Laba HGII Melonjak 55,5 Persen, Namun Pendapatan Masih Lebih Rendah Dari Tahun Lalu

Author: Redaksi Android62

PT Hero Global Investment Tbk (HGII) memulai 2026 dengan catatan laba bersih yang cukup kuat. Pada tiga bulan pertama, laba bersih emiten energi terbarukan ini naik 55,5 persen secara kuartalan menjadi Rp 5,83 miliar.

Kenaikan itu tidak hanya datang dari akhir laporan laba rugi, tetapi juga dari perbaikan di sisi operasional. Pendapatan HGII tercatat sebesar Rp 17,96 miliar dan naik 6,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Margin ikut menguat

Kinerja yang membaik terlihat dari sejumlah indikator lain. Laba kotor HGII berada di Rp 14,01 miliar, sementara margin laba kotor tetap stabil di level 78,0 persen.

Laba sebelum pajak juga bergerak lebih tinggi secara kuartalan, naik 44,5 persen menjadi Rp 7,02 miliar. Sejalan dengan itu, margin laba bersih membaik dari 22,2 persen menjadi 32,5 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan perusahaan bekerja lebih efisien dibandingkan kuartal sebelumnya. Bagi pasar, kombinasi laba yang naik dan margin yang menguat menjadi sinyal bahwa pemulihan bisnis sedang berlangsung.

Direktur Utama HGII Robin Sunyoto menyebut tren positif itu lahir dari langkah strategis manajemen untuk meningkatkan efektivitas bisnis. Ia menilai perbaikan di berbagai lini operasional ikut menjaga momentum pemulihan perusahaan.

“Peningkatan kinerja secara kuartalan ini mencerminkan perbaikan operasional dan efektivitas strategi yang telah dijalankan Perseroan. Kami melihat tren positif ini sebagai indikasi pemulihan kinerja yang berkelanjutan,” ujar Robin Sunyoto.

Tekanan tahunan masih terasa

Di balik penguatan kuartalan, HGII belum sepenuhnya lepas dari tekanan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan justru turun dari Rp 20,81 miliar menjadi Rp 17,96 miliar.

Penurunan itu ikut menekan laba bersih yang pada periode yang sama tahun lalu berada di Rp 6,88 miliar. Artinya, meski ada pemulihan dari sisi kuartal ke kuartal, perbandingan tahunan masih menunjukkan tantangan yang nyata.

Manajemen menjelaskan bahwa pelemahan tersebut dipicu rendahnya volume produksi listrik pada Maret 2026. HGII menilai kondisi itu hanya bersifat temporer dan tidak mengubah fundamental bisnis perusahaan.

Perseroan berharap normalisasi operasional pembangkit listrik dapat membantu memperbaiki angka produksi pada kuartal kedua. Perkembangan itu akan menjadi penting karena pendapatan masih menjadi titik yang paling perlu dipulihkan.

Sorotan ke arah jangka panjang

Di tengah dinamika kinerja saat ini, Robin juga menyoroti proyek jaringan transmisi listrik hijau atau supergrid. Infrastruktur itu direncanakan menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa dengan target beroperasi pada 2031.

Menurut Robin, proyek tersebut akan menjadi kunci untuk menyalurkan potensi energi bersih ke pusat permintaan nasional dengan lebih efisien. Ia menilai interkoneksi itu dapat membantu mempertemukan pasokan dan permintaan listrik dalam skala yang lebih optimal.

HGII sendiri berperan sebagai perusahaan induk yang bergerak sebagai Independent Power Producer atau IPP. Perseroan juga terus memperkuat kemitraan strategis dengan PT PLN (Persero) melalui skema Power Purchase Agreement untuk mendukung pasokan energi bersih di Indonesia.

Dengan latar itu, fokus investor kemungkinan akan tertuju pada apakah lonjakan laba kuartalan ini menjadi awal pemulihan yang lebih panjang atau hanya jeda positif di tengah tekanan pendapatan tahunan. Kinerja kuartal berikutnya akan menjadi pembuktian penting bagi arah bisnis HGII setelah awal tahun yang menguat.

Berita Terbaru