Lensa Kontak Pintar Xpanceo Siap Jadi Komputer Pribadi, Membidik Momen Saat Ponsel Tak Lagi Wajib

Author: Redaksi Android62

Xpanceo menargetkan lensa kontak pintar sebagai perangkat utama untuk membawa augmented reality lebih dekat ke pengguna. Arah ini tidak hanya tentang menampilkan konten digital di mata, tetapi juga tentang membentuk kebiasaan baru yang suatu saat bisa membuat orang merasa cukup tanpa harus bergantung penuh pada ponsel.

Di perusahaan tersebut, gagasan itu dipandang sebagai jalan menuju “momen iPhone” untuk perangkat wearable. Valentyn Volkov, salah satu pendiri Xpanceo, menggambarkan situasi itu sebagai saat seseorang sadar ponselnya tertinggal, tetapi tetap tenang karena kebutuhan dasar masih bisa berjalan lewat lensa pintar yang menempel langsung di mata.

Langkah yang dianggap paling masuk akal

Roman Axelrod, pendiri Xpanceo lainnya, menilai lensa kontak pintar merupakan kelanjutan alami dari evolusi komputasi. Ia membandingkan perubahan besar pada teknologi dengan perjalanan dari komputer berukuran besar menuju smartphone yang jauh lebih ringkas dan mudah dibawa.

Menurut Axelrod, perubahan seperti ini biasanya tidak dimulai dari pasar luas. Adopsi awal cenderung datang dari kelompok kecil pengguna yang lebih siap mencoba perangkat baru, lalu perlahan menyebar jika manfaatnya terasa jelas dan penggunaannya tidak rumit.

Bagi Xpanceo, logika itu menjadi alasan mengapa lensa kontak lebih menarik dibanding jalur lain yang lebih umum, seperti smart glasses. Perusahaan ini melihat pendekatan langsung ke mata sebagai versi yang lebih personal, meski tantangan teknisnya juga lebih rumit.

Pasar awal tidak harus besar

Volkov menyebut ada sekitar 45 juta pemakai lensa kontak di Amerika Serikat. Angka itu penting karena Xpanceo tidak bergantung pada adopsi massal sejak awal, melainkan pada kelompok yang sudah akrab dengan bentuk perangkat tersebut.

Dari sudut pandang perusahaan, basis pengguna itu bisa menjadi titik masuk yang realistis. Dengan begitu, pengembangan lensa pintar tidak harus menunggu pasar besar terbentuk terlebih dahulu untuk menunjukkan potensi.

Visi “momen iPhone” yang dimaksud Xpanceo juga tidak semata soal fungsi tambahan. Yang lebih penting adalah perubahan perilaku, ketika pengguna merasa cukup aman dan nyaman meninggalkan rumah tanpa ponsel karena sebagian kebutuhan sudah dipindahkan ke perangkat yang berada sangat dekat dengan mata.

Teknologi yang bekerja di area paling sulit

Pendekatan Xpanceo berbeda dari smart glasses yang menampilkan layar di depan mata. Lensa kontak pintar membawa tantangan yang lebih berat karena mata manusia tidak dirancang untuk fokus pada objek yang sangat dekat.

Volkov menjelaskan bahwa Xpanceo memakai sistem proyeksi elektro-optik agar sinar dari micro display menjadi paralel sebelum masuk ke mata. Di dalam lensa, teknologi difraksi membantu membentuk gambar yang tajam, sementara lensa yang bergerak mengikuti bola mata menjaga tampilan tetap terlihat dari berbagai arah pandang.

Cara kerja ini juga memberi keuntungan energi. Karena layar berada sangat dekat dengan mata, tingkat kecerahannya tidak perlu setinggi smart glasses, sehingga konsumsi dayanya bisa lebih rendah.

Lensa pintar tetap butuh perangkat pendamping

Meski lensa ini disebut memiliki baterai mini, Xpanceo tidak menempatkan seluruh komputasi di dalam lensa. Sebagian besar pemrosesan data dan suplai daya tetap ditangani oleh perangkat pendamping yang berada dekat dengan pengguna.

Bentuk perangkat itu belum dipastikan, tetapi saat ini digambarkan mirip earpiece Bluetooth lawas. Volkov juga menyebut smartphone atau earbud nirkabel dapat menjalankan peran yang sama lewat koneksi Bluetooth.

Xpanceo turut memakai antena elektromagnetik mikro untuk membantu pengisian daya dan komunikasi tanpa mengganggu area pupil. Sistem itu dipadukan dengan micro batteries dan solid-state batteries agar lensa tetap ringan sekaligus nyaman dipakai.

Jalan masuknya masih bertahap

Untuk pasar konsumen, Axelrod dan Volkov memperkirakan lensa kontak pintar masih butuh sekitar sepuluh tahun atau lebih sebelum siap masuk pasar massal. Karena itu, perusahaan lebih dulu melihat sektor medis, industri, dan enterprise sebagai jalur awal yang lebih realistis.

Axelrod menyebut Xpanceo akan memulai dari B2B sebelum bergerak ke B2C menjelang akhir dekade. Menurutnya, langkah ini juga memberi ruang untuk melewati uji klinis dan proses persetujuan medis yang diperlukan.

Ia menegaskan bahwa banyak perusahaan dengan pendanaan besar gagal saat mengambil jalur serupa. Karena itu, strategi bertahap dinilai lebih aman daripada langsung mengejar pasar konsumen yang luas.

Fungsi kesehatan ikut disiapkan

Selain untuk augmented reality, versi awal lensa pintar Xpanceo juga diarahkan ke fungsi pemantauan kesehatan. Perusahaan ini mengincar pemantauan glukosa 24/7, deteksi awal glaucoma, serta pengamatan kadar obat dengan presisi yang lebih tinggi dibanding kemampuan yang tersedia saat ini.

Di tahap awal, Xpanceo menargetkan demonstrasi working prototype pada ajang awal musim semi berikutnya. Prototipe tersebut disebut akan dipakai langsung oleh Axelrod dan Volkov, setelah perusahaan absen dari Mobile World Congress 2026 karena faktor global di luar kendalinya.

Dengan basis pengguna lensa kontak yang sudah besar dan pendekatan teknis yang terus disiapkan, Xpanceo berharap adopsi bisa berkembang bertahap. Jika arah ini berjalan sesuai rencana, lensa kontak pintar bukan hanya menjadi perangkat AR, tetapi juga platform komputasi yang sangat personal dan terhubung erat dengan kebutuhan harian serta pemantauan kesehatan pengguna.

Berita Terbaru