Laju IHSG Ke 8.275 Masih Ditopang Dana Asing, Resisten Baru Kini Diuji

IHSG kembali menembus level baru dan bergerak di 8.275 setelah menguat 1,36 persen pada perdagangan Sabtu (16/5/2026). Posisi itu menunjukkan pasar masih nyaman menguji batas psikologis di atas 8.000, sementara minat beli belum menunjukkan tanda melemah.

Kenaikan indeks terjadi saat sentimen domestik dan eksternal sama-sama memberi dorongan. Di pasar global, Dow Jones Industrial Average ditutup di 46.706,58 dan S&P 500 berada di 6.735,13, sehingga suasana perdagangan ikut mendukung aset berisiko di dalam negeri.

Dukungan dana asing masih kuat

Di Bursa Efek Indonesia, aliran dana asing tetap menjadi salah satu penopang utama. Dalam satu sesi perdagangan, net buy asing sempat mencapai Rp657 miliar, sementara nilai transaksi harian juga tercatat stabil di atas rata-rata tahunan.

Kondisi itu menandakan aktivitas pasar masih hidup dan permintaan terhadap saham belum mereda. Respons investor terhadap kebijakan moneter terkini ikut menjaga selera terhadap aset berisiko, termasuk saham domestik.

Area teknis berikutnya sedang diuji

Setelah berhasil bertahan di atas 8.000, IHSG kini masuk fase pengujian kekuatan. Analis CGS International Sekuritas menilai ruang gerak indeks masih terbuka menuju resisten 8.340 hingga 8.405 dalam jangka pendek.

Di sisi bawah, level support berada di 8.210 dan 8.145. Selama indeks bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan lanjutan masih terbuka meski pasar tetap perlu mewaspadai koreksi yang muncul.

Pengamat pasar modal dari CGS International Sekuritas juga melihat IHSG berada dalam fase konsolidasi positif dengan kecenderungan menguat. Ia menilai fundamental emiten masih solid pada kuartal kedua tahun ini.

Sektor besar masih memimpin pergerakan

Fokus pelaku pasar saat ini banyak tertuju pada saham berkapitalisasi besar yang masih menjadi penggerak utama indeks. Sektor perbankan dan energi juga tetap mendominasi pergerakan pasar dan menjaga kontribusi terhadap arah IHSG.

Di tengah kondisi yang dinamis, volume transaksi harian tetap menjadi indikator penting untuk membaca kekuatan tren. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga layak dicermati karena kerap memengaruhi minat investor asing.

Optimisme domestik ikut menjaga sentimen

Kebijakan Bank Indonesia yang sejalan dengan arah bank sentral global memberi kepastian tambahan bagi pelaku pasar. Situasi ini membuat dana tetap bertahan di aset berisiko seperti saham, apalagi ketika sentimen global juga masih mendukung.

Di saat yang sama, saham-saham lapis kedua atau mid-cap mulai menunjukkan tanda-tanda reversal dan menarik minat beli domestik. Pelaku pasar juga terus memantau emiten komoditas seiring perubahan harga energi global yang masih bergerak dinamis.

Bagi investor pemula, diversifikasi portofolio tetap menjadi langkah dasar yang paling relevan. Fokus pada satu sektor dinilai kurang aman ketika pasar bergerak cepat dan suku bunga global masih berfluktuasi.

Analis juga menyarankan aksi ambil untung bertahap jika saham sudah mencapai target harga. Langkah serupa dinilai relevan bila IHSG gagal menembus resisten kuat di 8.405.

Dalam gambaran yang lebih panjang, IHSG pernah berada di 7.373 pada Maret 2024. Lonjakan ke 8.275 pada 2026 menunjukkan penguatan pasar modal Indonesia yang cukup impresif dalam dua tahun terakhir.

Pantauan pasar diperkirakan berlanjut pada pembukaan bursa di awal pekan depan untuk melihat apakah IHSG mampu menjaga posisinya di area resisten baru. Fokus utama tetap pada kemampuan indeks mempertahankan momentum di atas level psikologis 8.000.

Berita Terkait