Kudus kembali mempertahankan gelar juara MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars setelah mengalahkan Jakarta lewat adu penalti 4-3 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Final kategori U12 dan U14 itu berakhir 0-0 selama 2×20 menit waktu normal sebelum penentuan dilakukan dari titik putih.
Hasil tersebut menegaskan betapa tipisnya jarak kedua tim sepanjang laga. Pertandingan berjalan ketat, disiplin, dan minim peluang bersih karena masing-masing tim sama-sama kesulitan menuntaskan serangan menjadi gol.
Kudus lebih siap saat momen penentuan tiba
Di babak adu penalti, Kudus tampil lebih tenang dan terstruktur. Satu eksekutor mereka memang gagal, tetapi empat penendang lain berhasil menjalankan tugas dan memastikan trofi tetap berada di tangan tuan rumah.
Pelatih all-stars Kudus, Yayat Hidayat, menilai kerja keras para pemain menjadi kunci utama. Ia menyebut anak asuhnya mampu menjalankan rencana permainan dengan baik meski tidak ada gol yang tercipta selama waktu normal.
Yayat juga menyoroti pentingnya persiapan yang dilakukan timnya sebelum turnamen. Menurut dia, latihan intensif membantu Kudus menghadapi situasi terberat, termasuk saat final harus ditentukan lewat penalti.
Sejak awal, tim Kudus sudah menyiapkan para eksekutor untuk mengantisipasi kemungkinan adu penalti. Strategi itu terbukti efektif ketika laga benar-benar berlanjut ke fase tersebut dan Kudus mampu mengeksekusi lebih baik.
Jakarta kesulitan menjaga kesiapan mental
Di sisi lain, pelatih Jakarta, Arifin, mengakui timnya tidak menyiapkan adu penalti sebagai skenario khusus. Ia menyebut kondisi mental para pemain belum sepenuhnya siap ketika laga memasuki penentuan dari titik putih.
Arifin bahkan menggambarkan situasi timnya yang sempat goyah saat memilih penendang. “Jujur tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan tadi pada saat saya memilih penendang, tidak ada yang siap, bahkan sampai ada yang menangis,” ujarnya.
Meski kecewa, Arifin tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya. Ia menilai tim Jakarta sudah tampil berani dan mampu memberi tekanan serius kepada Kudus hingga laga harus diselesaikan lewat adu penalti.
Pertahanan rapat dan cedera pemain memengaruhi jalannya laga
Selama waktu normal, kedua tim sama-sama menjaga kehati-hatian. Pertahanan rapat membuat duel final lebih banyak diwarnai adu disiplin dan konsentrasi daripada peluang berbahaya.
Arifin juga menjelaskan bahwa Jakarta sempat menghadapi kendala besar setelah bek andalan Andien Syahkira mengalami cedera dan diganti pada babak kedua. Situasi itu sempat mengganggu lini belakang, tetapi Jakarta tetap mampu menahan tekanan sampai pertandingan memasuki adu penalti.
MilkLife Soccer Challenge All-Stars menjadi panggung penting bagi pemain putri U12 dan U14 untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Final yang ditutup dengan skor 4-3 itu memperlihatkan betapa tipisnya selisih kekuatan dua tim, sekaligus menunjukkan bahwa Kudus kembali paling siap saat tekanan mencapai puncaknya.
Source: www.suara.com






