Nama Cesc Fabregas mulai mencuat sebagai opsi yang dipertimbangkan Chelsea untuk mengisi kursi pelatih yang ditinggalkan Liam Rosenior. Situasi itu muncul saat klub London Barat tersebut sedang berada dalam tekanan besar akibat performa yang terus merosot di kompetisi domestik.
Chelsea membutuhkan respons cepat setelah lima kekalahan beruntun di Premier League. Dari delapan laga terakhir, mereka hanya meraih satu kemenangan dan posisi klub pun turun ke peringkat delapan klasemen sementara.
Krisis yang memaksa Chelsea bergerak
Rangkaian hasil buruk itu membuat peluang Chelsea untuk mengamankan tiket Liga Champions musim depan ikut menipis. Dalam kondisi seperti ini, manajemen disebut ingin segera menemukan sosok yang bisa memberi dampak cepat dan mengembalikan kestabilan tim.
Fabregas menjadi salah satu nama yang menonjol karena statusnya sebagai mantan gelandang The Blues. Selain memiliki kedekatan dengan Stamford Bridge, ia juga dinilai mulai membangun reputasi yang menjanjikan sebagai pelatih.
Kebutuhan Chelsea saat ini tidak hanya soal taktik. Klub juga mencari figur yang dapat meredam tekanan, memperbaiki hasil, dan menjaga musim mereka tidak semakin terpuruk.
Modal Fabregas bersama Como
Saat ini Fabregas menangani Como, klub milik pengusaha asal Indonesia, Hartono bersaudara. Di bawah arahannya, Como berada di posisi kelima klasemen Liga Italia dan masih memperlihatkan perkembangan yang positif.
Target tampil di Liga Europa disebut lebih realistis untuk Como, tetapi peluang menembus zona Liga Champions belum sepenuhnya tertutup. Situasi itu membuat Fabregas dinilai mampu meningkatkan level permainan tim dalam waktu singkat.
Bagi Chelsea, pencapaian tersebut menjadi sinyal yang cukup penting. Fabregas dianggap tidak datang tanpa bekal, karena ia sudah memperlihatkan karakter pelatih yang mampu membuat tim tetap kompetitif.
Walau begitu, tantangan di Premier League jelas lebih berat. Skala tekanan di Chelsea berbeda jauh dibandingkan proyek yang sedang ia jalankan di Como.
Alasan nama lama kembali dilirik
Hubungan Fabregas dengan Chelsea memberi nilai tambah tersendiri dalam proses pertimbangan klub. Ia sudah mengenal lingkungan internal dan ekspektasi publik Stamford Bridge, sehingga proses adaptasi diyakini bisa berjalan lebih cepat.
Bagi klub yang sedang berada dalam situasi darurat hasil, faktor familiaritas seperti ini dianggap penting. Chelsea membutuhkan pelatih yang tidak hanya bisa bekerja cepat, tetapi juga memahami budaya klub dan beban yang menyertainya.
Karena itu, Fabregas muncul sebagai kandidat yang menarik di tengah pencarian manajer baru. Ia menggabungkan pengalaman sebagai pemain elite dengan awal karier kepelatihan yang mulai mendapat sorotan.
Pandangan yang berbeda soal langkah berikutnya
Meski rumor itu berkembang, Emmanuel Petit memberi pandangan yang tidak sejalan. Mantan pemain Chelsea tersebut justru menyarankan Fabregas menunggu peluang melatih Barcelona, klub yang pernah membesarkannya saat masih muda.
Petit menilai Chelsea belum menjadi tempat yang ideal bagi pelatih yang ingin membangun karier secara stabil. Dalam komentarnya kepada Metro, ia menyebut situasi klub itu kacau dan menilai Barcelona menawarkan jalur yang lebih masuk akal.
“Cesc Fabregas ke Chelsea? Tidak, tidak, tidak. Kalau harus memilih antara Chelsea dan Barcelona, pastinya Anda ke Barcelona, bukan Chelsea. Chelsea itu kacau. Kacau, deh!” kata Petit.
Menurut Petit, Barcelona memberi lingkungan yang lebih tenang meski tekanannya tetap tinggi. Ia melihat peluang berkembang akan lebih jelas jika Fabregas menangani klub yang rutin bersaing di level tertinggi Liga Champions.
Kini, sorotan tertuju pada dua arah yang sama-sama besar bagi Fabregas. Di satu sisi ada proyek Como yang sedang bertumbuh, sementara di sisi lain ada Chelsea yang sedang mencari jawaban cepat untuk menyelamatkan musim mereka.
