang pertama dalam hampir tujuh tahun. Kunjungan itu dipandang sebagai upaya Beijing memperkuat hubungan dengan sekutu perjanjiannya di tengah situasi kawasan yang terus berubah.
Namun, momen kedatangan Xi justru beriringan dengan unjuk sikap keras dari Pyongyang. Korea Utara tampak ingin menegaskan batas politik yang tidak ingin diganggu, bahkan ketika menerima tamu penting dari Tiongkok.
Dalam beberapa hari sebelum kunjungan Xi, Korea Utara juga memperkenalkan fasilitas baru untuk memproduksi bahan nuklir. Saat meninjau fasilitas itu, Kim Jong-un menyerukan agar arsenal nuklir negaranya ditingkatkan secara eksponensial.
Analis menilai pengungkapan fasilitas pengayaan uranium tersebut dapat dibaca sebagai sinyal bahwa Pyongyang ingin memperkuat posisi tawarnya menjelang pertemuan tingkat tinggi dengan Xi. Langkah itu juga dinilai menjadi pembenaran atas percepatan program pengembangan senjata nuklirnya.
Tidak berhenti di situ, media Korea Selatan Yonhap melaporkan bahwa Kim Jong-un baru-baru ini mengunjungi pabrik amunisi utama. Dalam kunjungan itu, ia memerintahkan peningkatan kapasitas produksi rudal hingga 2,5 kali lipat dalam lima tahun ke depan.
Rangkaian langkah tersebut memperlihatkan bahwa penguatan militer dan nuklir masih menjadi prioritas utama Korea Utara. Di tengah tekanan luar yang terus menguat, Pyongyang justru kembali menegaskan bahwa arah kebijakannya belum berubah.
Source: mediaindonesia.com






