Hutama Karya membuktikan bahwa pertumbuhan kualitas masih bisa dijaga di tengah normalisasi pendapatan. Pada tahun fiskal 2025, laba bersih perusahaan naik 15,9 persen menjadi Rp 3,08 triliun, sementara total asetnya mencapai Rp 189,09 triliun.
Fakta itu menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan konstruksi pelat merah tersebut kembali masuk daftar Fortune Southeast Asia 500 edisi 2026. Hutama Karya menempati peringkat 206 secara regional, peringkat 16 di antara seluruh BUMN, dan urutan 40 dari korporasi Indonesia lintas industri yang masuk daftar itu.
Laba dan aset menguat di tengah pendapatan yang normal
Direktur Keuangan Hutama Karya, Eka Setya Adrianto, menilai pencapaian tersebut lebih penting dari sekadar masuk daftar bergengsi. Menurut dia, kualitas kinerja justru terlihat karena pendapatan mengalami normalisasi, tetapi laba tetap tumbuh dan posisi perusahaan pada kategori laba serta aset berada lebih tinggi.
Sepanjang tahun fiskal 2025, Hutama Karya membukukan pendapatan konsolidasi Rp 25,13 triliun atau setara US$ 1.527,3 juta. Di saat yang sama, perusahaan menjaga pertumbuhan aset hingga Rp 189,09 triliun atau setara US$ 11.343,6 juta.
Eka juga menyebut hasil tersebut lahir dari disiplin pengelolaan keuangan, manajemen risiko yang terukur, dan optimalisasi portofolio investasi. Menurutnya, kombinasi itu membuat pertumbuhan perusahaan tetap berkualitas dan ditopang neraca yang kuat.
Rekam jejak tiga tahun berturut-turut
Konsistensi Hutama Karya juga menjadi sorotan karena perusahaan menjadi satu-satunya BUMN sektor infrastruktur yang bertahan di daftar Fortune Southeast Asia 500 selama tiga tahun berturut-turut sejak ajang itu diluncurkan pada 2024. Pencapaian ini menegaskan daya saing perusahaan di tengah persaingan korporasi besar Asia Tenggara.
Dalam penilaian Fortune Southeast Asia 500, Hutama Karya juga menempati peringkat 167 untuk kategori laba dan peringkat 114 untuk total aset. Posisi itu menunjukkan fondasi bisnis perusahaan masih kuat meski tekanan industri konstruksi dan infrastruktur tetap tinggi.
Portofolio proyek menjadi penopang utama
Daya saing tersebut tidak lepas dari portofolio proyek strategis yang dijalankan perusahaan. Hutama Karya menggarap berbagai proyek melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha untuk mendukung konektivitas nasional.
Salah satu proyek besar yang dikerjakan lewat skema itu adalah Jalan Trans Papua. Di sisi lain, perusahaan juga dikenal lewat pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera yang kini telah beroperasi sepanjang 1.042 kilometer.
Portofolio Hutama Karya tidak berhenti pada jalan tol. Perusahaan juga terlibat dalam pembangunan bendungan besar dan sistem penyediaan air minum di berbagai wilayah.
Kehadiran Hutama Karya dalam sejumlah proyek penting di Ibu Kota Nusantara ikut memperlihatkan peran strategisnya. Seluruh portofolio itu diarahkan untuk mempercepat pemerataan pembangunan ekonomi di Indonesia.
Mandat yang lebih luas di kawasan
Sebagai entitas milik penuh Pemerintah Indonesia dan bagian dari ekosistem Danantara, Hutama Karya memikul mandat yang melampaui capaian bisnis semata. Perusahaan turut mendukung hilirisasi industri dan memperkuat jaringan konektivitas di kawasan ASEAN.
Penghargaan Fortune Southeast Asia 500 diserahkan langsung oleh Asia CEO Fortune, Khoon Fong Ang, dan didampingi Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief. Bagi Hutama Karya, pengakuan ini menegaskan posisi perusahaan sebagai pemain besar yang stabil dari sisi laba, aset, dan portofolio infrastruktur.







