Kabin mobil di China kini diperlakukan seperti ruang utama, bukan sekadar tempat duduk di balik kemudi. Bagi banyak pembeli, yang paling menentukan bukan lagi mesin atau tampilan luar, melainkan seberapa nyaman mobil dipakai untuk hiburan, bekerja, dan berinteraksi.
Perubahan cara pandang itu paling kuat terlihat pada kendaraan energi baru. Temuan Counterpoint Research menunjukkan bahwa daya tarik mobil di pasar terbesar dunia tersebut makin bergeser ke layar, konektivitas, dan sistem hiburan.
Mobil berubah jadi ruang hidup digital
Survei terhadap 1.200 responden di Beijing, Shanghai, Shenzhen, Chengdu, dan Chongqing memperlihatkan pola yang menarik. Tujuh dari 10 pemilik mobil di China menganggap kendaraan mereka sebagai “second living room”.
Ruang kabin itu tidak hanya dipakai untuk berpindah tempat. Banyak responden memanfaatkannya untuk bersantai, menikmati media, bekerja, atau berinteraksi dengan orang lain.
Pandangan seperti ini ikut mengubah prioritas pembelian. Infotainment kini berada di atas harga dan desain dalam daftar pertimbangan, dan tujuh dari 10 responden juga menyebut fitur itu sangat penting atau sangat penting saat membeli kendaraan.
Hiburan di kabin makin dominan
Pergeseran selera konsumen juga mengubah arah kompetisi di industri otomotif. Jika sebelumnya pabrikan lebih sering menjual mobil lewat performa, keselamatan, keandalan, dan efisiensi bahan bakar, kini perhatian bergeser ke perangkat lunak dan pengalaman digital di dalam kabin.
Musik, film, podcast, dan audiobook menjadi aktivitas in-car yang paling menarik bagi responden. Konten video pendek juga mencatat salah satu kenaikan penggunaan tahun-ke-tahun terbesar, yang ikut memperkuat posisi mobil sebagai ruang hiburan aktif.
Karena itulah, permintaan terhadap layar besar dan tampilan yang lebih tajam ikut naik. Konsumen juga menuntut prosesor yang lebih cepat serta konektivitas yang lebih baik agar pengalaman di dalam mobil terasa mulus.
Standar baru yang dicari pembeli
Di pasar yang semakin padat, produsen China seperti BYD, NIO, dan XPeng menonjolkan faktor hiburan dan perangkat lunak sebagai keunggulan kompetitif. Nilai jual mobil tidak lagi hanya ditentukan oleh spesifikasi mekanis.
Tekanan serupa juga dirasakan merek global yang bersaing di China, termasuk Tesla, BMW, dan Mercedes-Benz. Ekspektasi terhadap pengalaman kabin yang canggih dan intuitif terus naik.
Survei yang dilakukan bersama Dolby Laboratories menyoroti minat besar pada sistem hiburan imersif berbasis Dolby Vision dan Dolby Atmos. Hasilnya, 86% pemilik kendaraan yang punya pengalaman berbasis Dolby mengaku puas dengan sistem infotainment mereka.
Minat bayar lebih ikut muncul
Banyak responden melihat kabin mobil sebagai ruang hiburan pribadi. Sebagian bahkan menyamakannya dengan pengalaman menonton di bioskop atau mendengarkan konser.
Dari sisi pembelian, minat untuk mengeluarkan uang lebih juga terlihat jelas. Delapan dari 10 responden yang berencana membeli mobil baru dalam enam bulan mengatakan bersedia membayar lebih untuk mobil dengan kombinasi Dolby Vision dan Dolby Atmos.
Pengaruh China merembet ke pasar lain
Arah baru ini tidak berhenti di China saja. Banyak teknologi yang lebih dulu populer di kalangan pembeli EV China, seperti layar sentuh besar dan asisten suara canggih, kemudian menyebar ke model-model di pasar lain.
Di Amerika Serikat, tren serupa mulai terlihat ketika General Motors, Ford Motor Company, dan Rivian memperluas fitur berbasis perangkat lunak, layanan berlangganan, serta upgrade digital di kabin. Namun, pasar China tampak lebih jauh dalam menggabungkan hiburan, produktivitas, dan interaksi sosial ke dalam pengalaman berkendara.
Counterpoint menilai banyak konsumen kini mengaitkan kendaraan dengan wellness, produktivitas pribadi, dan ruang sosial bersama, bukan transportasi semata. Di tengah investasi besar ke software-defined vehicles, persaingan merebut perhatian konsumen pun makin bergeser dari ruang mesin ke layar dashboard.







