Gelombang serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran kembali memicu ledakan di sejumlah kota, memperlihatkan bahwa ketegangan di kawasan Selat Hormuz belum mereda. CENTCOM menyebut operasi gelombang kedua itu menargetkan fasilitas militer Iran yang dipakai untuk mengancam kapal-kapal di jalur air internasional tersebut.
Komando Pusat AS itu menyatakan serangan dilakukan pada pukul 15.00 waktu timur atau ET. Target yang disebut menjadi sasaran adalah kemampuan militer Iran yang dinilai digunakan untuk mengganggu kebebasan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute terpenting bagi perdagangan global.
Ledakan dilaporkan di tiga kota
Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan suara ledakan terdengar di Ahvaz, kota yang berada dekat perbatasan dengan Irak. Kota itu disebut sudah berulang kali menjadi sasaran pasukan AS sejak pertempuran kembali pecah pada bulan ini.
Di Chabahar, ledakan juga terdengar setelah rudal-rudal AS menghantam sebuah menara pengawas angkatan laut. Menara tersebut disebut sebagai fasilitas sipil yang digunakan untuk keamanan maritim serta operasi pencarian dan penyelamatan bagi para nelayan.
Mehr juga melaporkan sejumlah ledakan di Bandar Abbas. Dalam laporan itu, proyektil AS disebut menghantam sebuah lokasi di dekat kota tersebut.
| Kota/Lokasi | Laporan Kejadian | Informasi Tambahan |
|---|---|---|
| Ahvaz | Suara ledakan terdengar | Berada dekat perbatasan dengan Irak |
| Chabahar | Rudal AS menghantam menara pengawas angkatan laut | Fasilitas sipil untuk keamanan maritim dan pencarian-penyelamatan |
| Bandar Abbas | Sejumlah ledakan dilaporkan terdengar | Proyektil AS menghantam lokasi di dekat kota |
Iran menolak membuka negosiasi
Di tengah serangan yang terus berlangsung, Iran menegaskan tidak memiliki rencana untuk bernegosiasi dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran saat ini berfokus pada pertahanan negara setelah serangan ke Teheran.
Dalam pernyataan yang dikutip CNN dan Aljazeera pada Rabu (15/7), Baghaei menegaskan Iran tidak akan mematuhi perjanjian apa pun jika AS melanggar kewajibannya. Ia juga menilai Amerika Serikat telah mengabaikan gencatan senjata sejak awal.
“Saat ini kami tidak memiliki rencana untuk bernegosiasi dan tetap fokus pada pertahanan negara,” kata Esmaeil Baghaei.
Baghaei menambahkan, “Ini adalah sebuah prinsip, dan kami akan terus berpegang teguh pada hal tersebut.”
Rangkaian serangan terbaru ini menunjukkan konflik di sekitar Selat Hormuz masih terus memanas. Di saat yang sama, Iran tetap menutup pintu dialog selama serangan berlanjut dan tudingan pelanggaran kewajiban masih saling dilontarkan.
Source: news.detik.com






