Di tengah perubahan kebiasaan belanja dan makan, Baker’s Gram memilih menyesuaikan diri tanpa meninggalkan ciri lama yang membuatnya dikenal. Usaha keluarga ini kini hadir sebagai kafe modern di Gunung Sahari, Jakarta, tetapi fondasinya tetap bertumpu pada resep bakery turun-temurun.
Langkah itu terlihat dari cara Baker’s Gram mengembangkan menu dan bentuk sajian. Produk yang dulu identik dengan kue berukuran besar untuk acara pernikahan kini dibuat lebih kecil, lebih praktis, dan lebih cocok untuk konsumsi harian.
Perubahan tersebut tidak memutus hubungan dengan warisan keluarga Ratna. Sejak lama, keluarganya menjalankan bisnis roti untuk kebutuhan pernikahan, dan Ratna sudah mengenal dunia bakery sejak duduk di bangku SMP saat membantu ibunya di toko roti keluarga.
Di dapur produksi, resep lama tetap menjadi pegangan utama. Salah satu produk awal Baker’s Gram mengacu pada bolu jadul dengan dasar resep Jepang, lalu dikemas ulang agar terasa lebih relevan bagi konsumen sekarang.
Nama usaha ini juga mengalami penyesuaian seiring perkembangan bisnis. Sebelumnya usaha ini dikenal sebagai Golden Cake, lalu berubah menjadi Baker’s Gram agar lebih dekat dengan identitas Ratna sebagai pembuat kue.
Ratna menjelaskan bahwa nama itu punya makna yang sederhana namun lekat dengan dunia baking. “Kenapa gram? Karena hanya baker yang bisa mengatur gram atau takaran,” ujarnya saat ditemui pewarta.
Perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Ratna sempat bekerja di perusahaan swasta sebelum kembali ke dunia kuliner ketika pandemi covid-19 menekan tempatnya bekerja, lalu ia memulai lagi usaha dari kondisi yang nyaris seperti dari nol.
Setelah itu, pesanan perlahan kembali datang ketika relasi bisnis yang sudah terbentuk ikut bergerak lagi. Permintaan bahkan melonjak pada momen Natal dan tahun baru, ketika produksi bisa berjalan hingga 18 jam sehari.
Jangkauan pelanggan Baker’s Gram juga tidak berhenti di Jakarta. Produk mereka dikirim ke luar kota seperti Surabaya dengan layanan pengiriman cepat agar kualitas kue tetap terjaga sampai ke tangan pelanggan.
Produksi bertahap, kualitas dijaga
Pertumbuhan Baker’s Gram ditempuh secara hati-hati. Ratna menambah kapasitas sedikit demi sedikit sambil memastikan usaha tetap berjalan dengan modal yang dikumpulkan bertahap.
Di area produksi, pengaturan oven dibuat ketat agar hasil tetap merata. Satu kali proses baking biasanya menghasilkan sekitar 45 kue dalam susunan 5 x 9, karena jumlah itu dinilai paling ideal untuk menjaga mutu.
“Jumlah ideal tetap 45 agar kualitas tetap terjaga,” kata Ratna. Pola kerja itu menjadi salah satu cara Baker’s Gram mempertahankan konsistensi meski permintaan terus berkembang.
Kini Baker’s Gram tidak hanya menjual roti dan kue. Konsep kafe ikut dihadirkan dengan menu yang lebih beragam, mulai dari japanese square cake, pastry ayam dan sapi, kopi, hingga menu sarapan dan hidangan utama.
Dorongan digital dan legalitas usaha
Di sisi pengembangan usaha, Ratna mendirikan badan hukum PT Genta Tata Boga pada akhir Desember 2024. Legalitas itu melengkapi Nomor Induk Berusaha dari Online Single Submission, sertifikasi halal, dan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan yang sudah dimiliki usahanya.
Ratna juga menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI Jakarta sejak 2024. Dari pembinaan tersebut, ia mengikuti pelatihan digital marketing, e-commerce, dan sertifikasi halal self-declare.
Keterlibatannya dengan BRI berawal dari pertemuan saat mengikuti pelatihan di Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi DKI Jakarta. Baginya, pelatihan digital menjadi penting karena setelah covid-19 penjualan usaha sangat dipengaruhi kanal online.
“Setelah covid-19 memang harus digital,” ujarnya. Karena itu, ia terus membenahi media sosial dan sistem internal agar produk tetap stabil dan berkualitas.
Manfaat pembinaan tidak hanya terasa dari sisi materi, tetapi juga jejaring antar pelaku UMKM. Dari pertemuan dengan sesama pelaku usaha, Ratna mendapat inspirasi baru, termasuk soal kemasan dan cara menjual produk.
Bahkan, sebagian besar tampilan visual Baker’s Gram ia kerjakan sendiri karena tertarik pada desain. “Stiker Baker’s Gram saya desain sendiri,” katanya.
BRI juga membantu promosi lewat live streaming di Rumah BUMN BRI. Menurut Ratna, fasilitas itu memberi promosi gratis dan memperluas jangkauan penjualan, sementara pelatihan rutin sekitar dua jam setiap bulan membuatnya lebih siap membaca perubahan pasar.
Menu bertambah, pelanggan ikut menguat
Pilihan produk Baker’s Gram kini terus berkembang dengan varian bolu kotak seperti vanilla, cokelat, kopi, matcha, dan avocado. Di sisi lain, pastry serta minuman kopi juga ditambah untuk memperkuat identitas kafe.
Perubahan konsep itu ikut tercermin pada kinerja usaha. Omzet Baker’s Gram kini berada di kisaran Rp60 juta hingga Rp70 juta per bulan.
Respons pelanggan memperlihatkan bahwa perubahan tersebut diterima dengan baik. Ridho, salah satu pengunjung, menyebut kopi di Baker’s Gram enak dan suasananya nyaman untuk berlama-lama, terutama saat ia bertemu relasi kerja dan vendor.
“Kalau harga standar kafe sih. Pelayanannya juga bagus,” kata Ridho. Untuk memudahkan transaksi, Baker’s Gram juga menyediakan EDC Merchant dan QRIS BRI agar pembayaran tanpa uang tunai berjalan lebih praktis.
Source: mediaindonesia.com






