Lokasi Syuting Lebih Menakutkan dari Hantu, Ini yang Dialami Pemain Munafik

Ketakutan paling besar para pemain Munafik: Melawan Iblis bukan datang dari teror gaib, melainkan dari kondisi syuting yang benar-benar menguras fisik. Adegan di pemakaman asli, hujan dini hari, hingga pengambilan gambar di hutan membuat proses produksi film horor religi itu terasa jauh lebih berat dari yang dibayangkan.

Widi Dwinanda menjadi salah satu pemain yang paling merasakan tantangan tersebut. Ia harus menjalani adegan pocong di pemakaman asli pada dini hari, dalam kondisi hujan dan lokasi yang bukan set buatan.

Aktris itu mengaku khawatir tanah dan air masuk ke hidung saat tubuhnya dibalik. Di saat yang sama, ia juga harus bertahan dalam dingin dan situasi syuting yang tidak nyaman.

Adegan ekstrem di hutan dan pemakaman asli

Selain adegan pocong, Widi juga menjalani pengambilan gambar kecelakaan di hutan hingga subuh. Kombinasi hujan dan jam syuting yang panjang membuat proses itu menjadi salah satu bagian paling berat dalam produksinya.

Faqih Alaydrus mengalami tantangan berbeda saat menjalani film horor pertamanya. Ia harus syuting malam di hutan, termasuk adegan kecelakaan pada sekitar pukul setengah tiga pagi sambil tiduran di tanah dan berguling-guling dalam hujan.

Menariknya, Faqih justru mengaku lebih takut pada ular yang mungkin lewat di lokasi dibandingkan hantu. Pengalaman itu disebutnya membuat ia merasa lebih berani setelah terlibat dalam film ini.

PemainPeranTantangan Syuting
Widi DwinandaAiniAdegan pocong di pemakaman asli saat hujan dan dini hari
Faqih AlaydrusAmirAdegan kecelakaan di hutan pada malam hari sambil berguling di tanah dan hujan
Donny DamaraHaji MansurAdegan tubuh terbakar dalam pertarungan dengan Ustaz Adam

Donny Damara juga menghadapi adegan ekstrem ketika tubuh karakternya terbakar dalam pertarungan dengan Ustaz Adam. Ia menyebut tim stunt sudah menyiapkan prosedur keamanan dengan matang, termasuk gel dingin dan cairan yang mengalirkan api agar adegan tetap aman.

Drama keluarga menjadi inti ketegangan film

Di balik elemen horor, Munafik: Melawan Iblis menempatkan drama keluarga sebagai fondasi cerita. Film ini mengikuti Ustaz Adam, ahli ruqyah yang berhenti menjalankan perannya setelah kehilangan istrinya, Aini.

Situasi berubah ketika ia kembali dibutuhkan untuk menghadapi gangguan gaib yang tidak bisa ditangani orang lain. Widi menjelaskan bahwa hubungan Ustaz Adam dan Aini dibuat sangat kuat agar penonton memahami betapa berat kehilangan yang dialami tokoh tersebut.

Proses pendalaman karakter dilakukan sejak awal bersama Arya Saloka, bahkan sebelum pembacaan naskah dimulai. Hubungan ibu dan anak antara Aini dan Amir juga dibangun lebih dulu supaya dinamika keluarga terasa hidup di layar.

Ruqyah ditampilkan dekat dengan kenyataan

Donny Damara menilai kekuatan film ini tidak hanya terletak pada horornya, tetapi juga pada cara ruqyah ditampilkan. Ia menyebut praktik yang dimunculkan dibuat dekat dengan kenyataan, termasuk bacaan ayat suci dan tajwid yang benar.

Film ini juga ingin menyampaikan perjalanan emosional tentang menerima duka, berdamai dengan kehilangan, lalu tetap melangkah meski takdir tidak sesuai harapan. Widi menekankan bahwa cerita tersebut tidak sekadar menakut-nakuti penonton.

Menurutnya, ada pesan keikhlasan yang kuat di dalam film, sementara Donny berharap penonton mendapat hiburan sekaligus pembelajaran. Karena itu, teror yang hadir di layar dipadukan dengan pengalaman yang mengharukan.

Munafik: Melawan Iblis merupakan adaptasi dari film Malaysia berjudul sama karya Syamsul Yusof. Versi Indonesia ini digarap oleh sutradara Guntur Soeharjanto dan produser Oswin Bonifanz.

Film produksi Unlimited Production yang bekerja sama dengan Skop Official itu dibintangi Arya Saloka, Donny Damara, Widi Dwinanda, Faqih Alaydrus, Acha Septriasa, Nova Eliza, Elvira Devinamira, Dimas Aditya, dan sejumlah pemain lain. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026.

Source: www.suara.com
Berita Terkait