Kospi Terpuruk 6,31 Persen, Saham Samsung dan SK Hynix Kehilangan Daya Dorong

Indeks Kospi ditutup jatuh 6,31 persen pada perdagangan Kamis (16/7/2026), menandai tekanan besar di pasar saham Korea Selatan. Indeks kehilangan 468,81 poin dan berakhir di level 6.820 setelah sempat turun sekitar 8 persen secara intraday.

Tekanan paling terasa pada saham semikonduktor yang selama ini menjadi penopang reli Kospi. Samsung Electronics dan SK Hynix melemah tajam, sehingga pelemahan dua saham berkapitalisasi besar itu cepat menekan keseluruhan indeks.

Samsung Electronics sempat turun sekitar 9 persen dalam perdagangan intraday, sedangkan SK Hynix anjlok hingga 12 persen. Dalam sekitar satu bulan, koreksi Samsung mencapai sekitar 26 persen dan SK Hynix hampir 23 persen.

EmitenPelemahan intradayKoreksi sekitar 1 bulan
Samsung ElectronicsSekitar 9 persenSekitar 26 persen
SK HynixHingga 12 persenHampir 23 persen

Kedua emiten tersebut disebut menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan Kospi sepanjang tahun berjalan. Saat aksi ambil untung berlanjut pada sektor semikonduktor, fondasi penguatan indeks sebelumnya ikut melemah.

Menurut data yang dikutip money.kompas.com, pasar sedang menilai ulang prospek reli saham teknologi yang didorong tema kecerdasan buatan atau AI. Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi aset penting bagi pasar Korea Selatan, sehingga pergerakan keduanya mendapat perhatian luas.

Jarak dari puncak semakin lebar

Pelemahan terbaru memperpanjang fase bearish yang sedang dihadapi Kospi. Posisi indeks kini lebih dari 27 persen di bawah puncaknya pada Juni, ketika Kospi berada di level 9.386.

Meski koreksi berlangsung dalam, performa Kospi sejak awal tahun masih berada di zona positif. Indeks tercatat menguat 2.510 poin atau 58,26 persen secara tahun berjalan.

Perbedaan antara kenaikan tahunan dan penurunan tajam belakangan menunjukkan besarnya perubahan sentimen pasar. Investor tidak hanya menghadapi penjualan saham teknologi, tetapi juga kebijakan moneter yang lebih ketat.

Suku bunga naik menjadi 2,75 persen

Bank of Korea menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75 persen dari sebelumnya 2,50 persen. Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak Januari 2023.

Bank sentral mengambil kebijakan itu untuk menekan inflasi yang meningkat di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Langkah tersebut juga ditujukan untuk mengendalikan tingginya utang rumah tangga.

Suku bunga yang lebih tinggi membuat biaya pinjaman rumah tangga dan perusahaan meningkat. Kondisi itu dapat menekan prospek laba emiten serta mengurangi minat investor terhadap aset berisiko seperti saham.

ETF leverage ikut menjadi perhatian

Volatilitas pasar juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap ETF leverage berbasis saham tunggal. Produk ini dinilai berisiko tinggi karena dapat memperbesar dampak ketika harga saham acuan bergerak tajam.

Financial Services Commission menyatakan akan segera mengumumkan langkah perbaikan untuk instrumen tersebut. Ketua FSC Lee Eog-weon mengatakan regulator sedang meninjau sejumlah upaya untuk memperkuat pengawasan ETF leverage.

“Ini pada dasarnya adalah produk berisiko tinggi,” kata Lee. “Kami telah menjelaskan risikonya kepada investor.”

Pemerintah Korea Selatan belum berencana menghentikan sementara perdagangan ETF leverage karena langkah itu dinilai dapat memicu gejolak pasar yang lebih besar. Banyak produk tersebut menggunakan saham Samsung Electronics dan SK Hynix sebagai aset acuan, sehingga tekanan pada sektor semikonduktor memperbesar guncangan di Kospi.

Source: money.kompas.com
Berita Terkait