Lebaran Menekan Distribusi PHEV Maret 2026, Pengiriman Anjlok ke 345 Unit

Segmen PHEV di Indonesia kembali terdorong turun pada periode distribusi terbaru. Pengiriman wholesales yang tercatat Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia hanya mencapai 345 unit, jauh di bawah capaian sebelumnya yang masih berada di level 663 unit.

Pelemahan itu muncul saat libur panjang keagamaan mengurangi hari kerja efektif di industri otomotif. Dalam kondisi seperti ini, pengiriman dari pabrik ke diler biasanya ikut melambat karena jadwal produksi, distribusi, dan aktivitas penjualan tidak berjalan penuh.

Tekanan musiman terasa di rantai distribusi

Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto, menyebut turunnya volume pengiriman pada periode tersebut berkaitan dengan momen libur besar keagamaan. Ia menegaskan bahwa Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Maret ikut memberi tekanan pada distribusi kendaraan.

Situasi seperti ini bukan hal baru di pasar otomotif nasional. Saat operasional diler menurun dan agenda logistik ikut menyesuaikan, angka wholesales cenderung terkoreksi meski minat terhadap kendaraan elektrifikasi di segmen tertentu tetap ada.

Pergerakan pasar yang naik lalu turun

Sebelum melemah, pasar PHEV sempat menunjukkan perbaikan. Gaikindo mencatat pengiriman sebanyak 502 unit pada Januari, lalu naik ke 663 unit pada bulan berikutnya sebelum turun tajam menjadi 345 unit.

Polanya memperlihatkan bahwa pasar PHEV masih sangat peka terhadap faktor kalender. Begitu jadwal kerja di pabrik dan jaringan penjualan terganggu, volume distribusi langsung mengalami penyesuaian.

Merek China masih memimpin

Di tengah penurunan pasar, merek asal China tetap menjadi penguasa utama segmen PHEV nasional. Chery mencatat pengiriman terbesar dengan 160 unit, meski angka itu memang lebih rendah dibandingkan 457 unit pada bulan sebelumnya.

Kontribusi terbesar Chery datang dari Tiggo 8 CSH sebanyak 105 unit, lalu Tiggo 9 CSH sebanyak 55 unit. Di belakangnya, Geely membukukan 62 unit lewat Starray EM-i Max, sedangkan Jaecoo J7 SHS menyumbang 53 unit.

Wuling juga mengalami koreksi yang cukup besar. Model Darion PHEV turun dari 109 unit menjadi 38 unit, menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada satu merek, tetapi merata di beberapa pemain utama.

Model PHEV dengan distribusi terbesar

  1. Tiggo 8 CSH: 105 unit
  2. Geely Starray EM-i Max: 62 unit
  3. Tiggo 9 CSH: 55 unit
  4. Jaecoo J7 SHS: 53 unit
  5. Wuling Darion PHEV: 38 unit
  6. Jaecoo J8 SHS ARDIS: 21 unit

Data itu menunjukkan kompetisi di antara merek elektrifikasi baru mulai terbentuk. Walau volume PHEV masih kecil dibandingkan pasar mobil nasional secara keseluruhan, dinamika antarprodusen sudah terlihat semakin jelas.

Pasar masih awal, tetapi ruang tumbuh belum tertutup

Penurunan ke 345 unit menegaskan bahwa segmen PHEV masih berada pada tahap awal perkembangan. Pada fase ini, pergerakan bulanan sangat dipengaruhi stok, strategi harga, promosi, kesiapan model baru, dan respons konsumen terhadap teknologi plug-in hybrid.

Ke depan, stabilitas pasokan dan kekuatan jaringan penjualan akan menjadi faktor penting untuk menjaga laju pasar. Selama itu belum konsisten, segmen PHEV masih akan mudah tertekan oleh gangguan musiman yang langsung memengaruhi distribusi kendaraan.

Berita Terkait