Lebanon kembali mengajukan dana darurat tambahan sebesar $331.5 juta untuk merespons krisis kemanusiaan yang kian melebar akibat perang. Dengan kebutuhan baru itu, total pendanaan yang dibutuhkan hingga akhir Agustus naik menjadi $639.9 juta, menurut data pemerintah.
Permintaan ini ditujukan untuk menopang bantuan bagi 1,4 juta orang yang terdampak langsung maupun terpaksa mengungsi sejak eskalasi konflik Israel-Hezbollah pada Maret. Seruan tersebut disampaikan di Beirut kepada para duta besar negara donor, perwakilan organisasi internasional, dan badan-badan PBB.
Tekanan terhadap warga sipil makin berat
Perdana Menteri Nawaf Salam mengatakan keadaan kemanusiaan di Lebanon memburuk dari hari ke hari selama perang berlangsung. Ia menilai kebutuhan yang muncul sekarang tidak lagi cukup ditangani sebagai keadaan darurat semata, melainkan memerlukan pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Salam juga meminta tekanan yang lebih besar kepada Israel agar menghentikan serangan terhadap warga sipil. Ia menyoroti penghancuran rumah, desa, dan situs bersejarah di Lebanon selatan sebagai bentuk hukuman kolektif yang memperparah penderitaan dan kehancuran.
Dalam pernyataannya, Salam juga menuding Iran, yang disebut sebagai patron dan pemasok senjata serta dana utama Hezbollah, telah menyeret Lebanon selatan ke dalam konfliknya dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa perang yang sedang berlangsung bukan untuk kepentingan Lebanon, melainkan terjadi di atas tanah Lebanon dan dengan mengorbankan rakyat Lebanon.
Korban jiwa dan pengungsian terus bertambah
Menteri Kesehatan Lebanon pada Jumat melaporkan 3.558 orang tewas dan 10.870 orang luka-luka sejak 2 Maret. Lebih dari 1,2 juta orang juga telah mengungsi, dan sebagian keluarga disebut terpaksa berpindah sampai lima kali.
Salam memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan akan semakin buruk jika permusuhan terus berlanjut. Ia menilai banyak keluarga pengungsi tidak akan bisa segera kembali ke kota dan desa yang sudah hancur total.
Kepala Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB di Lebanon, Imran Riza, mengatakan dampak terhadap warga sipil “mengkhawatirkan dan memburuk setiap hari”. Ia menyoroti pengungsian berulang, hancurnya rumah dan infrastruktur layanan dasar, serta trauma psikologis yang meluas.
Bantuan darurat dipacu di tengah layanan dasar yang tertekan
Riza menyebut pekerja kesehatan dan tim tanggap darurat menghadapi risiko mati dan luka dalam skala yang mengerikan. Ia juga menggambarkan lingkungan yang berubah menjadi puing, keluarga yang kehilangan rumah dan mata pencarian, serta ketahanan pangan yang memburuk dengan cepat.
Menurut Riza, tambahan $331.5 juta dibutuhkan untuk menopang upaya penyelamatan nyawa bagi 1,4 juta orang hingga Agustus. Ia menegaskan bahwa eskalasi kekerasan harus dihentikan terlebih dahulu karena tidak ada solusi militer.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menilai situasi di Lebanon sangat parah dan terus memburuk. Serangan yang masih berlangsung memicu pengungsian tambahan, membatasi akses kemanusiaan, dan mengurangi peluang warga untuk kembali dengan aman.
OCHA juga menyebut kapasitas tempat perlindungan sudah terlalu penuh, infrastruktur penting rusak berat, dan akses ke layanan dasar makin terbatas. Lembaga itu menambahkan bahwa gangguan mata pencaharian, terutama di sektor pertanian dan perdagangan skala kecil, ikut memperdalam kerentanan ekonomi saat kemampuan bertahan warga terus terkuras.







