Pengumuman SPMB Sekolah Maung di Jawa Barat yang dijadwalkan pada pukul 10.00 WIB menarik perhatian besar karena jumlah pendaftarnya sangat tinggi. Sebanyak 38.478 orang berebut 18.272 kursi murid baru, sehingga persaingan pada hari itu menjadi sangat ketat.
Di saat yang sama, calon murid yang belum lolos masih harus bergerak cepat untuk mengejar jalur lain. Pendaftaran ke SPMB SMA/SMK negeri atau sekolah swasta kerja sama dibuka hingga pukul 00.00 WIB melalui laman spmb.jabarprov.go.id.
Situasi ini membuat banyak orang tua harus memantau dua proses penting dalam waktu berdekatan. Bagi keluarga yang anaknya menunggu hasil Sekolah Maung, tenggat yang berimpitan dengan jalur berikutnya membuat keputusan lanjutan terasa semakin mendesak.
Kebingungan itu muncul karena pengumuman Sekolah Maung bertepatan dengan hari terakhir Pemetaan Calon Murid Baru atau PCMB. Kedua agenda besar tersebut sama-sama berlangsung pada Senin, 8 Juni 2026, sehingga dinilai saling bertabrakan dalam praktiknya.
Ketua Forum Orang Tua Siswa atau Fortusis, Dwi Subianto, menilai tumpukan jadwal itu menunjukkan perencanaan lini masa dari Dinas Pendidikan Jawa Barat yang kacau. Menurut dia, jalur khusus seperti Sekolah Maung semestinya diselesaikan bertahap agar tidak menumpuk dengan proses pemetaan reguler.
Ia juga menyoroti bahwa pengumuman Sekolah Maung yang jatuh pada hari terakhir masa pemetaan memperlihatkan sistem yang belum siap secara teknis. Pandangan itu muncul di tengah keluhan orang tua yang sejak awal sudah kesulitan mengikuti alur pendaftaran.
Fortusis menyebut proses PCMB sempat memunculkan masalah serius pada sistem pendaftaran digital. Data siswa yang baru dipetakan langsung terkunci dan otomatis dianggap sudah mendaftar, sehingga tim IT sempat menghentikan sistem untuk perbaikan.
Menurut Dwi, hingga malam menjelang penutupan dan pengumuman, para orang tua belum melihat tanda kesiapan sistem secara jelas. Karena itu, ia menilai kondisi yang terjadi masih memperlihatkan sistem yang “tambal sulam” dan sedang berada dalam proses desain ulang.
Dwi juga mengkritik kebijakan Disdik Jabar yang dinilainya seperti kejar tayang. Ia menilai sistem baru dipaksakan meski belum matang, sementara sistem lama justru dibuang padahal dianggap sudah stabil.
Dampaknya terasa langsung di lapangan karena orang tua harus menakar peluang anak mereka di dua jalur sekaligus. Dengan jadwal yang saling berhimpitan, kepastian langkah berikutnya menjadi lebih sulit dibaca dan membuat banyak keluarga berada dalam posisi menunggu sambil berjaga-jaga.
Source: www.detik.com






