Lari Masih Mendominasi, Tapi Pekerja Urban Kini Mulai Menganggarkan Olahraga Sebagai Kebutuhan

Olahraga kini tidak lagi berdiri sebagai aktivitas pinggiran bagi pekerja urban. Dari kebiasaan pribadi, aktivitas ini mulai masuk ke pola belanja, relasi sosial, hingga cara mereka mengatur waktu luang.

Perubahan itu terlihat dari riset Populix bertajuk How Sport is Becoming Part of Work and Regular Activity Among Indonesian Workers. Survei terhadap 840 responden ini menunjukkan pekerja kota semakin memandang olahraga sebagai bagian dari gaya hidup, meski kebiasaan tersebut belum sepenuhnya konsisten.

Di balik minat yang meningkat, konsistensi masih menjadi titik lemah. Quantitative Research Manager Populix, Retno Gumelar, menilai pekerja urban sudah paham pentingnya olahraga, tetapi jadwal kerja yang padat sering membuat rutinitas sehat sulit dijaga.

Rata-rata waktu yang dipakai responden untuk berolahraga hanya sekitar 49,75 menit per minggu. Aktivitas itu terbagi ke dalam dua sesi, sehingga terlihat ada niat untuk tetap aktif, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi kebiasaan yang stabil.

Olahraga mulai masuk ke pos pengeluaran bulanan

Perubahan perilaku juga tampak dari cara responden mengalokasikan uang. Sebanyak 64% responden mengaku berlangganan layanan olahraga, baik melalui fasilitas fisik maupun aplikasi digital.

Rata-rata pengeluaran mereka untuk kebutuhan itu mencapai Rp391.844 per bulan. Bahkan, 27% responden menyebut menghabiskan lebih dari Rp500.000 setiap bulan untuk olahraga.

Belanja tersebut tidak berhenti pada akses fasilitas. Dalam satu tahun terakhir, 72% responden membeli pakaian olahraga, 67% membeli sepatu olahraga, dan 30% membeli perangkat kebugaran seperti smartwatch dan fitness tracker.

Produk kesehatan ikut terdorong oleh kebiasaan aktif

Minat pada olahraga juga beriringan dengan konsumsi produk kesehatan. Sebanyak 60% responden rutin mengonsumsi vitamin dan suplemen bermerek dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, 53% responden mengonsumsi probiotik dan produk kesehatan pencernaan, sedangkan 47% memilih minuman isotonik. Pilihan tersebut banyak diarahkan untuk menjaga daya tahan tubuh, menambah energi, dan membantu pemulihan setelah berolahraga.

Bukan hanya soal fisik, tapi juga sosial

Bagi banyak pekerja urban, olahraga kini punya fungsi yang lebih luas. Sebanyak 60% responden menyebut olahraga sebagai me time, sementara 53% menjadikannya quality time bersama pasangan atau keluarga.

Sebanyak 40% responden juga melihat olahraga sebagai cara memperluas jejaring profesional. Retno menyebut perubahan ini sebagai tanda bahwa olahraga sudah melebur ke dalam rutinitas sosial masyarakat kota.

Setelah olahraga, interaksi sering kali berlanjut. Sebanyak 39% responden memilih nongkrong atau ngopi, sedangkan 37% lainnya melanjutkan aktivitas dengan makan bersama teman atau komunitas.

Lari masih dominan, padel mulai menarik perhatian

Dari sisi pilihan aktivitas, lari dan olahraga luar ruangan masih menjadi yang paling kuat dengan angka 67%. Jogging menempati posisi teratas dengan 45%, disusul jalan kaki 33% dan bersepeda santai 26%.

Di sisi lain, olahraga berbasis komunitas dan gaya hidup seperti padel mulai mendapat tempat di kalangan pekerja urban. Riset itu mencatat partisipasi padel mulai melampaui ajang lari dan road biking yang sebelumnya identik dengan tren olahraga populer.

Pola ini menunjukkan pekerja kota cenderung memilih olahraga yang fleksibel, sosial, dan mudah masuk ke ritme harian. Pilihan tersebut sejalan dengan kebutuhan mereka untuk tetap aktif tanpa terlalu mengganggu agenda kerja.

Pasar olahraga masih punya ruang tumbuh

Populix menilai peluang industri olahraga di Indonesia masih terbuka lebar. Konsumen kini semakin memperhitungkan faktor praktis sebelum mengeluarkan uang, mulai dari lokasi fasilitas, fleksibilitas waktu, hingga manfaat yang dirasakan langsung.

Karena itu, penyedia fasilitas olahraga dinilai perlu menawarkan akses yang mudah dijangkau, perlengkapan yang lengkap, dan jadwal yang lebih lentur. Merek produk olahraga dan kesehatan juga perlu hadir lebih dekat dengan kebiasaan harian konsumen.

“Pasarnya sebenarnya belum jenuh. Demand-nya sudah ada dan besar, tinggal bagaimana brand bisa masuk ke rutinitas sehari-hari masyarakat,” kata Retno. Tren ini menempatkan olahraga sebagai bagian dari pola hidup pekerja urban yang makin mengutamakan kemudahan, koneksi sosial, dan pengalaman yang relevan dengan keseharian.

Source: lifestyle.bisnis.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer